Jamaica and Haiti Trip – Day 3

Cerita hari pertama dan kedua, silahkan klik link ini dan ini.

Hari ketiga kami tidak merasa perlu untuk terburu-buru bangun dan bersiap-siap karena di samping kapal baru diberikan clearance merapat di Labadee, Haiti agak siang, sekitar jam 9 pagi, pula kami pun merasa hari itu akan menjadi hari yang panjang di pantai. Royal Caribbean rupanya memiliki area pribadi di negara pulau itu, kami pun tidak perlu khawatir memikirkan akan makan siang di mana atau pusing mencari restroom karena pihak kapal sudah menyiapkan dengan baik sesuai standar orang Amerika.

Berdasarkan review yang saya baca, disarankan untuk membawa uang pecahan kecil untuk tip bagi penduduk lokal yang membantu menyiapkan kursi pantai. Pada kenyataannya, saya ternyata bisa menggunakan kursi pantai yang sudah tersedia, sehingga tidak perlu mengeluarkan dana ekstra untuk tip, hihihi.. Memang turis irit nih namanya. Dan ternyata kursi pantai yang kami gunakan sepanjang waktu di sana terletak cukup jauh dari pusat hingar-bingar, sehingga penduduk pun merasa enggan berjalan cukup jauh hingga ke tempat kami, hanya untuk mendapatkan sedikit tambahan uang saku hihihi…

Apa saja yang bisa dilakukan di sini? Yang jelas kami hanya bergolek malas di kursi pantai yang diletakkan persis di pinggiran pantai yang menghadap ke Samudera Atlantik itu. Dipayungi pepohonan khas vegetasi pantai yang banyak ditemui di sana pula. Kami pun merasa nyaman sekedar bersantai di sana. Tetapi rupanya suami saya tidak cukup sabar hanya bermalas-malasan, dan memutuskan untuk berjalan-jalan memutari area tersebut, mengamati obyek-obyek yang pantas dikunjungi dan mengambil foto. Hihihi, pulang-pulang dia pun mengeluh capek dan pegal.

Sampai tiba saatnya makan siang, kami pun berjalan menuju ruangan terbuka yang khusus disediakan oleh Royal Caribbean untuk penumpangnya bersantap siang. Menunya? Ada salad, buah-buahan segar dan macam-macam barbecue ayam dan daging. Sambil makan siang, kami juga dihibur dengan serombongan penduduk pribumi yang memainkan musik dan bernyanyi. Sebagai balasan, mereka menerima tip dari pengunjung dan menawarkan musik mereka yang sudah dikemas dalam bentuk CD, walaupun begitu, kami tidak merasa terganggu sepanjang makan karena mereka cukup sopan tidak mengganggu para pengunjung masih asik bersantap.

Sehabis makan siang, kami pun berjalan-jalan mengelilingi area pribadi tersebut mengikuti arahan suami saya yang sebelumnya sudah mengitari area tersebut. Ternyata di sana ada Artisan’s Market, toko yang menjajakan berbagai macam souvenir lokal, mulai dari tas, pahatan kayu, lukisan, sampai beragam varian rum punch yang rupanya cukup khas dan jamak terdapat di sana.

Selain itu toko yang cukup besar itu, di sana juga terdapat Artisan’s Village, di sini terdapat toko souvenir kecil-kecil yang pedagangnya suka meneriaki kami untuk mampir. Seperti di pasar deh pokoknya. Saya sempat juga diteriaki dari jauh, diajak mampir karena saya menggunakan kerudung dan ternyata si pedagang juga mengaku seorang muslim bernama Abdullah. Tapi terus terang saya tidak berminat lebih jauh, jadi saya hanya berkata sopan bahwa saya ingin melihat-lihat saja dan mungkin nanti akan mampir ke tokonya.

Walaupun kapal akan berangkat pukul 3.30, tetapi semua pengunjung diwajibkan kembali ke kapal pukul 3. Berhubung saya tipe orang yang mudah khawatir, jadi saya mengajak suami dan Dani untuk kembali ke kapal sekitar pukul 2.30. Pengunjung cruise yang lain terlihat capek, bersemangat dan berkulit merah karena terbakar matahari. Kami bertiga terlihat lengket dan berkulit gosong karena sebab yang sama.

Proses masuk kembali ke kapal sama mudahnya seperti saat kami di Mexico. Cukup dengan ikut dalam antrian masuk gerbang sekuriti dan menunjukkan Sea Pass Card, kami bisa langsung kembali ke kapal. Tak ada pemeriksaan paspor atau visa atau apapun. Pemeriksaan justru berlangsung di dalam kapal, di mana lebih ditujukan untuk keamanan dan keperluan bea cukai. Berhubung kami tidak membeli apapun di Haiti, jadi kami bisa melenggang aman.

Setelah kembali ke kamar, mandi dan bersiap makan malam di restoran fine dining, Dani dan suami saya bersemangat untuk mencoba ice skating. Seumur hidup saya belum pernah mencoba ice skating dan bisa dibilang pasrah kalau pada akhirnya nanti jatuh. Di luar dugaan saya tidak jatuh, tapi jangan salah.. Itu karena saya selalu berpegangan di sisi arena 😀

Ice skating membuat saya capek dan menolak ajakan suami untuk menonton live music di teater diikuti dengan pesta bernuansa 70-an di Royal Promenade. Saya memilih leyeh-leyeh di kamar dan  tidur untuk bersiap jalan-jalan di Jamaica keesokan harinya.

Bersambung ke hari keempat dan kelima.

Advertisements
Tags:

9 Responses to “Jamaica and Haiti Trip – Day 3”

  1. Pantaiiinyaaa,.. ohh no tetehhh, mupeng akuttt sayahhh,…

Trackbacks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: