Nyaris Ditipu

Sore ini saya nyaris jadi korban penipuan yang Alhamdulillah gagal gara-gara cumi telur asin. Tak tanggung-tanggung, kejadiannya terjadi di mall apartemen saya sendiri, Kalibata City. Jadi ceritanya saya berencana membeli makanan untuk buka puasa sekaligus ke ATM. Suami akan menyusul saya di lokasi, setelah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.

Saya berjalan terburu-buru dengan deretan menu di dalam benak mulai dari tumis buncis, cumi telur asin sampai dengan kopi… tiba-tiba saya dicegat seorang pria yang bertanya. Sebut saja A.

A: “Maaf, Mbak.. Kalau dari sini mau ke Senayan City naik apa ya?” Waduh, sial. Udah  jam 5 lebih .. Udah keburu pengen pesen cumi telur asin nih. Mudah-mudahan si Mas ini nggak lama-lama nanyanya.

Saya: “Senayan City?” Kenapa dia pengen ke Senayan City yak?

A: “Iya, ini Kalibata City khan ya? Saya mau mencari patung puda (ini kalo saya tidak salah dengar). Maaf, agama Mbak Islam khan ya?” Nah lho, saya mulai tidak senang kalau ada yang membawa-bawa agama. 

Saya: “Iya saya muslim. Memang kenapa?” Saya yakin muka saya jelek banget pas nanya pertanyaan ini. Antara tidak senang, mikirin naik apa dari Kalibata ke Senayan City sampai pengen buru-buru beli makanan.

A: “Assalamualaikum, Mbak. Saya dari Pekanbaru. Mau ke daerah Senayan tapi tidak tahu jalan. Maaf kalau saya mengganggu. Saya bukan orang sini soalnya. Saya dengar di sana ada patung puda. Mbak muslim khan ya? Tahu patung puda? Itu untuk bla bla bla” Saya ngga denger pasti dia ngomong apa dan saya terlalu malas bwt mengkonfirmasi ulang perkataannya. Yang ada di benak saya cuma: lu sebenernya mo ngomong apaan sih. cepetan dikit napa! Mungkin muka saya waktu dia ngoceh itu sudah mulai aneh karena terbengong-bengong nggak tahu harus respon apa.

Saya: “Ah, kalo mau ke Senayan City naik KRL aja! Turun di stasiun Sudirman lalu lanjut busway.” Gantian muka orang itu jadi agak aneh, ngga nyangka saya masih menjawab pertanyaan awal dia tentang cara ke Senayan City.

A: “Mbak bisa tolong tanyakan? Saya bukan orang sini soalnya. Takut salah.. Atau bisa kita tanya ke bapak ini” Dia sambil menyapa seorang bapak yang lewat di dekat kami, sebut saja B.

B: “Gimana, Mas?” Saya terus terang agak lega ada si orang ini. Biar si B aja yang meladeni A. Saya pusing.

A: “Gini, pak. Bapak agamanya apa?” lagi-lagi bawa agama. What the f*ck!

B: “Saya muslim, Mas. Ada yang bisa saya bantu? Sesama muslim kita harus saling membantu, apalagi bulan puasa gini. Ya nggak, Mbak?” Saya masih bengong dan bingung berusaha mencerna apa yang sedang terjadi

Saya: “Iya”

A: “Saya dari Pekanbaru, kakek baru meninggal. Ada peninggalan benda bla bla bla mau saya kembalikan.” Lagi-lagi saya ngga dengar apa nama bendanya.

B: “Oh kalau benda itu bisa dibawa ke museum aja! Di sini ada museum Fatahillah, tapi sekarang ini sudah tutup, Mas.”

A: “Assalamualaikum… Kalau begitu saya bawa ke sana ya. Tapi ke sana naik apa ya” Saya mikir ni orang beneran muslim apa nggak sih. Penempatan Assalamualaikum aja nggak bener.

A: “Atau bisa dibawa ke tempat lain ya. Benda ini bla bla bla” Ziiiink.. maafkan pendengaran saya yang kurang fokus pada omongan dia. Intinya benda ini sakti dan suci gitu lah.

B: “Subhanallah! Itu khan benda yang sangat penting! Peninggalan kerajaan! Iya ga, Mbak? Mungkin bisa juga dibawa ke Dinas Pariwisata, Mas. Kalau ke sana saya bisa anterin” Ajegile, udahlah tadi Senayan, trus Museum Fatahillah, sekarang dia mo ke Dinas Pariwisata! Wah jalan-jalan dulu kita! Tapi saya dengan polos masih berpikiran untung ada Bapak B, jadi bisa nganterin si Mas A ini. Sampai sini sumpah saya masih belum berprasangka macam-macam.

trus B menyambung:

B: “Mas bawa bendanya sekarang? Ada surat keterangannya? Bisa saya lihat nggak?” Bagus nih, biar Bapak B aja yang handle urusan Mas A, batin saya masih dengan lugunya.

A: “Assalamualaikum.. Saya nggak bawa suratnya, Pak. Dann.. ini sebenarnya benda suci, Pak. Saya takut kalau dilihat sembarang orang. Mbak ini ikut saja biar kita periksa sama-sama.” Eeeeeeh tidak bisa!! Suami saya bentar lagi udah mau nyusul dan kita udah mau buka bareng. Masnya tau ngga sih dalam seminggu ini saya dan suami cuma bisa buka bareng selama 2 hari pas weekend doank! Lagian, saya juga belum beli cuminyaaaa!!! Kesel sekalian curcol.

Saya: “Wah sori, Mas! Saya nggak mau ikut-ikut! Lagian saya buru-buru banget sekarang. Sori ya!” Saya langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Mas A dan Bapak B. Siap menyambut cumi idaman.

===================

Sesaat setelah buka puasa, saya penasaran goggling dengan kata kunci ‘modus penipuan mengembalikan benda bersejarah’ dan menemukan postingan di Kaskus dan Blogspot mengenai hal ini. Di sini saya bersyukur banget karena berhasil melepaskan diri dari orang-orang nggak bener semacam mereka.

Advertisements

5 Comments to “Nyaris Ditipu”

  1. Wuii iya pasti penipuan tuh… Si bapak B pasti temen nya…
    Btw iya ya pemakaian assalamualaikum nya gak cocok ya. Hehe

  2. Ngawur amat sik itu pemakaian assalamualaikum nya … Jd ketauan deh klo boong. Iya ini modus yg sering dipAke memang yo. Aku pernah baca ceritanya , TKP di Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: