Archive for February, 2013

February 28, 2013

Driving in US

Note: post ini ditulis oleh suami saya 🙂

Awalnya saya skeptis bakal bisa merasakan sendiri pengalaman menyetir selama di US, karena setelah mengamati bulan-bulan awal tinggal di Syracuse, saya sudah memutuskan tidak akan membeli mobil selama di sini.

Kenapa? Syracuse masih terhitung kota yang kecil di sini, walaupun di sini ada mal yang terhitung lumayan besar (kalau kata Wikipedia, nomor 6 terbesar di Amerika), kebun binatang atau tempat-tempat belanja yang dibangun di seputaran kota, saya memperkirakan kami tidak akan setiap hari atau minggu ke sana, jadi membeli mobil bukan pilihan feasible saat ini.

Terkecuali kalo memang garis takdir menentukan lain. Ya kan hun? 😉

Tapi kemudian kami sering diajak road trip oleh teman-teman Indonesia yang juga kuliah di sini. Seringkali menjadi pria seorang diri dalam rombongan, akhirnya saya harus mengambil alih kemudi di separo lebih perjalanan.

Jadilah saya merasakan sendiri:

  • melaju mobil di interstate highway US selama 200 mil nonstop (mungkin kalo dihitung-hitung selama 3 bulan terakhir ini saya udah mengantongi 700 mil kemudi di interstate, terhitung lumayan bagi yang baru pegang setir akhir Desember kemarin)
  • mengemudikan mobil saat waktu menginjak jam 1 pagi di tengah terpaan hujan salju berat (hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya)
  • menyusuri jalan-jalan nan macet di Manhattan, atau
  • tersesat tanpa arah di jalanan tumpang tindih di Pittsburgh.

Merasakan sendiri pengalaman seperti itu, saya akan sedikit cerita hal-hal yang mungkin bisa jadi pelajaran buat teman2 yang lain:

  1. Pertama, soal driving license. Beruntunglah saya memilih tinggal di state NY (New York), menurut teman2 yang sudah di sini sebelumnya, untuk mengemudikan mobil di state ini, kita tidak perlu apply driving license US, bahkan SIM internasional pun tidak perlu. State ini mengakui SIM kita dari negara asal. Walaupun terus terang, saya tidak bisa membayangkan diberhentikan polisi, dan menyerahkan SIM A saya ke dia. Ekspresi dia saat membaca SIM saya seperti apa ya?

    Dari teman lain, saya mendapat cerita saat dia apply driving license US, petugas DMV berkata kepadanya, tidak perlu driving license sini, pakai saja driving license negara kamu. Teman Indonesia ada yang buat driving license US juga, tapi biasanya untuk tujuan mencari asuransi dengan polis yang lebih ramah di kantong 🙂

  2. Driving license tentu saja akan diperlukan saat melintas batas state lain, karena umumnya hanya statestate tertentu saja yang sama dengan state NY. Tapi pengalaman saya si cuek saja, asal jangan sampai melanggar, umumnya tidak akan bermasalah. Saya tidak pernah menemukan razia SIM selama di jalan.

  3. Setir di kiri. Ini sebenarnya tidak banyak berkendala bagi kita. Cuma ada masalah kecil sedikit, dengan setir di kiri, letak handle wiper dan handle untuk lampu sen pun bertukar posisi. Sampai sekarang saya masih sering tertukar, mau kasih sen kiri, malah wiper yang jalan hehehe…

  4. Jalan di sisi kanan. Ini juga bisa cepat beradaptasi. Asal pas ga ngantuk atau lost concentration, sepertinya kecil kemungkinan kita mengambil jalan yang salah.

  5. Penggunaan GPS. Kita tidak perlu kuatir akan tersasar selama berkendara di US, karena GPS yang bisa ditemukan di hampir setiap mobil dan pemetaan jalan yang terbilang lengkap di dalamnya. Problem terjadi, apabila kita menemukan jalan yang tumpang tindih atau flyover yang bersliweran di sana-sini. GPS bisa bingung sendiri kalau bertemu jalan model begini. Seperti yang saya alami di Pittsburgh, harus ekstra hati-hati membaca arah GPS.

  6. Speed limit. Biasanya di dalam kota, speed limitnya hanya berkisar 30 mph, pantas saja di sini jarang ditemui mobil yang ngebut. Sebenarnya bukan karena apa-apa, speed limit diatur seperti itu. Karena di setiap perempatan (walaupun tidak ada traffic light sekalipun) pengemudi diharapkan untuk tidak langsung menerobos, melainkan untuk sesaat berhenti untuk cek jalan dari arah yang lain. Bahkan saat di jalan tidak nampak satu mobil pun.

    “Diharapkan” bisa naik jadi “diwajibkan” apabila terpasang sign stop. Abai dengan ini tilang bisa jadi hal yang tidak anda harapkan (apalagi bila apes ada polisi di sekitaran). Dalam kondisi ini, tidak ada alasan buat ngebut kan?

    Kondisi berbeda di interstate (jalan raya antar kota), speed limit biasanya berkisar 65 mph, bisa lebih rendah apabila ada perbaikan jalan atau banyak kasus kecelakaan di penggalan jalan itu.

    Tapi melaju sampai 75 mph pun sebenarnya tidak mengapa sih. Jangan lebih 90 mph. Seringkali saya melihat mobil ngebut, dan saat bersua kembali biasanya sedang berhenti dekat mobil polisi dengan sirine yang meraung-raung. Saya ketawa saja kalau sudah seperti itu.

  7. Etika di jalan. Terutama di interstate, saya menemukan sesuatu yang lazim terlihat sepanjang jalan. Mobil di sini rata-rata berjalan di jalur paling kanan (pinggir). Hanya apabila mereka akan melewati mobil di depan, akan berpindah ke jalur di sebelah kiri. Setelah merasa tidak perlu menyalip lagi, dengan segera mereka menyalakan lampu sen dan kembali ke jalur paling pinggir.

    Tentu saja saya menemukan beberapa mobil tetap melaju di jalur kiri, dan rata-rata mereka itu bukan penduduk lokal, you know who I mean, right? 😉

  8. Interstate di sini kondisinya mirip kondisi tol Cipularang, dengan kondisi yang sedikit lebih buruk, maklum tidak seperti tol Cipularang yang berongkos, di sini maksimal hanya dipungut 2 dolar setiap 200-an mil (tergantung state government nya sih). Jalan dibangun dengan jalur terpisah memudahkan kita saat overtaking. Fokus dan energi yang biasanya terbuang di momen-momen seperti itu dapat terminimalisir. Yang penting jangan sampai terbuai kenyamanan jalan, lalu kemudian ngantuk 🙂

  9. Jangan sekali-kali menyalakan lampu jauh di saat hujan salju deras. Biasanya untuk melihat arah di depan, lampu jauh dinyalakan. Tapi dalam hujan salju, lampu jauh bisa membuat pandangan terganggu karena butiran salju di kaca depan jelas terlihat dan terkadang silau karena berwarna putih.

    Tips: perhatikan dan tetap di jalur mobil sebelumnya, dan melaju tidak lebih dari 50 mph, saya rasa cukup untuk antisipasi menghadapi belokan.

Advertisements
Tags:
February 27, 2013

Dinosaur Bar-B-Que

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Syracuse sebenarnya saya sudah membaca tentang restoran ini di TripAdvisor dan Yelp. Nah kebetulan kami sedang merayakan satu tahun pernikahan, jadilah saya dan suami menyempatkan diri makan siang di sini.

Dinosaur

that famous (in Syracuse) steak house

me

cek the menu

Menu yang kami pesan datang dalam porsi yang luar biasa besar.. Kalau menurut menu sih 14 oz alias 396 gram. Ajegile, steak di Ranch Kitchen Jakarta yang 300 gram saja sudah membuat kepayahan..

Suami memesan New York Steak Strip dengan side dish macaroni salad dan fresh cut fries. Itu masih ditambah 2 corn breads. Saya sendiri memesan West Texas Rib Eye dengan side dish mac and cheese dan real mashed potato with gravy. Dua-duanya porsi raksasaaaa!

steak

porsi raksasa

Masalah rasa, sejauh ini steak ter-enak yang pernah saya coba. Holycow Steak, Gandy Steak, Ranch Kitchen, semua lewat dibandingkan steak yang ini. Sayang porsinya terlalu besar untuk perut orang Asia. Lihat saja ekspresi suami saya sebelum dan sesudah makan 😀

before

sebelum

Dan ini sesudah

after

after

Tags:
February 15, 2013

Perempuan Pengusaha

Saya senang sekali saat baru-baru ini di-add di Blackberry Messenger oleh teman lama semasa kuliah. Walaupun berbeda jurusan tapi kami tinggal di kost yang sama. Diah, nama teman ini, adalah sesosok yang keibuan. Lembut, ceplas ceplos, nggak tegaan, tetapi di lain pihak justru sungkan-an.

Empat tahun berinteraksi dengannya saya menjadi tahu bahwa orangtuanya punya toko di pasar kampung halamannya. Diah dan keempat saudaranya semua kuliah di PTN, ada yang di ITS, Universitas Brawijaya dan Universitas Jember. Melihat keseharian Diah memang sudah terlihat kebiasaan yang menunjukkan kedisiplinan didikan orang tuanya. Sehari-hari ia sudah bangun pukul 4 pagi. Itupun masih dilanjut belanja ke pasar, memasak, baru dilanjut kuliah dan aktivitas lainnya. Saya? Hehe, terkenal paling mbangkong. Sampai-sampai Diah ini berkomentar tentang saya

“Kamu tu benar-benar kayak cowok ya. Nggak bisa masak dan suka bangun siang..”

Komentar yang polos tapi menohok, hahahaha

Sang Ibunda meninggal dunia beberapa tahun setelah Diah lulus kuliah. Dari chat kami yang cukup intens (biasalah kami berkangen-kangenan setelah 10 tahun tidak pernah ketemu dan baru chatting belakangan ini), Diah bercerita kalau kesehariannya sibuk sekali. Toko peninggalan Ibunda sudah dibeli olehnya, otomatis ia dan sang suami mengelola toko tersebut sepenuhnya. Peran Diah tak selesai sampai di situ, ia juga berstatus pegawai kantoran di sebuah lembaga mikro kelolaan sebuah bank koperasi di Indonesia.

Kesehariannya dimulai dari pagi buta, bangun pukul 3 pagi, bersiap-siap lalu paling lambat pukul 4 pagi sudah buka toko. Di hari-hari tertentu tokonya tutup pukul 7 pagi,  tetapi hari lainnya ia akan buka sampai siang. Setelah mengurus tokonya, pukul 8 pagi ia meneruskan aktivitasnya di kantor sampai sore.

Mengingat karakternya yang nggak tegaan, saya terusik mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana cara ia meng-handle pegawai di tokonya. Saat ini ada 3 orang pegawai yang membantu di toko, 2 perempuan dan 1 laki-laki.

“Ada sih, tak bilangi pelan-pelan biasanya. Kalo ada yang mecucu tak biarin dulu. Pas sendiri baru tak ajak ngomong. Biasa, soalnya masih muda-muda semua. Kadang ada problem sama pacarnya mecucu-nya juga di toko.”

Ketika ditanya apakah ia tidak capek, mengingat pagi berjualan dan siang di kantor, ia menjawab simpel

“Capek, tapi kalau nggak jualan sayang.. Pembelinya banyak.”

Mau tak mau saya tersenyum membaca kalimatnya. Ah ia ternyata masih seperti dulu, polos dan apa adanya.

diah and her mom

diah and her late mom

Tags:
February 13, 2013

(lagi-lagi) Conversation Group

Sejauh yang saya tahu kampus yang rutin menyediakan conversation group melalui International Services-nya baru Syracuse University. Menurut informasi para istri dari teman-teman suami di kota lain, di kampus suami mereka tidak ada kelas conversation. Kalau pun ada kelas conversation, fasilitas tersebut tidak gratis. Sedangkan di sini free.

Saya termasuk beruntung, kelas yang saya ikuti dibina oleh seorang wanita yang ramah sekali. SETIAP pertemuan beliau membawa setermos teh panas dan kue-kue kecil buatannya. Kebiasaan ini mengingatkan saya pada  Lima Sekawan yang acap kali minum teh dengan kue jahe-nya. Group leader saya sejauh ini sudah membawa pumpkin pie, lemon cookies, ginger cookies, ginger bread, pumpkin bread, cinnamon bread, chocolate muffin. Cukup kreatif khan beliau?

Pekan ini beliau menyempatkan diri membawa seperangkat alat prakarya untuk membuat kartu Valentine. Walaupun saya tidak merayakan Valentine, tetap saja saya bersemangat membuat kartu ucapan tersebut. Saya memang suka menempel, menggunting dan melipat walaupun hasilnya tak karuan, haha!

Dan inilah hasilnya!

semua serius dengan perangkat masing-masing

semua serius dengan perangkat masing-masing

Seru sekali ya mejanya..

say cheese

say cheese

Ini kartu saya untuk suami tercinta

tulisan di kartunya berantakan, memang tak berbakat seni.. hiks

tulisan di kartunya berantakan, memang tak berbakat seni.. hiks

Dan ini hasil akhirnyaa.. Kartu buatan kami semua.

love di mana-mana

love di mana-mana

Tags: