Archive for February, 2016

February 19, 2016

Pengalaman Gagal LPDP

Belakangan ini saya memang jarang update blog ini, tapi saya masih tetap nge-blog kok di web angkatan LPDP saya. Postingan di sana cukup beragam, mulai dari puisi (yang ini bukan saya yang nulis), cerita aktivitas di luar kantor dan beasiswa, tips & trik, sampai bahkan cerita tentang kegagalan.

Saya baru tahu belakangan kalau di antara teman-teman PK-53 banyak yang pernah gagal seleksi. Beberapa di antaranya mau tuh berbagi. Salah satunya cerita yang saya copy-paste dari web tersebut. Kebetulan ini tulisan saya sendiri juga, hasil dari nodong satu per satu lewat Telegram buat jawab pertanyaan saya. Hehe, maaf ya Kezia, Gerry & Adit 😀

Saran mereka bertiga sama: persiapan harus matang. Ketiganya juga bahkan sampai bela-belain simulasi wawancara alias wawancara bohongan. Kiat lainnya? Silahkan disimak langsung di bawah ini ya.

===============

Gimana sih rasanya ditolak beasiswa impian? Patah hati dan sedih, itu pasti. Tapi setelah gagal sekali, bukan berarti peluang sudah tertutup khan. Apalagi dengan beasiswa LPDP ini di mana setiap peserta punya kesempatan dua kali untuk mengikuti seleksi.

Untuk posting kali ini ayo simak cerita tiga Sobat Bianglala: Kezia Eka Sari Dewi (Kezia), seorang dosen, Gerry Duta Handaru (Gerry) yang berprofesi sebagai karyawan BUMN dan Made Adityanandana (Adit). Mereka akan berbagi mengenai seleksi LPDP pertama dan kedua yang diikuti. Bagaimana sih perjuangannya?

Kezia Eka Sari Dewi

Kezia Eka Sari Dewi – Awardee LPDP Program Doktor (PhD) Luar Negeri, tujuan KU Leuven, Belgia.

Q: Halo, boleh perkenalkan nama dan universitas tujuan kalian?

Kezia: Nama saya Kezia Eka Sari Dewi dan saya berencana lanjut ke KU Leuven, Belgia.

Gerry: Saya Gerry Duta Handaru, berencana lanjut ke University of Groningen, Belanda jurusan MSc Supply Chain Management.

Adit: Kalau saya Made Adityanandana yang akan lanjut ke International Institute of Social Studies, Erasmus University Rotterdam.

Q: Sebelumnya kalian ikut test LPDP tahun berapa dan batch berapa?

Kezia: Saya mencoba di tahun yang sama 2015 tapi di batch 2 (seleksi April).

Gerry: Ternyata saya mencoba di tahap yang sama dengan Kezia: batch 2 tahun 2015.

Adit: Wah kok kita ternyata senasib ya.

Q: Gagalnya di tahap apa dan menurut review diri kalian sendiri kenapa kok bisa gagal?

Kezia: Saya gagal di tahap Wawancara dan LGD. Wah ini penyebabnya cukup kompleks ya. Boleh sedikit curhat nggak, hahaha.. Jadi kurang lebih begini:

  • Disertasi kurang matang, saya kurang dapat menjelaskan signifikansi penelitian saya terhadap kebutuhan negara Indonesia. Yang kedua, saya bergelar S1 dan S2 dari Fakultas Teknik, namun bidang ilmunya sendiri untuk Master dan Phd nya sudah merupakan percampuran antara ilmu teknik dan ilmu sosial perkotaan. Pada interview pertama kurang dapat meyakinkan interviewer yang sepertinya merupakan Professor dari ilmu teknik murni.
  • Pikiran tidak fokus, yang nampaknya terbaca oleh psikolog yang meng-interview.
  • LGD tidak berjalan lancar, kebetulan ada peserta yang sangat mendominasi LGD, sehingga waktu banyak terbuang.

Gerry: Persiapan saya sangat kurang, baik konten essay maupun wawancara sehingga ketika dicecar saat wawancara saya tidak bisa dengan lugas menjawab. Alasan mengapa pilih ini itu maupun rencana setelah studi tidak saya persiapkan baik-baik.

Adit: Kalau diingat-ingat, saya rasa karena rencana studi yang kurang matang. Tentunya itu mempengaruhi jawaban saat wawancara karena saya jadi nervous dan menjawab dengan defensif untuk menutupi kekurangan. Jadinya itu justru semakin memperlihatkan ketidaksiapan. Selain itu juga saya waktu itu belum punya LoA.

Q: Trus apa alasan untuk daftar LPDP lagi?

Kezia: Saya punya prinsip pantang menyerah. Sepanjang masih diberi kesempatan untuk mencoba kembali, maka akan saya coba. Yang kedua: PhD dapat dimulai kapan saja sepanjang tahun ajaran 2015 – 2016. Sehingga saya punya waktu untuk mencoba lagi.

Gerry: Karena masih ada kesempatan 1 kali lagi serta benefit dan chance LPDP sangat besar.

Adit: Masih ada kesempatan 1x wawancara.

Q: Tentunya kalian belajar dari pengalaman donk, jadi apa saja nih persiapan yang membedakan dengan test sebelumnya?

Kezia: Tentunya dengan mencoba melakukan review atas kegagalan sebelumnya sehingga persiapan lebih matang karena sudah lebih tau tantangannya. Persiapan yang utama adalah memperbaiki proposal disertasi dan memperkuat motivasi untuk rencana jangka panjang pengabdian pada bangsa dan negara yang logis dan masuk akal. Saya juga memperkuat argumen mengapa negara Indonesia membutuhkan seorang ahli permukiman seperti bidang yang saya ambil.

Persiapan yang juga penting adalah menenangkan diri dan fokus saat seleksi. Poin terakhir yang juga penting adalah pada saat Batch 2 lalu saya sebagai dosen belum punya NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). Di seleksi Batch 4 saya sudah punya NIDN.

Gerry: Saya mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih matang, concern to detail untuk essay online dan juga essay on the spot, LGD serta wawancara.

Adit: Karena sudah tau jenis pertanyaan wawancara jadi saya merasa lebih siap secara mental.

Gerry Duta Handaru

Gerry Duta Handaru – Awardee LPDP Program Master (S2) Luar Negeri, tujuan University of Groningen, Belanda.

Q: Punya tips dan trik untuk menembus seleksi LPDP nggak?

Kezia: Barangkali ini bukan khusus saya, tapi apa yang dilakukan yang cukup membantu. Kebetulan saya memilih untuk test wawancara di Jogjakarta. Untuk peserta seleksi yang di Jogja, kami membuat group LINE untuk bersama–sama berdiskusi, berbagi info dan mempersiapkan diri. Khususnya dalam menghadapi LGD dan On the Spot Essay. Khususnya mengenai topik yang kemungkinan akan dijadikan pertanyaan.

Untuk persiapan pribadi, berdasarkan review atas kegagalan sebelumnya, saya sengaja ganti lokasi wawancara. Ketika gagal di Batch 2, saya wawancara di Jakarta, yang Batch 4 di Jogja. Hal ini membantu menenangkan mood saya karena test di daerah asal. Poin kedua: awalnya saya mendaftar untuk bidang ilmu Teknik sesuai dengan LoA. Saat seleksi Batch 4 saya mendaftar di “bidang ilmu lain” sehingga mendapatkan interviewer yang lebih sesuai dengan bidang ilmunya (sudah campuran antara teknik dan sosial).

Last but not least: sehari sebelum test wawancara saya bukannya sibuk belajar, melainkan justru refreshing dengan jalan – jalan ke Taman Sari di Kota Jogja.

Gerry: Matangkan alasan kamu pilih jurusan dan universitas tersebut dengan sedetil-detilnya. Juga pikirkan apa benefit bagi kamu (dan Negara) apabila kamu mendapatkan beasiswa LPDP. Cari peer untuk mengetes argumen-argumenmu.

Adit: Persiapkan rencana studi sedetail dan sekonkrit mungkin. Membaca pengalaman awardee yg berbagi di blog mereka juga sangat membantu. Saya rasa tak ada salahnya juga untuk simulasi wawancara dengan bantuan teman dan rajin membaca isu terkini. Secara pribadi saya baca kolom editorial pada media-media seperti Jakarta Post jadi sudah ada perspektif mengenai isu tertentu. Jangan lupa persiapkan diri jauh-jauh hari tapi pastikan H-1 tetap rileks. Saya sengaja pergi ke salon murah meriah untuk krimbat (untuk pijat kepala) lho. Hahahaha.. Trus yang paling penting: berdoa dan juga keep smiling karena itu memberikan efek positif pada diri secara psikologis.

Q: Khan gagalnya di tahap wawancara dan LGD nih. Apakah ada persiapan khusus untuk wawancara?

Kezia: Betul… saya mencoba berdiskusi tentang pertanyaan – pertanyaan yang pada wawancara sebelumnya gagal saya jawab, dengan teman saya yang merupakan awardee LPDP dan sepupu yang profesinya hampir sama (peneliti). Kami mencoba memikirkan jawaban–jawaban yang lebih logis dan kuat, yang kiranya dapat diterima interviewer.

Gerry: Simulasi wawancara bagus juga. Dari sini kamu bisa mengetes kekuatan argumenmu.

Adit: Saya setuju dengan simulasi wawancara, karena saya sendiri juga mempraktekannya.

Q: Trus untuk LGD-nya?

Kezia: Latihan meskipun via group LINE dengan teman – teman sesama pelamar di Jogja. Kami tidak hanya mengoleksi isu–isu yang sedang hangat, namun juga saling berbagi link berita yang memuat pendapat para ahli yang membahasnya.

Gerry: Tidak ada. Hanya dengan bertanya pada teman yang sudah LGD dan membaca blog orang.

Adit: Tidak ada yang khusus, saya hanya membaca current issue di media.

Q: Kalau untuk Essay on the Spot?

Kezia: Tidak ada persiapan khusus, selain belajar dari topik yang dilempar di grup LINE dan media cetak. Essay ini menyerupai essay di writing section nya test TOEFL iBT. Jadi sudah cukup familiar.

Gerry: Perbanyak wawasan umum. Saya kebetulan memang suka baca koran sehingga cukup membantu. Lakukan simple research atas topik yang pernah dibahas di batch sebelumnya untuk mendapatkan kisi-kisi.

Adit: Saya sengaja latihan menulis dengan batasan waktu yang diukur dengan stopwatch.

Q: Waktu seleksi LPDP sebelumnya sudah punya LoA?

Kezia: Sudah ada, karena LoA unconditional sudah dapat sejak Maret 2015

Gerry: Sudah, LoA conditional.

Adit: Saya dulu belum punya LoA.

Made Adityanandana

Made Adityanandana – Awardee LPDP Program Master (S2) Luar Negeri, tujuan Erasmus University Rotterdam, Belanda.

Q: Lalu seleksi LPDP yang sekarang?

Kezia: Sudah ada LoA unconditional juga

Gerry: Sudah juga. LoA conditional

Adit: Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya berbekal LoA unconditional.

Q: Ada pengalaman menarik sewaktu test yang dulu maupun sekarang?

Kezia: Ternyata test wawancara yang sekarang lebih santai. Tidak mengejar proposal disertasi secara mendetail, barangkali karena memang sudah cukup jelas. Lebih banyak ditanya mengenai keluarga, kebetulan saya mengaku kalau membawa orang tua ikut merantau ke luar Jawa. Hal ini tampaknya jadi poin plus, karena dipandang saya cukup berhasil. Selain ditanya mengenai hal buruk dari karakter saya, mengapa pilih beasiswa LPDP sementara masternya kuliah dengan beasiswa dari luar negeri, siapakah orang–orang yang berperan dalam pengembangan karir saya, siapa yang akan merawat orang tua kalau saya studi di luar negeri, dan apa bukti nyata dari pengabdian saya terhadap masyarakat (waktu itu saya menunjukkan kliping koran, yang mana saya memberikan konsultasi arsitektur gratis pada masyarakat).

Hal ini sangat berbeda dengan interview di batch 2, yang rasa–rasanya tidak ada jawaban saya yang betul. Semua dikejar dari pertanyaan akademis sampai pertanyaan pribadi. Selesai wawancara, jadi senyam senyum sendiri karena sudah kuat feeling kalau lolos. 😛

Gerry: Dari awal memang meniatkan diri untuk banyak ngobrol dengan sesama partisipan untuk meredakan ketegangan. Kebetulan dari 3 orang yang diajak ngobrol semuanya cantik-cantik jadi waktu menunggu LGD dan wawancara tidak terasa.. Hahahaha.

Adit: Waktu tes kemarin ketemu teman seperjuangan yg ternyata tinggal cukup dekat dengan rumah, dan ternyata mahasiswa paman. Eh, ini dianggap istimewa ngga ya? Biasa aja ya? Wkwkwkwk.

Q: Sebelum wawancara sempat menyiapkan list pertanyaan?

Kezia: Tidak secara khusus. Hanya diskusi dengan teman yang sudah jadi awardee LPDP

Gerry: Iya, pertanyaan umum sampai ke detail. Kira-kira 10-15 pertanyaan.

Adit: Waah banyaaak. List pertanyaan beserta jawabannya sampai 4 halaman!

Q: Kampus tujuan sekolah kamu ke DN atau LN? Lalu wawancara dalam bahasa Indonesia atau Inggris?

Kezia: Tujuan sekolah Luar Negeri, tapi baik dalam wawancara batch 2 maupun batch 4, wawancara full dalam Bahasa Indonesia.

Gerry: LN. Pas wawancara saya menjelaskan kenapa pilih di Belanda dengan alasan karena di Belanda Bahasa Inggris adalah bahasa kedua jadi saya tidak akan kesulitan beradaptasi karena Bahasa Inggris saya bagus. Mendadak interviewer langsung mengajukan pertanyaan dengan Bahasa Inggris. Hahaha.

Adit: Saya mau ke LN dan wawancaranya campuran sih, ada Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Q: Sewaktu test pertama dulu apakah interviewer menanyakan detail mengenai essay yang ditulis?

Kezia: Tidak, hanya dicecar masalah proposal disertasi. Selain motivasi kuliah lagi, pekerjaan yang sekarang? Nantinya ingin jadi praktisi atau akademisi?

Gerry: Tidak.

Adit: Iya. Ditanya secara mendetail kontribusi konkrit apa yang bisa saya berikan setelah studi selesai. Jadi jangan lupa pastikan punya 1 jawaban dan jangan terlihat ragu. Sebisa mungkin konsisten pada jawaban itu. Kalau memang mau jadi dosen, nyatakan dengan tegas. Jangan sampai nanti awalnya bilang mau jadi dosen lalu kemudian galau mau nyemplung ke NGO.

Q: Lalu waktu test yang sekarang gimana?

Kezia: Ya, justru yang dikejar psikolognya adalah essay, misalnya mengenai arti sukses dalam hidup, siapa yang berperan membuat saya sukses selama ini, mengapa anda ingin PhD? Hal negatif apa yang ada pada dirimu? Untuk pertanyaan ini saya jawab dengan jujur kelemahan saya, namun saya ceritakan juga hal yang sudah saya lakukan untuk memperbaiki kesalahan saya.

Hal yang juga ditanyakan, trik/langkah apa yang akan kamu lakukan untuk memastikan bisa lulus PhD tepat waktu?

Gerry: Tidak sih, tapi interviewer terlihat tertarik atas essay Sukses Terbesar yang bercerita tentang pengalaman selama 2 bulan hidup di pulau terpencil. Beliau berpendapat bahwa itu adalah pengalaman yang sangat berharga.

Adit: Iya. Ditanya tentang rencana riset, tapi untungnya saya bisa menjelaskan dengan jelas dan tegas.

Nah, gimana setelah membaca sharing Kezia, Gerry dan Adit? Mudah-mudahan cukup bermanfaat buat kalian yang juga sedang dalam posisi yang sama. Jangan lupa untuk terus memantau web Ganesha Bianglala ini karena masih banyak kisah yang akan kami ceritakan.


Penulis: Putri Utaminingtyas

Advertisements