Archive for September, 2016

September 27, 2016

Bhinneka Video Performance & Bendigo Behind the Scene

Ini dia beberapa foto-foto di belakang stage dan video saat tampil

 

8ac9d851-fa93-4d32-86df-1a1066741bf9_zpstedqnfar

Area make-up

Semua harus dandan sendiri karena tidak ada make-up artist yang bisa mendandani. Sok bisa dikit lah jadinya

245db8d2-0883-4ea3-97cd-6274348b898f_zpsjbuol5xp

Bisa ngga bisa pokoknya sok bisa

Ikat pinggang, sarung dan ikat kepala harus dipeniti erat-erat supaya nggak copot waktu di atas panggung

adf37b2b-b558-4dd7-b192-293513419d9e_zps873at3bz

Ikat kepala harus dipastiin supaya kenceng

Kalau baju sudah rapi, harus dicoba dipake gerak seperti menari untuk mengecek semua sudah terpasang sempurna atau masih kurang kuat ikatannya.

ed576877-2b5d-49d0-80ca-4d36c06d4723_zpsuvjdqb37

Jalan duduk

 

dd77a222-c3b9-4b33-9639-859162694238_zpsha41kmmt

Gladi resik di ruang make-up

 

e61a699a-c7b7-4a6e-a93b-380d86d894e5_zps9puawznd

Yeay!

 

14434893_1596091590687604_414753186416826285_o_zpsgsdncops

Tampil!

 

0c8fc67b-9f3b-4548-b369-69ac7a613144_zpsjma3zgdk

Lega, sudah selesai tampil

 

6960c3f9-cdca-4d11-90ae-7116a2037f1b_zps8owhw9mj

Waktunya makan

 

Photo credit: Celya and Bhinneka team

Video penampilan Saman Bhinneka. Enjoy!

 

 

 

 

Advertisements
September 26, 2016

Saman Bhinneka di Bendigo Thank You Dinner

Sanggar Bhinneka mendapat kehormatan untuk tampil di acara bergengsi: Thank You Dinner. Event ini diadakan oleh komunitas muslim Bendigo sebagai ungkapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam upaya pembangunan masjid. Bendigo, sebuah kota kecil yang berlokasi kurang lebih dua jam berkendara dari Melbourne ini termasuk konservatif.

Iya, pembangunan masjid ini ditentang habis-habisan oleh penduduk sekitar. Katanya keberadaan tempat ibadah ini akan membawa efek negatif bagi kota Bendigo. Tapi untunglah masih banyak pihak yang membantu dalam usaha pembangunan ini. Jadilah pada hari Sabtu, 24 September 2016 lalu digelar acara Thank You Dinner di sebuah hotel di kawasan kota Bendigo.

Acara dimulai sekitar pukul 18.30 malam yang diawali dengan pembukaan, penampilan dari Saman Bhinneka, makan malam dan ditutup dengan pemberian gift sebagai ungkapan terima kasih kepada beberapa pihak yang membantu seperti para lawyer dan pejabat pemerintah setempat.

Seneeeeng banget rasanya bisa ikut acara seperti ini. Apalagi selama kami tampil, para tamu terlihat antusias dan sangat menghargai penampilan kami, terlihat dari tatapan mata mereka selama menyaksikan Sanggar Bhinneka beraksi. Saya agak grogi dan beberapa kali salah gerakan sih, hahahaha.

Seusai tampil, beberapa tamu menyempatkan diri datang ke meja kami untuk sekedar bilang bahwa mereka menikmati penampilan kami. Wuah, hepi banget deh rasanya.

0d5e09c2-c9ca-4bc4-8d69-0c3c1a5f0223_zpsxqmuilyn3c2a5ca5-9eed-4048-be93-2ae0b51c75a1_zps35wsjjha

Sebagai pengisi acara, kami juga dapat kesempatan untuk menikmati makan malam lho. Menunya yummy!

Sedikit tambahan nggak penting: kalau di penampilan pertama saya bulan lalu pakai kostum pink, kali ini saya kebagian warna kuning. Kata suami sih saya lebih cocok pakai baju kuning ini. 7384e2df-e4dd-47e7-9571-771f79383ff3_zpszlecarek

Note:

  1. Video penampilannya belum sempat di-upload ke Youtube. Nanti kalau sudah ada, akan saya update di sini.
  2. Kalau penasaran seperti apa level keseriusan protes masjid Bendigo, silakan klik ini 
September 22, 2016

9 Perbandingan Unimelb vs SU

Kali ini saya ingin cerita sedikit mengenai perbandingan kampus saya dan suami: University of Melbourne (Unimelb) vs Syracuse University (SU). Hal yang dibandingkan cukup random mulai dari mata kuliah, perpustakaan, vending machine sampai kuota printing.

  1. Mata kuliah. Saya dan suami mengambil jurusan yang sama jadi mata kuliah yang ditawarkan di kedua program ya kurang lebih juga sama. Ada Project Management, ICT Infrastructure, Consulting, Governance dan masih banyak lagi. Buat yang kepo, silakan klik link Unimelb dan SU ini untuk tahu kami belajar apa saja. Tapi ya, walaupun sudah ada gambaran mengenai kuliah, terus terang saya agak tertatih-tatih buat bisa catch-up. Belum lagi assignment dan group work yang segambreng itu. Lah terus malah curcol.
  2. Internet quota. Saya lumayan kaget saat tahu kalau di Unimelb ada internet kuota maksimal 1 GB per minggu. Kuota ini akan di-reset setiap hari Minggu. Sependek ingatan saya, SU tidak ada membatasi kuota buat internetan. Hmmm.
  3. Printing quota. Fasilitas printer di kedua kampus tidak disediakan gratis. Saya lupa persisnya berapa biaya print di SU, yang jelas SU agak murah hati di sini karena setiap mahasiswa baru diberi saldo awal 20 dolar buat nge-print, yang sudah termasuk dalam cakupan tuition fee. Sementara mahasiswa Unimelb? Nil!
  4. Keran air minum. Amerika pada umumnya dan SU pada khususnya cenderung royal dalam menyediakan fasilitas air minum, mulai dari di dalam gedung, perpustakaan, sampai di dekat ruang kuliah. Sementara di Unimelb keran air terbatas dan beberapa titik agak tersembunyi.
  5. Harga makanan kecil di vending machine. Cemilan di Amerika murah! Permen, cokelat, cola, semua masih bisa dibayar di bawah 3 dolar, sementara di Unimelb lebih mahal. Ada sisi positifnya sih, saya jadi males jajan di vending machine.
  6. Aturan perpustakaan. Wah, perpustakaan di Unimelb lebih strict. Food is restricted, only no smell and no greasy ones allowed. Sementara dulu di SU, biasanya saya malah membekali suami dengan mie goreng. Tahu sendiri khan kalau mie goreng dibuka pasti aromanya ke mana-mana.
  7. Citation. SU menganut APA citation sementara Unimelb mengadopsi Harvard style. Awalnya agak susah juga membiasakan diri dengan Harvard citation, karena saya sudah terbiasa dengan APA.
  8. Mayoritas murid. Teman suami saya dulu kebanyakan datang dari India sementara teman saya mayoritas Chinese. Ada satu hal lucu yang saya alami. Sewaktu saya bertanya ke teman satu group “Ayo, siapa yang mau presentasi nih?” Mereka otomatis menatap saya. “Your English is better than us.” kata salah satu teman. Suami saya hanya berkomentar simple. “Yang kayak gitu nggak bakal kejadian kalo temenmu India. Mereka malah berlomba-lomba pengen tampil presentasi soalnya buat diri mereka sendiri juga, latihan untuk wawancara kerja.”
  9. Turnitin. Kedua kampus kami sama-sama memanfaatkan fasilitas Turnitin untuk mendeteksi plagiarism. Jadi setiap pengumpulan tugas kami harus upload tugas ke tombol Turnitin yang disediakan di Blackboard. Sejauh ini lecturer saya tidak ada yang mengijinkan mahasiswa tahu berapa persen similarity tugas yang di-submit. Berbeda dengan di kampus suami dulu, di mana setiap kali mahasiswa upload tugas langsung muncul persentasenya. Saya belum tahu sih apakah semua lecturer seperti itu atau hanya lecturer yang saat ini saya ambil yang memilih kebijakan ini. Saya sendiri cukup yakin dengan level authenticity hasil kerja saya jadi tidak terlalu khawatir. Tapi khan kadang penasaran juga, berapa persen sih kemiripan kerjaan saya dengan hasil karya orang lain.

Kira-kira itu sih yang bisa saya ingat. Mungkin seiring berjalannya waktu nanti saya bisa menambahkan poin-poin lain untuk jadi bahan blog posting berikutnya 😀

September 17, 2016

Tentang Kesepian

Post kali ini agak mellow, jenis blog post yang jarang saya buat di sini. Terinspirasi dari perbincangan dengan teman-teman Saman sambil makan malam yang agak terlambat semalam. Masing-masing bercerita soal pengalamannya di bulan-bulan pertama di Melbourne. Namanya juga pindah ke tempat baru, tanpa teman, suasana asing, pasti ada yang terasa kurang pada awalnya.

Saya jadi mengingat-ingat masa yang sama buat saya beberapa bulan yang lalu. Saat itu kondisi saya agak berbeda. Tahun 2012 saya pernah tercerabut sesaat dari comfort zone pindah ke suasana baru yang ternyata tidak kalah comfort-nya. Bedanya saat itu saya tidak sendiri karena konteksnya menemani suami yang sekolah ke Amerika. Ya jelas saja nyaman wong dulu itu bukan saya yang sekolah jadi everyday is holiday :D.

Sewaktu di Amerika saya sangat terbantu sekali dengan adanya suami jadi rasa kesepian tidak pernah ada. Rasanya kalau butuh apapun, ada hal yang mengganjal soal apa saja selalu ada suami yang siap menanggapi kadang dengan serius, kadang juga ya gitu deh.

Saat terasing atas keinginan sendiri untuk kedua kalinya, jujur saja rasanya sedikit gamang. Begitu melepas suami di bandara rasanya kok hati terasa kosong mendadak dan kesepian. Saya merasakan hal itu sampai beberapa hari kemudian, sampai-sampai saya berusaha tiap hari keluar seharian dan baru akan masuk apartemen kalau sudah capek supaya bisa langsung tidur dan tidak merasa sepi.

Kondisi apartemen yang masih belum ada wifi juga tidak membantu sama sekali. Komunikasi dengan suami hanya terjalin lewat Telegram, tanpa bisa video call. Limitasi kuota internet di handphone membuat saya harus mencari wifi gratis kalau mau video call.

Tapi semua itu terbantu dengan adanya Sanggar Bhinneka, klub tari yang saya ikuti saat ini. Teman saya berkomentar bahwa keputusan untuk langsung join di minggu kedua saya menjejakkan kaki di Melbourne besar pengaruhnya pada mental health condition sebagai mahasiswa baru karena di sini saya bertemu teman baru dan langsung sibuk secara fisik.

photo680071495836346789_zpsl4olqe4v

Hal-hal yang suami saya khawatirkan memang betul terjadi sih. Dia khawatir saya akan kesulitan membaca peta dan menentukan arah saat mencapai tujuan baru. Alhamdulillah sampai sekarang kadang saya masih nyasar. Harusnya naik tram ke arah Barat, saya malah ke Timur. Harusnya pas turun tram saya ke kanan, ini malah belok ke kiri. Ya yang begitu-begitu deh. Untunglah selama ini tidak pernah sampai jadi masalah besar.

Teman-teman saya pokoknya sangat menekankan pentingnya langsung punya kesibukan begitu sampai di tempat baru, karena kemungkinan untuk menghadapi masalah kesepian atau merasa sendiri itu cukup besar.

Sebagai penutup, bagi yang ingin mengintip seperti apa sih latihan Saman itu, silakan klik video di bawah ini ya.