Archive for May, 2014

May 27, 2014

Apply Visa Schengen di the Consulate General of Germany New York

Beberapa bulan lalu saya cari informasi tentang apply visa Schengen di US tetapi ternyata agak sulit. Jelas saja susah karena warga negara Amerika dan developed country lain khan tidak butuh visa untuk mengunjungi area Schengen. Karena itulah saya tulis saja pengalaman pribadi, barangkali bisa membantu yang sedang cari info sama.

Berdasarkan domisili tempat tinggal ternyata saya harus apply visa Schengen dari the Consulate General of Germany di New York. Sama seperti kedutaan Jerman di Jakarta, slot untuk wawancara visa ternyata tidak mudah didapat. Paling tidak untuk bulan Maret – Mei. Saya mencari slot kosong dari awal April dan ternyata baru dapat untuk akhir April padahal perjalanan saya akhir Mei. Sebenarnya agak khawatir juga karena menurut website proses visa memakan waktu 2 minggu. Kalau ternyata ditolak, saya hanya punya waktu 2 minggu untuk apply visa baru lagi. Tetapi apa boleh buat, rencana perjalanan saya memang mengharuskan untuk punya visa Schengen dari Jerman, jadi pede sajalah untuk book tanggal tersebut. Dokumen yang disertakan cukup standar, yaitu:

  1. Foto. Saya menggunakan jasa http://www.ePassportPhoto.com untuk cetak foto sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
  2. Paspor asli dengan masa berlaku minimal 6 bulan setelah keberangkatan
  3. Visa US yang valid untuk membuktikan bahwa saya penduduk legal di sini
  4. Rekening koran 3 bulan terakhir
  5. Tiket pesawat pulang pergi negara Schengen
  6. Asuransi kesehatan dengan pertanggungan minimal EUR 30.000 atau USD 50.000
  7. Surat keterangan kerja dari kantor
  8. Bukti booking hotel setiap hari selama di negara Schengen
  9. Uang aplikasi sebesar $92/orang. Whew, kalau dirupiahkan lebih mahal dari biaya apply visa di Jakarta nih.

Persyaratan yang membuat saya khawatir adalah rekening koran. Bukan apa-apa, rekening di Amerika khan semuanya sudah online sedangkan dari beberapa pengalaman orang yang apply di kedutaan negara area Shengen lain di Amerika menyebutkan bahwa statement yang dicetak dari internet tidak diterima. Jadilah saya mendatangi kantor cabang bank untuk meminta rekening koran dalam bentuk lain.

Saat saya menyampaikan maksud untuk meminta statement, Personal Banker menyampaikan bahwa seharusnya versi yang dicetak dari internet sudah mewakili. Untuk melegakan hati kami, akhirnya pihak Bank of America bersedia menandatangani hasil cetakan dan personal banker Chase mau membubuhkan cap cabang kantor beserta kartu nama dirinya.

Mengenai surat keterangan kerja, kantor suami saya sudah melengkapi dokumen kami dengan menyertakan surat resmi bertandatangan yang menyebutkan bahwa suami harus kembali bekerja setelah studi selesai. Jadi ngga akan ada yang namanya kabur setelah sekolah selesai, hihihi. Sayang surat tersebut bertanggal 2012, tahun kami berangkat. Untung saja pihak kedutaan tidak mempermasalahkan.

Di hari wawancara saya dan suami tiba 2 jam lebih cepat dari waktu perjanjian. Petugas yang mengecek di lobi ternyata ramah dan suka bercanda. Lain ceritanya dengan petugas penjaga pintu masuk, mereka sama sekali tak tersenyum atau menyapa. Belum lagi dengan pengamanan yang ketat. Kami memasuki ruangan double pintu di mana pintu kedua tidak akan bisa dibuka kalau pintu pertama belum ditutup. Lapisan kaca di pintu terlihat tebal, saya yakin itu kaca tahan peluru.

Setelah melewati double pintu dengan sistem pengamanan ketat, kami digiring masuk lift. Lagi-lagi lift ini tidak dapat beroperasi kalau tidak ada yang mendampingi kami karena untuk menjalankannya harus ada proses otorisasi terlebih dahulu. Well, kedutaan Amerika di Jakarta saja tidak sampai begini. Saat menunggu kami mendengar beberapa nama dipanggil namun tak ada sahutan. Beberapa menit kemudian ternyata nama kami dipanggil.

Proses wawancara lumayan lama, sekitar 30 menit, namun terbantu dengan keramahan si petugas. Seluruh dokumen kami terutama booking hotel diperiksa dengan teliti. Sepertinya petugas ini benar-benar ingin memastikan kalau kami langsung pulang dan tidak mencari kerja di sana. Selain itu juga dipastikan bahwa kami paling lama di Jerman dan bukan di negara lain.

Si petugas sempat bertanya mengapa kami langsung lanjut ke Munich dan tidak bermalam di Frankfurt terlebih dahulu. Suami menjawab bahwa ia ingin segera berkunjung ke Bayern Munchen, yang kemudian dibalas dengan senyum senang sang petugas.   Menjelang akhir wawancara suami saya bertanya apakah berarti permohonan visa kami di-approve. Petugas tersebut menjawab bahwa dokumen kami bagus dan lengkap namun sayang keputusan bukan di tangan dia dan kami harus menunggu sampai akhir minggu untuk mendapatkan jawaban. Bukan waktu yang lama karena saat itu hari Rabu, berarti kami hanya harus menunggu 2 hari. Berhubung kami tinggal jauh dari New York City, kami meminta agar paspor dikirim melalui Fedex yang berarti ada tambahan biaya $20.

Benar saja, hari Senin minggu berikutnya saya mengecek di website Fedex ternyata paspor kami sudah dikirim. Ternyata benar, proses review aplikasi kami hanya memakan waktu 2 hari kerja. Tapii.. masih ada tapinya. Ternyata nama saya salah cetak! Memang hanya kurang satu huruf sih, tetapi membuat kami ketar-ketir. Setelah dipastikan melalui telepon dengan pihak kedutaan, ternyata katanya hal itu bukan masalah. Kami tetap bisa pergi dengan tenang karena toh visa melekat di paspor dengan nama yang benar.   Yang jelas saya sih sudah tak sabar untuk berangkat. Hello, Germany!