Archive for August, 2015

August 22, 2015

Dimuat di Female Magazine – Maret 2015

Saya suka iseng membeli majalah untuk mengintip rubrik apa saja yang bisa saya isi. Salah satunya ya Female Magazine ini. Setelah melihat ada rubrik Travel, saya berinisiatif untuk mengirim naskah ke redaksi tanggal 14 Desember 2014. E-mail saya dibalas tak lama kemudian, kurang lebih tanggal 8 Januari 2015 dan akhirnya dapat konfirmasi akan dimuat 31 Januari 2015.

deskripsiBeda dari media lain, saya diminta mengirimkan foto lengkap dengan deskripsi diri secara singkat. Waduh, apa ya yang mau saya tulis. Ini seperti kalau interview kerja dan ditanya “how do you describe yourself?”

Akhirnya saya ngarang sajalah, hehehe

Berikut hasil tulisan versi mentah-nya

Terpesona Arizona

Apabila disuruh memilih antara wisata gunung atau laut, saya akan mengajukan opsi baru ketiga yaitu wisata batu. Bukan batu biasa melainkan bentukan alam yang terjadi dari pasir selama berjuta-juta tahun lamanya dan masih berdiri kokoh sampai saat ini. Warna merah bebatuan terlihat kontras dengan birunya danau dan bahkan hijau pucatnya kaktus. Semua itu hanya bisa didapatkan di Arizona, negara bagian di perbatasan Amerika dengan Meksiko.

Mencapai Arizona

            Arizona memiliki dua bandara yang terletak di kota yang berdekatan, yaitu Phoenix (kode PHX) dan Tucson (kode TUS). Tiket pesawat pulang pergi menuju Arizona ditawarkan mulai dari harga 16,5 juta rupiah. Untuk menjelajah di tempat-tempat yang lazim dikunjungi seperti Grand Canyon dan Hoover Dam, Anda dapat dengan mudah mengikuti berbagai tur yang tersedia. Namun bagi yang berjiwa petualang dan ingin lebih puas menjelajahi dengan jadwal yang lebih bebas, maka persewaan mobil menjadi solusi yang lebih tepat.

            Mayoritas perusahaan Tour & Travel yang menawarkan paket hemat tidak memulai perjalanan dari Arizona, melainkan dari tetangga-tetangganya yang lebih komersil, yaitu Nevada dan California. Harga ditawarkan mulai dari USD 79 per orang. Tak ada salahnya untuk melakukan simulasi budget perbandingan antara menggunakan jasa tur atau berkelana sendiri. Untuk pilihan paket tur, bisa cek beberapa web seperti www.canyontours.com atau www.tours4fun.com.

Kaktus di Tucson

Suhu di kota Tucson di musim semi bisa mencapai 110 derajat Fahrenheit atau sekitar 43 derajat Celcius. Tak heran apabila kaktus tumbuh dengan subur di mana-mana. Tak puas dengan hanya memandangi kaktus di sepanjang jalan, saya memutuskan untuk mengunjungi Arizona-Sonora Desert Museum. Tiket masuk museum yang sering masuk dalam sepuluh besar Zoological Park di dunia ini sebesar 14.5 USD per orang. Di dalam museum terdapat kebun binatang, museum dan taman. Walaupun disebut taman, tetapi yang ada di dalam museum ini mayoritas adalah, apalagi kalau bukan, kaktus!

Senja di Sedona

Sedona adalah kota kecil di antara Coconino dan Yavapai di Utara Arizona. Daya tarik Sedona terletak pada deretan bebatuan merah yang memantulkan cahaya magis terutama di saat di saat matahari terbenam. Letak kota ini hanya berjarak sekitar 113 mil yang bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Grand Canyon. Semburat warna oranye yang dipantulkan saat matahari terbit dan terbenam mampu memukau turis sehingga merupakan hal yang umum bagi penyelenggara Tour & Travel untuk menyediakan paket ke Grand Canyon sekaligus ke Sedona.

Di puncak Sedona terdapat sebuah gereja, Chapel of Holy Cross yang banyak dikunjungi wisatawan. Berlokasi di tengah deretan bebatuan yang dramatis, pemandangan dari jendela gereja sangat spektakuler, apalagi saat matahari tenggelam. Tak heran saat saya ke sana menjelang pukul enam sore, banyak pengunjung yang menyempatkan diri berdoa di dalam kapel suci ini.

Ngarai Berpasir Antelope Canyon

Antelope Canyon adalah ngarai yang terbentuk dari batu berpasir selama ribuan tahun. Saat ini obyek wisata Antelope Canyon dikelola oleh suku Navajo karena memang terletak di kawasan milik mereka. Suku Navajo adalah suku Indian yang tinggal di Timur Laut Arizona, Tenggara Utah, dan Barat Laut New Mexico. Terdiri dari dua ngarai, Lower Canyon dan Upper Canyon, keduanya menawarkan keunikannya masing-masing.

Kedua ngarai ini bagaikan surga bagi para fotografer, amatir maupun profesional sehingga tak heran apabila ada yang menyebut Antelope Canyon merupakan obyek ngarai yang paling banyak dipotret. Untuk mengabadikan keelokan keduanya tidak diperlukan keahlian fotografi khusus, hanya timing dan sudut yang tepat. Waktu terbaik untuk mengunjungi ngarai adalah siang hari di saat musim panas karena sorotan cahaya matahari yang masuk melalui celah sempit akan dipantulkan dengan anggunnya oleh dinding batu ngarai.

Upper Antelope Canyon dikenal dengan sebutan Tsé bighánílíní dalam bahasa Navajo, yang artinya “tempat di mana air mengalir melalui batu”. Upper Antelope Canyon lebih sering dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negeri karena lokasinya yang mudah dijangkau dan seluruh areanya terletak di atas tanah sehingga untuk mengunjungi ngarai tidak dibutuhkan kondisi fisik yang prima. Ngarai ini menarik pengunjung berbagai usia, mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek.

Lain halnya dengan Lower Antelope Canyon. Kondisinya yang terletak di bawah tanah dengan medan yang lebih menantang membuat ngarai ini hanya dikunjungi oleh wisatawan dengan kondisi fisik yang baik. Dalam bahasa Navajo ngarai ini disebut dengan Hasdeztwaz yang berarti “lengkungan batu spiral”, sebuah ungkapan yang tepat karena di dalam ngarai berlekuk liku.

Lake Powell & Glen Canyon Dam

Pernah membayangkan bendungan yang sedemikian cantiknya sampai-sampai menarik minat wisatawan? Salah satu bendungan yang apik di Amerika terletak di Arizona, yaitu Glen Canyon Dam yang membentuk Lake Powell. Danau ini merupakan salah satu bendungan tertinggi di dunia yang membelah Utah dan Arizona. Walaupun merupakan yang tertinggi, danau buatan ini masih kalah besar dibandingkan Lake Mead yang tersohor dengan Hoover Dam.

Di balik birunya Lake Powell tersimpan fungsi yang istimewa, yaitu sebagai penyedia tenaga listrik bagi Colorado, Utah, Wyoming dan New Mexico. Sebagai tempat wisata Lake Powell sering dikunjungi karena menawarkan spot yang menarik untuk memancing, berenang, atau sekadar wisata dengan menggunakan boat atau kayak.

Lake Powell dapat dinikmati dari beberapa sudut. Saat itu saya menikmatinya dari Wahweap Bay yang terletak di sisi Selatan. Dengan mengeluarkan uang sebesar 45 USD per orang pengunjung bisa menikmati boat tour selama kurang lebih 60 menit. Boat ini dilengkapi dengan audio tour, di mana peserta tour dipersilahkan untuk mengambil headset dan semacam alat penerima radio untuk kemudian didengarkan sepanjang perjalanan. Efektif dan efisien, karena kru kapal tidak perlu berteriak-teriak sepanjang tour dan peserta dapat mendengarkan informasi dengan suara jernih.

Horseshoe Bend

Horseshoe Bend adalah meander dari Sungai Colorado yang berbentuk tapal kuda. Meander merupakan bentukan sungai yang berkelok-kelok akibat terjadinya erosi dalam jangka waktu yang lama. Lokasi Horseshoe Bend sekitar 5 mil atau 8 kilometer dari Lake Powell. Kombinasi antara jernihnya air Lake Powell dengan bentuk meander yang unik dan bebatuan merah di sekitarnya menjadikan harmoni warna yang senada.

Untuk menjangkau obyek wisata ini tidak diperlukan biaya. Di dekat areal parkir mobil ada papan yang memberi informasi bahwa masih diperlukan ¾ mil atau 1.2 kilometer lagi sebelum sampai di tujuan. Harus saya akui, ¾ mil mungkin terdengar dekat tetapi sesungguhnya perjalanan itu tidak mudah karena kontur bukit yang naik turun dan berpasir bagaikan di pantai.

Tak ada pagar pengaman di tepian tebing Horseshoe Bend sehingga pengunjung dapat mencapai mengambil gambar sedekat mungkin dari tepi ngarai. Terlalu menyeramkan bagi saya yang takut ketinggian untuk mengambil pose tepat di tepian tebing sehingga saya cukup puas dengan beberapa gambar yang saya abadikan dari kejauhan.

Hoover Dam

Kalau Lake Powell dimaksudkan untuk menyediakan daya bagi empat negara bagian, Lake Mead ditujukan menyokong enam negara bagian. Hoover Dam, bendungan yang membentuk Lake Mead ini dibangun tahun 1931 – 1936. Nama Hoover diambil dari Herbert Hoover, Presiden Amerika Serikat ke-31. Walaupun secara geografis Hoover Dam terletak di Nevada, tepatnya di kota Boulder, tetapi bendungan ini terletak persis di perbatasan antara Arizona dan Nevada. Jadi

Hoover Dam berfungsi sebagai penyimpanan cadangan air terutama untuk irigasi pertanian di Southern California. Tak hanya itu, bendungan ini menyediakan daya listrik dan air bagi kota metropolitan di sekitarnya seperti Los Angeles. Namun Hoover Dam punya arti lain bagi Amerika, yaitu sebagai simbol kemegahan yang menjadi pengingat bahwa di tahun 1930 Amerika berhasil memanfaatkan alam dengan menerapkan teknologi mutakhir.

Visitor Center Hoover Dam menawarkan Powerplant Tour bagi pengunjung yang berminat. Terdiri dari 30 menit tour dengan kombinasi antara pemandu, audio dan film yang berisi penjelasan lebih mendalam tentang sejarah Hoover Dam, pembangunan yang melibatkan 6 negara bagian dan 6 perusahaan besar, manfaatnya di masa kini, bahkan sampai ke generator, tangga, terowongan dan pipa yang digunakan di awal pembangunan Hoover Dam. Cukup mencengangkan, mengingat bendungan ini dibangun tahun 1930. Tour ini bisa diikuti dengan mengeluarkan uang sebesar 11 USD.

Monument Valley

Suku Navajo memiliki sebutan sendiri untuk bentangan alam yang menakjubkan ini. Tsé Biiʼ Ndzisgaii, yang artinya lembah berbatu. Dataran tinggi tandus ini terletak di perbatasan antara Arizona dan Utah sekaligus merupakan bagian dari deretan Colorado plateau yang tersohor.. Tak mungkin salah mengenalinya karena monumen alami ini memiliki ciri khas gugus batu berpasir setinggi 1.000 kaki atau sekitar 300 meter.

Sebelum memasuki area Monument Valley kita harus membeli tiket terlebih dahulu sebesar $20 per mobil dengan penumpang maksimal 4 orang. Apabila lebih dari 4 akan dikenai biaya tambahan $10 per orang.

Setelah melewati loket tiket, pengunjung bebas untuk memilih menyusuri self guided tour atau ikut salah satu tur dengan menggunakan jeep. Harga yang harus dikeluarkan untuk mengikuti guided jeep tour berkisar antara $50 – $85 per orang, tergantung dari jenis dan kapasitas tur yang dipilih. Konon perjalanan menggunakan jeep lebih disarankan karena jenis kendaraan ini lebih tangguh dan dapat menempuh jarak yang lebih jauh ketimbang tur dengan mengendarai mobil biasa. Kontur jalan yang berbatu serta debu yang beterbangan dan mengganggu pandangan menjadi penghalang utama.

Grand Canyon

Walaupun disebut paling akhir, bukan berarti Grand Canyon merupakan obyek wisata paling tak menarik. Justru sebaliknya, bentukan alam ini mampu mengundang decak kagum siapapun yang memandangnya. Sisi yang jamak dikunjungi oleh wisatawan adalah South Rim karena ketersediaan fasilitas yang lengkap. Namun sesungguhnya pengunjung dapat menikmati dari berbagai sisi yaitu Utara, Barat dan Selatan. Ada beberapa cara untuk menikmati obyek wisata ini yaitu dengan berjalan kaki, naik sepeda atau dengan menggunakan shuttle. Setelah membayar tiket masuk sebesar 25 USD per mobil yang berlaku selama tujuh hari, pengunjung dapat langsung masuk area parkir dan mengunjungi pusat informasi.

Di sini pengunjung mendapat peta yang berisi informasi hiking trail yang ditawarkan, sepeda yang dapat disewa, bahkan rute shuttle gratis yang disediakan. Penjaga Visitor Center itu juga memberi saran titik mana saja yang paling banyak diminati wisatawan. Berdasarkan informasi yang diberikan, saya pun bersemangat menuju Hermit Rest Route dan singgah di Trailview Overlook, Hopi Point, Mohave Point dan Pima Point. Saran yang diberikan sungguh tepat karena pemandangan yang tersaji tak henti-hentinya membuat saya terpesona.

Arizona ternyata memang negara bagian penuh pesona. Dari perbincangan dengan beberapa pengunjung di setiap obyek wisata dapat ditarik kesimpulan bahwa nama negara bagian ke-48 ini harum di luar Amerika. Saya bukan satu-satunya pengunjung mancanegara. Beberapa dari mereka bahkan menghabiskan waktu beberapa minggu untuk berkelana mengelilingi Arizona. Beberapa hal yang perlu diingat sebelum mengunjungi Arizona adalah jangan sampai melupakan tabir surya, air minum dan mengenakan pakaian serta sepatu yang nyaman. Tiga hal tersebut mungkin sering dipandang enteng namun sesungguhnya sangat penting mengingat perjalanan yang cukup melelahkan.

Tips for Your Trip!

Arizona merupakan salah satu negara bagian yang beruntung mendapatkan curahan matahari terus-menerus sepanjang tahun. Bulan April – Mei merupakan waktu yang ideal untuk menikmati keindahan bebatuan Grand Canyon dan sekitarnya tanpa harus tersiksa oleh sinar matahari yang sangat menyengat.

Persewaan mobil di Amerika relatif cukup mudah bagi wisatawan. Cukup dengan menunjukkan identitas diri berupa paspor, SIM dan kartu kredit, kita dapat memilih mobil yang ingin digunakan. Jangan lupa untuk memastikan bahwa nama di ketiga dokumen tersebut sama karena penyewa tidak diijinkan membayar dengan menggunakan kartu kredit orang lain. SIM dan kartu kredit Indonesia diakui di Arizona, jadi jangan ragu untuk melangkah menuju konter persewaan mobil.

Tarif mobil yang ditawarkan sangat bervariasi tergantung model yang diinginkan, tanggal ambil dan pengembalian mobil, durasi dan tentunya perusahaan persewaan. Jangan lupa untuk mengecek harga antar perusahaan di situs penyedia pembanding harga seperti www.hotwire.com, www.kayak.com, www.expedia.com dan tentu saja situs perusahaannya langsung. Beberapa nama yang tersohor antara lain Hertz, Enterprise, Avis, Budget, Alamo dan Thrifty. Anda juga bisa memesan langsung dari Indonesia, lho.

Selain tarif yang tercantum, Anda disarankan mengambil asuransi yang nominalnya beragam, mulai dari USD 9 sampai USD 25 per hari. Perhatikan dan baca betul klausul yang tertera. Apabila ada hal yang tidak Anda mengerti, petugas konter akan dengan senang hati menjelaskannya.

Visa

Informasi lengkap pengajuan permohonan visa Amerika dapat dilihat di link berikut: http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/id/visas/mengajukan_visa.html

Secara singkat, langkah-langkahnya dapat dirangkum seperti di bawah ini:

  1. Membayar biaya visa sebesar $160 (Rp. 1.865.000,00)
  2. Mengisi Formulir DS-160 di web Kedutaan Amerika
  3. Mengisi profil permohonan wawancara
  4. Mengikuti wawancara (tidak dapat diwakilkan)

Mata Uang

Mata uang yang digunakan adalah US Dollar (USD)

How to Get There

Tiket Jakarta – Phoenix dapat diperoleh mulai dari $1.524 pulang pergi dengan rute Jakarta – Tokyo – Los Angeles – Phoenix. Waktu yang tepat untuk berkunjung adalah di bulan April karena belum terlalu panas.

Where to Sleep In

Website pembanding harga juga berguna untuk mendapatkan gambaran harga hotel. Hotel di kota dekat tempat wisata seperti Sedona memasang harga minimum 500.000 per malam di musim non liburan dan bisa mencapai 1,5 juta per malam saat peak season.

Advertisements
Tags:
August 17, 2015

Serba Pertama Kali di Munich, Jerman

Semua serba pertama di Munich. Pertama kali menginjak benua Eropa dan pegang Euro hasil tarik tunai di ATM bandara. Pertama kali datang ke negara yang bahasanya bukan Inggris. Pertama kali menginap di hostel, pertama kali mengikuti tur stadion bola dan pertama kali juga naik high speed train.

Kami mendarat di Frankfurt Airport pagi hari setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Dalam keadaan capek dan sedikit ngantuk, saya menurut saja di-guide oleh suami. He’s truly a walking compass.

Dia yang mencari arah, bertanya cara membeli tiket kereta sekaligus cara membaca itinerary yang tertera di tiket ke petugas (believe me, taking a train in Germany is more complicated than you think), ambil uang di ATM sampai dengan menyarankan saya untuk ngopi sejenak saat melihat kedai kopi favorit: Starbucks.

Untung saja saat itu petugas imigrasi di pos kedatangan sedang berbaik hati kepada kami. Tanpa dihujani banyak pertanyaan kami diijinkan memasuki Jerman.

Dari bandara kami memutuskan langsung menuju Munich menggunakan DB Bahn (kereta regional yang menghubungkan antar kota di Jerman). Bagaimana mendapatkan tiketnya? Cukup mudah: tiket dapat dibeli dari mesin serupa ATM yang banyak terdapat di bandara dengan menggunakan kartu debit/kredit yang dimiliki. OK, tiket sudah di tangan, tapi masalah selanjutnya muncul. Kereta DB Bahn yang mana yang akan membawa kami ke Munich, jam berapa, dari peron yang mana? Ternyata tidak ada keterangan apapun yang tertera di tiket yang dapat kami gunakan. Setelah bertanya ke information center, kami pun diajari cara membaca itinerary perjalanan kereta di Jerman yang menurut kami memang lain dari yang pernah kami alami sampai saat itu.

Bandara dan stasiun Frankfurt berada di satu kawasan sehingga tidak menyulitkan bagi pendatang seperti kami untuk berpindah sarana transportasi. Saat mencari jalur kereta yang benar, kami masih sedikit tak yakin. Kalau sampai salah naik kereta khan bisa panjang urusan, belum lagi badan sudah menuntut istirahat. Untung saja penduduk lokal ramah dan tanggap. Melihat kami yang kebingungan, seorang pemuda berpakaian rapih mendekati saya dan bertanya tujuan kami. Setelah kami tunjukkan tiket dan sebut tujuan kami, pemuda tersebut memberi

Frankfurt am Main Hauptbahnhof secara literal bisa diartikan sebagai stasiun besar kereta di kota Frankfurt. Di sana kami menyempatkan diri untuk sarapan dengan menu: Burger King!

Jadwal kami hari itu adalah beristirahat, jadi sesampainya di kota Munich kami langsung menuju ke hostel yang sudah dipesan online: Smart Stay Hostel Munich City. Alasan utama memilih hostel adalah kepraktisannya. Lokasi hostel ini sangat dekat dari stasiun U Bahn, yang sangat kami andalkan untuk berkeliling Munich.

smart stay

Bisa dilihat sendiri di peta, seberapa dekat jarak hostel ke stasiun tersebut. Maklum, sebagai pengguna angkutan umum dengan pinggang yang semakin menua harus memperkirakan jarak satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.

Munich. Bisa menebak nggak kira-kira apa alasan kami mengunjungi kota ini? Suami saya yang pencinta berat olah raga sepak bola mengajak saya untuk mendatangi markas salah satu klub bola terbesar di dunia, Allianz Arena milik kesebelasan FC Bayern. Ini pula yang menjadi jawaban suami saya saat sesi wawancara visa di Konsulat Jerman 2 bulan sebelumnya. Untung petugas visa bukan pecinta klub rival berat FC Bayern ya? Bisa-bisa permohonan visa kami tidak disetujui :p. Alasan lain adalah kami ingin mengunjungi Schloss Neuschwansteinn yang kabarnya juga mudah digapai melalui kota Munich, hanya 2 jam saja menggunakan kereta.

BMW World

Kami punya waktu tiga hari dua malam di Munich tapi bingung mau ke mana lagi selain ke Allianz Arena. Googling punya googling, ada satu tempat menarik yang bisa dikunjungi yaitu BMW Museum.

Di BMW Museum dipajang berbagai varian kendaraan bermotor baik mobil atau pun motor yang diproduksi oleh pabrikan yang memang berpusat di kota ini, dari jaman dulu hingga sekarang. Bahkan mobil Formula One yang dulu dikendarai oleh David Coulthard di kejuaraan balap mobil paling bergengsi sejagat pun ada di sini. Sebenarnya BMW Museum juga menawarkan paket tur untuk melihat-lihat secara langsung pabrikan dari dekat. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mengikuti jadwal tur yang ada setiap jam ini. Kami akhirnya hanya membeli tiket masuk museum, dan puas berfoto dengan mobil dan motor yang dipajang di sana saja.

Allianz Arena

Suami saya senang sekali karena ini pertama kalinya dia bisa menginjakkan kaki dan melihat secara langsung stadion di mana kesebelasan besar Eropa berlaga. Maklum, selama di Amrik, sepak bola bukan olah raga nomor satu di sana, sehingga harus puas menonton basket atau American Football ditayangkan di TV. Apalagi yang kami kunjungi adalah FC Bayern, yang saat itu baru saja mendapatkan quindruple (ini jelas info dari suami saya sih hehehe). Saya sendiri cuma manggut-manggut saja dijelaskan quindruple itu apa.

Ada dua aktivitas yang kami lakukan di Allianz Arena: mengikuti tur mengeliling Allianz Arena, stadion sepak bola yang juga menjadi home base 2 kesebelasan besar dari kota Munich, FC Bayern dan TSV 1860. Disediakan 2 jenis tur dengan pilihan bahasa Jerman atau pun bahasa Inggris.

Tur itu membawa kami mengunjungi tribun, kamar ganti, ruang media, dan fasilitas lainnya yang terdapat di Allianz Arena tersebut. Sayang karena saat itu sedang off season, rumput yang ada di lapangan sedang dicabut, hanya menyisakan tanah coklat di tengah lapangan.

Setelah tur selesai kami pun mengunjungi museum FC Bayern yang juga terdapat di Allianz Area, FC Bayern Erlebniswelt. Di sana segala macam memorabilia yang terkait dengan sejarah klub besar kebanggaan Bavaria dipajang. Suami saya terlihat sangat antusias melihat seluruh pernak-pernik bola yang ada di dalamnya, termasuk meminta untuk berfoto dengan 5 trofi quindruple yang baru saja didapatkan oleh FC Bayern.

Sepertinya kami jalan-jalan di musim yang kurang tepat karena beberapa kali terhalang oleh hujan, termasuk saat keluar dari stadion. Untung saja tidak sampai mengganggu itinerary keseluruhan dan yang paling disyukuri adalah hari-hari selanjutnya hujan turun bukan di saat kami beraktivitas di luar ruangan.

…. Bersambung

Tags:
August 16, 2015

Perpustakaan Mini di Apartemen Kalibata City

“Kalau kita punya rumah nanti aku maunya ada perpustakaan kecil buat nyimpen komik-komikku.” kata suami saya beberapa tahun yang lalu. Saya juga punya impian yang sama: punya ruangan kecil yang khusus dijadikan ruang penyimpanan dan sekaligus ruang baca yang nyaman.

Begitulah, pada akhirnya setelah punya dana yang cukup, kami mulai kasak kusuk untuk mewujudkan rencana jadi kenyataan. Saya ingat suatu saat pernah kesasar ke postingan sebuah blog yang merekomendasikan temannya dalam mendesain dan sekaligus membantu mereka dalam renovasi. Kebetulan kami juga punya apartemen yang sama persis dengan unitnya Tere, si empunya blog. Tanpa ragu saya segera kontak nomor HP yang disebutkan di posting tersebut.

Singkat cerita saya pun janjian ketemu dengan pihak Casa Lunanta untuk membicarakan keinginan, desain dan tentu saja budget untuk apartemen kami ini. Saya bilang kalau kami ingin desain yang bukan template dan sesuai dengan keinginan kami termasuk adanya sebuah ruangan khusus untuk dijadikan perpustakaan mini.

Coret punya coret, setelah sedikit revisi dari suami, kami pun sepakat dengan desain yang ditawarkan. Wah sewaktu melihat karya Casa Lunanta saya rasanya tak sabar untuk melihat hasil akhirnya. Coba deh dilihat sendiri

Saya langsung jatuh cinta! Apalagi sewaktu mbak Mayang dari Casa Lunanta memberi contoh hasil karyanya di tempat lain dan diterapkan di tempat saya supaya memudahkan kami dalam membayangkan hasil akhirnya akan seperti apa.

Selang 1.5 bulan setelah pertemuan pertama saya dengan mbak Mayang, akhirnya apartemen kami pun siap ditempati. Hasilnya melebihi ekspektasi saya.. Keren banget!

Berikut ini foto-foto setelah apartemennya saya tinggali selama 2 bulan. Tentunya sekarang sudah agak padat berisi, sesuai yang punya, hihihi..

ruang tengah dan dapur

 

Trus mana perpustakaannya? Hehe.. Sabar.. Ini dia bagian rumah favorit saya: the mini library!

Trus koleksi bukunya sampai saat ini ada apa saja? Belum terlalu banyak sih, soalnya sebagian besar buku kami masih berada di rumah orang tua masing-masing jadi ya sampai sekarang baru ini saja yang ada.

 

Saya masih merasa ada yang kurang nih dengan perpustakaan mininya. Kalau lihat di blog atau pinterest-nya orang bule khan selalu ada hiasan atau dekorasi yang kreatif jadi ruangannya tidak melulu soal buku. Ah saya cari ide dulu ya supaya ruangan ini jauh lebih menarik dan hangat.

Tags:
August 7, 2015

City Night Line – Comfortline Sleeper Cars

Hal yang paling ingin saya lakukan kalau menginjak benua Eropa adalah mencoba menginap di kereta malamnya. Maklum, di Indonesia khan tidak ada kereta yang menyediakan bilik kamar buat tidur. Sebenarnya di Amtrak juga ada sleeper train tapi kalau di Amerika sepertinya lebih seru kalau sewa mobil (ini statement asli ngguaya.. wong yang nyetir juga sebenernya suami kok :p)

Tetapi yang namanya rencana tuh ternyata tidak selalu mudah diwujudkan, termasuk plan untuk mencoba naik kereta malam ini. Berbagai hal yang jadi pertimbangan adalah itinerary, jadwal kereta dan yang paling penting adalah budget. Jelas, wong ternyata tarif tiketnya melebih harga sewa hotel semalam, hiks

 photo 20140528_131409_LLS_zpsx61bcsga.jpg

Tapi jalan-jalan ke Eropa merupakan kesempatan yang bakal jarang buat kami, jadi ya sudahlah pasrah saja dengan harga yang harus dibayar tersebut. Setelah melihat dan mencocokkan jadwal, akhirnya diputuskanlah City Night Line yang bisa diintip di website ini. Kami sengaja memilih kamar dengan 2 tempat tidur supaya lebih privat. Untuk kelas, cukup yang kelas 2 sajalah. Toh kalau dilihat dari gambar sepertinya sudah cukup nyaman buat kami yang nggak neko-neko ini.

Petualangan ini dimulai dari Munchen Hbf (pukul 22:50) menuju Utrecht Centraal (pukul 09.22). Wah kalau diingat lagi ini perjalanan yang sempat diwarnai deg-deg-an karena di hari yang sama itu jadwal kami di Fussen dan sekitarnya yang berjarak kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan.

Untungnya kami tidak sampai ketinggalan kereta walaupun waktu akhirnya sampai di Munchen Hbf sudah mepet sekali. Berbekal sushi raksasa dan 2 botol air putih yang dibeli di stasiun, kami pun masuk ke dalam kereta yang sudah menunggu. Pertama kali masuk langsung toleh kanan kiri, rasanya ingin lihat semua detil-detil yang ada di dalam kabin.

Buka pintu kabin dan langsung disambut oleh tempat tidur susun. Tanpa basa-basi saya langsung mengambil tempat di kasur bawah. Biar suami saja yang di atas, toh lebih mudah buat dia untuk naik tangga ke atas ketimbang saya, hehehe. Di tempat tidur bagian atas ada pelindung supaya penumpang tidak terjatuh saat tidur malam. Jadi jangan khawatir untuk memilih tempat tidur yang di atas ya.

 photo 20140528_132206_LLS_zpspa21nnvq.jpg

Di dalam kabin sudah disediakan dua botol air putih dan dua buah hanger untuk menggantung pakaian. Di atas masing-masing ranjang ada selimut dan sebuah bantal. Selain itu juga ada lampu sendiri-sendiri jadi kalau ada yang masih ingin membaca bisa menyalakan lampu tanpa mengganggu rekan sekamar.

 photo 20140528_132440_LLS_zps5qce4fp6.jpg

Persis di belakang pintu, tepatnya di sebelah kiri kita kalau baru masuk kabin, ada sebuah lemari yang ternyata berisi washtafel, handuk dan peralatan bebersih diri.
 photo 20140528_132556_LLS_zps2qdrdkig.jpgIntip bagian lorong yang tidak terlalu lebar.
 photo 20140528_133230_LLS_zpsoyge5bos.jpgBeginilah kalau barang sudah dibongkar di dalam kabin.. Lumayan sesak juga ya.
 photo 20140528_134618_LLS_zpsb6hjzy6e.jpg

Karena kami memilih kelas 2 jadi tidak ada kamar mandi di dalam kabin. Tetapi jangan khawatir, tiap gerbong punya 2 kamar mandi yang bisa dipakai bergantian. Kamar mandinya pun bukan hanya sekedar toilet, tapi benar-benar kamar mandi lengkap dengan shower air panas dan air dingin.

Bermalam di dalam kereta ternyata sama nyamannya dengan tidur di kamar hotel. Atau jangan-jangan juga karena faktor kecapekan kali ya jadi begitu badan menempel di kasur saya pun langsung terlelap tanpa terganggu oleh guncangan-guncangan.

Pagi-pagi, sekitar pukul 7, pintu kabin diketuk petugas yang mengantarkan sarapan. Wah, lumayan walaupun sarapannya ya ala bule yang berupa roti, susu dan sejenis snack lain. At least I successfully tick off my bucket list: traveling in sleeper train with husband 🙂

Tags: