Archive for March, 2014

March 29, 2014

Homesick – Sela Ward

Saya mengenal Sela Ward dari serial CSI:NY. Sesungguhnya bukan CSI yang mengangkat namanya karena sebelumnya Sela pernah mendapat penghargaan atas aktingnya di Sisters. Review dari amazon membuat saya mantap mencari buku ini melalui perpustakaan lokal.

Sela memulai buku ini dengan kisah masa muda ayah dan ibunya. Cukup menarik, karena jelas beda kebudayaan dengan orang tua kita di Indonesia. Foto-foto yang ditampilkan juga menarik, gadis kecil dengan gaun musim panas di depan taman bunga rumah mereka. Sela juga bercerita mengenai kehidupan remajanya saat lulus SMA, masuk universitas dan bahkan cinta pertamanya. Sebagai gadis yang aktif dan cantik, tak heran kalau pacarnya juga sosok idola di jamannya.

Secara keseluruhan buku ini lumayan namun tidak terlalu memikat perhatian saya. Di beberapa bab saya benar-benar membaca ala kadarnya, tidak terlalu tertarik akan detil yang disuguhkan. Tetapi yang jelas review akan tulisan Sela ini mendapat sambutan hangat baik di Amazon maupun Goodreads.

Advertisements
Tags:
March 28, 2014

East Coast Trip

Tulisan yang sangat terlambat naik tayang nih. Jalan-jalannya sudah lewat tujuh bulan yang lalu tapi baru ditulis sekarang. Beginilah kalau tergantung mood si empunya blog 😀

Menjelang akhir liburan Summer tahun lalu saya dan suami diajak teman suami di kantor yang tinggal di Maryland untuk jalan bareng ke Florida. Karena pada kunjungan sebelumnya belum sempat ke Universal Studios, jelas kami tak menolak peluang ini. Apalagi ditambah bisa sharing biaya sewa mobil dan sopir bertambah menjadi 2 orang dengan adanya Mas Andri, hehehe. Dalam perjalanan kami menuju Florida, rencananya juga akan mampir ke North Carolina State House, Duke University, University of North Carolina-Chapel Hill, South Carolina State House, kemudian berangkatlah pak supir Syracuse menuju Maryland untuk menjemput keluarga Mas Andri. Jangan heran, suami saya punya misi unik mengumpulkan foto State House (semacam US Capitol, untuk tingkatan State/negara bagian) yang dikunjungi. Jadi kalau orang pada umumnya mengoleksi gantungan kunci atau magnet kulkas, suami mengoleksi foto State House. Sampai dengan saat ini (Maret 2014), total sudah 25 State House yang dia kumpulkan.

Di foto di bawah ini terlihat ada si bocah lucu yang ikutan nimbrung waktu kami akan difoto. Si bocah, Nayla namanya, adalah putri mas Andri yang waktu itu berusia kurang lebih 2 tahun. Nayla ini anteng sekali kalau diajak road trip. Sepanjang perjalanan diisi dengan menyanyi, ngoceh dan yang paling lucu kalau tengok kanan kiri dan melihat saya dan ibunya tidur, Nayla ikut-ikutan tidur.

Setelah menempuh perjalanan 2 hari (hari pertama kami singgah di Raleigh untuk bermalam), sampai lah kami di Orlando pada jam 2.30 pagi. Molornya perjalanan kami juga dikarenakan banyaknya tempat yang ingin disinggahi oleh para suami. Bahkan dalam hujan pun, mereka sempatkan turun untuk berfoto, kami para istri dengan santai menunggu di dalam mobil, hehehe.. Hotel kami di Orlando termasuk sangat nyaman, seperti yang sudah saya tulis di postingan ini.

Disney World Orlando

Berhubung saat kami ke Disney World tahun 2012 lalu tidak sempat mengelilingi seluruh area Magic Kingdom, untuk kesempatan kali ini saya dan suami sepakat hanya masuk ke Magic Kingdom saja. Epcot, khatam. Animal Kingdom, sudah dikelilingi semua. Hollywood Studios apalagi, area park ini adalah yang paling kecil di antara Disney World park lainnya. Selain karena luas sekali, dulu kami tidak sempat mengelilingi semua area Magic Kingdom karena saat itu Magic Kingdom kami kunjungi di hari terakhir dalam trip itu, terbayang kan, setelah mengelilingi 3 park yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil, maka energi kami yang tersisa tidak sebanyak di hari-hari sebelumnya.

Disney, seperti biasa, ramai sekali! Saat kami tiba hari itu saja sudah disambut oleh antrian orang-orang yang akan naik tram menuju gerbang masuk Disney World. Hal yang saya sukai dari properti Disney adalah pengunjung tidak pernah dibiarkan kebingungan di tengah keramaian. Mulai dari masuk area parkir sampai dengan saat membeli tiket, selalu ada cast member Disney yang memandu kita harus ke mana. Begitu pula di antrian tramway ini, ada petunjuk dan garis batas yang jelas yang menunjukkan di mana kita harus antri. Selain itu ada cast member yang memberi aba-aba untuk mengisi antrian yang kira-kira sudah tidak terlalu penuh.

Tiket masuk Disney World kali ini berbeda dengan tiket masuk tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu tiket hanya berupa kertas bergambar, sepertinya mulai tahun 2013 sudah berupa kartu seperti kartu ATM. Tentunya tetap dengan logo khas Disney. Saya mendapat Minnie, sementara suami memilih Donald Duck.

Seperti tahun sebelumnya pula, kami mengambil foto di spot wajib foto Magic Kingdom: Let the Memories Begin!

Universal Studios Orlando

Seperti halnya Disney parks, Universal Studios di Orlando jauh lebih besar dibandingkan Universal Studios di Los Angeles. Park di Orlando terbagi menjadi dua, yaitu Universal Studios Florida® dan Universal’s Islands of Adventure® . Saat itu kami memutuskan untuk membeli 2 Days park-to-park ticket yang memungkinkan untuk mencoba kedua park dalam satu hari dan menghabiskan masing-masing satu hari di satu park yang ternyata cukup untuk mencoba semua ride yang diinginkan. Mungkin ada yang bertanya, kalau begitu buat apa beli park-to-park? Karena kami melihat atraksi di Universal Studios Florida® tidak sebanyak di park yang lain, dan kami ingin bolak-balik antara satu park ke park lainnya. Terbukti opsi ini memang cocok buat kami karena di hari kedua kami memang masuk ke kedua park tersebut.

Saya paling suka di Universal’s Islands of Adventure® untuk alasan yang jelas: Harry Potter! Bukan karena ride-nya menarik atau tergila-gila dengan Harry Potter sih, tapi lebih karena di dalam park ini bisa membeli butter beer. Ternyata rasa butter beer yang dijual enak, pantas saja Harry dan kawan-kawan suka! Di park ini juga terdapat area basah-basahan paling menantang. Bahkan untuk semua amusement park yang pernah kami kunjungi sebelumnya di Amerika. Saya dan suami sampai sengaja membawa baju ganti untuk bisa menikmati basah-basahan di park ini. Jangan kira basahnya hanya sekedar icip-icip. Seluruh badan basah sampai ke dalam-dalamnya! Jadi kalau penasaran mau coba, bawa baju ganti yang lengkap ya. Saya saja sampai juga membawa kerudung ekstra.

Di salah satu ride kami melihat ada papan informasi lucu yang menyimpan berbagai barang yang jatuh dari saku pengunjung saat menaiki roller coaster. Well, saya paling merasa kasihan dengan yang kehilangan kunci mobilnya.

Key West

Terus terang Key West akan luput dari rencana tujuan kami kalau tidak diajak Mas Andri dan keluarga. Kepulauan yang terletak di selatan Florida (otomatis juga jadi poin paling selatan dari seluruh daratan Amerika) ini punya sign atau simbol yang dijadikan tourist attraction. Untuk berfoto di dekat sign itu saja antriannya lumayan banyak. Belum lagi panas yang lumayan menyengat, tidak kalah dengan panasnya Indonesia.

Antrian berfoto bisa dilihat di bawah ini. Satu hal yang saya suka adalah di sini semua mengenal dan mematuhi budaya antri jadi tidak ada yang namanya serobot-serobotan. Memang sih di tempat lain yang jauh lebih touristy juga ada yang suka main sodok, dan dengan cukup malu saya harus mengakui bahwa yang tidak tahu antri itu biasanya orang Asia *tutup muka*.

South Beach, Miami

Pantai di Miami ini terletak di dekat pusat keramaian jadi bukan hal yang aneh kalau melihat orang lalu lalang dengan tanpa pakaian lengkap alias berbikini ria. Bisa dibilang saya dan suami adalah anomali di area ini karena pakai kaos dan celana panjang, hehehe.

Kennedy Space Center, Cape Canaveral

Harga tiket masuk Kennedy Space Center adalah $40, memungkinkan kita untuk ikut bus tour mengelilingi kompleks yang sangat luas ini. Selain general admission yang itu, masih ada tour-tour ekstra lain yang ditawarkan di sana, seperti tour melihat launching pad tempat peluncuran pesawat ulang alik atau tour melihat VAB (Vehicle Assembly Building) tempat pesawat yang sama sedang dirakit, yang juga bangunan 1 lantai tertinggi di dunia. Saat itu sebenarnya para bapak berencana ikut salah satu tour ekstra itu sementara ibu-ibunya menunggu sambil melihat-lihat museum, tapi ternyata tiket extra tour hanya tersisa 1 seat, karena datang sudah cukup siang. Berhubung yang paling bersemangat untuk masuk ke Kennedy Space Center adalah Mas Andri, jadilah seat tersisa itu diambil olehnya sementara saya, suami, Ria dan Nayla (istri dan anak Mas Andri) melihat-lihat museum.

Total perjalanan liburan akhir musim panas ini kurang lebih 10 hari. Yang jelas sih saya dan Ria senang-senang saja di jalan karena sepanjang perjalanan bisa ngobrol, berbagi gosip, ngemil kastengel buatan Ria, iseng mengganggu Nayla yang lucu dan tidur sementara Bapak-bapak di depan harus berkonsentrasi nyetir mengawasi jalan, hehehe.

March 26, 2014

Jamaica and Haiti Trip – Day 5

Cerita sebelumnya di hari pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Hari terakhir yang merupakan day at sea dibuka dengan suami yang semangat menuju lapangan basket dan ikut lomba free throw. Sayang sekali dari 15 peserta, suami menempati peringkat ke-empat. Padahal kalau masuk tiga besar bisa dapat medali tuh, hehehe. Selesai basket, suami mengajak saya untuk segera ke deck tempat di mana FlowRider dilangsungkan. Literally, FlowRider ini benar-benar sama dengan diibaratkan kita sedang ‘menunggang’ air. Ada dua macam gaya surfing yang bisa dicoba saat FlowRider: berdiri (atau menggunakan stand board) dan duduk (dengan boogie board). Perbedaan boogie board dengan stand board (yang biasa dipakai oleh surfer di pantai) adalah berukuran lebih pendek (hanya setengah badan kita) dan lebih lebar (agar bisa dipegang oleh kedua tangan). Diberikan alokasi waktu tertentu untuk kedua gaya, jam 7-11 pagi khusus untuk stand board surfing, kemudian 4 jam berikutnya khusus boogie board surfing, lalu berulang hingga sore harinya. Karena datang mengantri pas pergantian gaya, akhirnya suami saya sempat mencoba kedua gaya tersebut. Tak puas sekali, ia bahkan mencoba sampai 4 kali.

Setelah puas berbasah-basah dan membersihkan diri untuk makan siang, kami menuju ke Windjammer. Makan siang yang cukup cepat karena saya ingin menyaksikan kompetisi World Sexiest Man sementara suami buru-buru ke teater untuk menonton 3D Movie: Mr. Peabody & Sherman. Ternyata kompetisi World Sexiest Man hanya berlangsung 30 menit, menyisakan waktu yang cukup bagi saya untuk ikut ke teater dan menonton film juga walaupun terpisah dari suami. Saya tidak merasa rugi sama sekali terburu-buru mendatangi teater untuk menonton film ini karena ternyata ceritanya menghibur. Lucu dan ringan.

Di hari ini Dani mengalami motion sickness cukup parah. Memang hari itu kapal bergoyang kencang sekali, tidak seperti biasanya. Kata suami saya kemungkinan karena kapal harus mengebut mengejar waktu berlabuh kembali di Fort Lauderdale keesokan paginya. Jadi jarak yang ditempuh saat pergi dalam 2 hari kudu ditempuh hanya dalam 1,5 hari saja saat pulang. Alhasil, kapal ikut bergoyang hebat. Saya sendiri juga sempat agak mual sewaktu berada di kamar di deck 6. Karena merasa kalau di dalam kamar akan makin parah, saya memutuskan segera ke deck lebih tinggi. Ternyata hal itu merupakan keputusan yang tepat karena di deck atas guncangan kapal tidak separah di kamar.

Untung saja saat menjelang makan malam kondisi Dani sudah membaik dan pulih seperti biasa. Rugi donk kalau sampai melewatkan fine dining terakhir, apalagi menu malam itu istimewa: beef rib untuk main course dan untuk penutup ada dessert yang paling enak menurut saya. Saya dan Dani memesan dessert Baked Alaska yang ternyata es krim ditutup dengan lapisan gula dan dibakar. Rasanya jangan ditanya.. Enak banget!

Saat melihat menu yang disajikan saya sempat skeptis melihat menu rib, karena saya anggap itu pasti pork. Tetapi sang waiter meyakinkan kami bahwa rib yang dimaksud adalah beef, jadi langsung saya pesan deh. Suami Saya memesan lobster tail yang ternyata disajikan bersama udang. Ckckck.. kolesterol kuadrat! 

Ini dia yang bernama Baked Alaska. Di bawahnya terdapat strawberry ice cream yang ditutup icing gula dan diberi sentuhan bakar-bakaran.

Malam itu saya dan suami lagi-lagi terpisah dengan Dani karena Dani ingin menonton Broadway show Saturday Night Fever sementara saya ingin menyaksikan Frozen di poolside theatre. Awalnya saya juga mau menonton Saturday Night Fever, tetapi setelah melihat Cruise Compass dan tahu bahwa movie yang diputar adalah Frozen, saya langsung berubah pikiran. Gara-gara review banyak orang yang menyebutkan bahwa Frozen bagus, saya jadi penasaran. Sesuai dugaan, poolside theatre berangin kencang. Saya dan suami sampai harus berselimutkan handuk yang disediakan oleh kapal di pinggir kolam renang. Kalau orang-orang menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuh setelah selesai berenang, malam itu handuk tersebut kami gunakan sebagai selimut. 1.5 jam berikutnya saya bertahan menonton di tengah kencangnya angin laut. Untung tidak sampai masuk angin ya. Kesan tentang Frozen? Saya kok lebih suka Mr. Peabody & Sherman ya ketimbang Frozen :D. Dan saat menonton itu lebih terkesan dengan suasananya, banyak anak kecil yang ikut berdendang sepanjang pemutaran film, cute!

Tags:
March 24, 2014

Jamaica and Haiti Trip – Day 3

Cerita hari pertama dan kedua, silahkan klik link ini dan ini.

Hari ketiga kami tidak merasa perlu untuk terburu-buru bangun dan bersiap-siap karena di samping kapal baru diberikan clearance merapat di Labadee, Haiti agak siang, sekitar jam 9 pagi, pula kami pun merasa hari itu akan menjadi hari yang panjang di pantai. Royal Caribbean rupanya memiliki area pribadi di negara pulau itu, kami pun tidak perlu khawatir memikirkan akan makan siang di mana atau pusing mencari restroom karena pihak kapal sudah menyiapkan dengan baik sesuai standar orang Amerika.

Berdasarkan review yang saya baca, disarankan untuk membawa uang pecahan kecil untuk tip bagi penduduk lokal yang membantu menyiapkan kursi pantai. Pada kenyataannya, saya ternyata bisa menggunakan kursi pantai yang sudah tersedia, sehingga tidak perlu mengeluarkan dana ekstra untuk tip, hihihi.. Memang turis irit nih namanya. Dan ternyata kursi pantai yang kami gunakan sepanjang waktu di sana terletak cukup jauh dari pusat hingar-bingar, sehingga penduduk pun merasa enggan berjalan cukup jauh hingga ke tempat kami, hanya untuk mendapatkan sedikit tambahan uang saku hihihi…

Apa saja yang bisa dilakukan di sini? Yang jelas kami hanya bergolek malas di kursi pantai yang diletakkan persis di pinggiran pantai yang menghadap ke Samudera Atlantik itu. Dipayungi pepohonan khas vegetasi pantai yang banyak ditemui di sana pula. Kami pun merasa nyaman sekedar bersantai di sana. Tetapi rupanya suami saya tidak cukup sabar hanya bermalas-malasan, dan memutuskan untuk berjalan-jalan memutari area tersebut, mengamati obyek-obyek yang pantas dikunjungi dan mengambil foto. Hihihi, pulang-pulang dia pun mengeluh capek dan pegal.

Sampai tiba saatnya makan siang, kami pun berjalan menuju ruangan terbuka yang khusus disediakan oleh Royal Caribbean untuk penumpangnya bersantap siang. Menunya? Ada salad, buah-buahan segar dan macam-macam barbecue ayam dan daging. Sambil makan siang, kami juga dihibur dengan serombongan penduduk pribumi yang memainkan musik dan bernyanyi. Sebagai balasan, mereka menerima tip dari pengunjung dan menawarkan musik mereka yang sudah dikemas dalam bentuk CD, walaupun begitu, kami tidak merasa terganggu sepanjang makan karena mereka cukup sopan tidak mengganggu para pengunjung masih asik bersantap.

Sehabis makan siang, kami pun berjalan-jalan mengelilingi area pribadi tersebut mengikuti arahan suami saya yang sebelumnya sudah mengitari area tersebut. Ternyata di sana ada Artisan’s Market, toko yang menjajakan berbagai macam souvenir lokal, mulai dari tas, pahatan kayu, lukisan, sampai beragam varian rum punch yang rupanya cukup khas dan jamak terdapat di sana.

Selain itu toko yang cukup besar itu, di sana juga terdapat Artisan’s Village, di sini terdapat toko souvenir kecil-kecil yang pedagangnya suka meneriaki kami untuk mampir. Seperti di pasar deh pokoknya. Saya sempat juga diteriaki dari jauh, diajak mampir karena saya menggunakan kerudung dan ternyata si pedagang juga mengaku seorang muslim bernama Abdullah. Tapi terus terang saya tidak berminat lebih jauh, jadi saya hanya berkata sopan bahwa saya ingin melihat-lihat saja dan mungkin nanti akan mampir ke tokonya.

Walaupun kapal akan berangkat pukul 3.30, tetapi semua pengunjung diwajibkan kembali ke kapal pukul 3. Berhubung saya tipe orang yang mudah khawatir, jadi saya mengajak suami dan Dani untuk kembali ke kapal sekitar pukul 2.30. Pengunjung cruise yang lain terlihat capek, bersemangat dan berkulit merah karena terbakar matahari. Kami bertiga terlihat lengket dan berkulit gosong karena sebab yang sama.

Proses masuk kembali ke kapal sama mudahnya seperti saat kami di Mexico. Cukup dengan ikut dalam antrian masuk gerbang sekuriti dan menunjukkan Sea Pass Card, kami bisa langsung kembali ke kapal. Tak ada pemeriksaan paspor atau visa atau apapun. Pemeriksaan justru berlangsung di dalam kapal, di mana lebih ditujukan untuk keamanan dan keperluan bea cukai. Berhubung kami tidak membeli apapun di Haiti, jadi kami bisa melenggang aman.

Setelah kembali ke kamar, mandi dan bersiap makan malam di restoran fine dining, Dani dan suami saya bersemangat untuk mencoba ice skating. Seumur hidup saya belum pernah mencoba ice skating dan bisa dibilang pasrah kalau pada akhirnya nanti jatuh. Di luar dugaan saya tidak jatuh, tapi jangan salah.. Itu karena saya selalu berpegangan di sisi arena 😀

Ice skating membuat saya capek dan menolak ajakan suami untuk menonton live music di teater diikuti dengan pesta bernuansa 70-an di Royal Promenade. Saya memilih leyeh-leyeh di kamar dan  tidur untuk bersiap jalan-jalan di Jamaica keesokan harinya.

Bersambung ke hari keempat dan kelima.

Tags: