Dancing & Happiness

cafb0580-d6ef-4dde-93bb-92839fde4594_zpsn6fdgjxy

Saya belum menemukan padanan kata yang artinya semanis ‘dancing and happiness‘. ‘Menari untuk bahagia’? Atau ‘Temukan bahagia dengan menari’? Kok kedengarannya malah wagu, bukan bahasa saya sama sekali. Ah sudahlah, toh itu juga hanya judul.

Saya kenal tari sejak usia 6 tahun, dikenalkan oleh orang tua saya pada tari Pendet dan tari Serimpi. Jangan tanya sekarang, sudah lupa semua karena saya dulu malas latihan. Sekarang saya malah agak menyesal kenapa waktu kecil ogah-ogahan diantar ke sanggar tari.

6c8c52a7-8c7a-499a-acb5-12c57c42a959_zpsvcbuexzb

Fast forward ke 28 tahun kemudian, ternyata di kantor ada klub menari. Iseng-iseng saya daftar dan latihan. Ternyata saya suka! Sempat belajar tari Lenggang Nyai dan tari Enggang, saya keburu pindah ke Melbourne. Saya bersyukur sekali memilih kota ini, karena ternyata di sini ada Bhinneka, sanggar tari Indonesia. Melalui Bhinneka saya bisa belajar tari Saman, bahkan saya sudah ikut dua kali tampil di bulan ketiga saya di sini.

14434893_1596091590687604_414753186416826285_o_zpsgsdncops

Menari, berdasarkan pengalaman pribadi saya memang membuat senang. Tapi bukan berarti menari tidak melelahkan lho, justru sebaliknya. Setiap habis latihan tari rasanya lapar, bahkan di awal-awal latihan rasanya badan seperti mau rontok dan susah berjalan. Belum lagi memar-memar di paha, lutut dan beberapa bagian tubuh lain. Semua capek dan lelah itu terbayar saat tampil, terutama melihat respon penonton yang antusias dan terhibur melihat penampilan kita.

Berdasarkan hasil penelitian di beberapa negara katanya menari itu memang berkaitan erat dengan happiness karena bagus untuk interaksi sosial, latihan konsentrasi dan juga meningkatkan percaya diri, terutama setelah kita menguasai gerakan baru. Pada dasarnya semua aktivitas fisik mulai dari olahraga ringan, lari sampai dengan balet merangsang tubuh untuk menghasilkan endorphin, hormon yang membuat kita senang, bahagia dan bahkan bisa membuat lupa akan rasa sakit.

Menurut artikel yang saya baca sih, any dances will do, jadi sebenarnya jangan ragu untuk mulai menggerakkan badan sekedar ikut irama lagu. Toh yang penting badan goyang, hati pun senang, iya khan?

Reference:

  1. https://www.psychologytoday.com/articles/200703/dance-therapy-spin-control
  2. https://www.psychologytoday.com/articles/201007/mind-your-body-dance-yourself-happy
Advertisements

9 Comments to “Dancing & Happiness”

  1. Penyesalan memang selalu terlambat ya N1ng, saya pas kecil pernah ikut les nari bali, ya sama spt kamu saya ogah2an. Menyesalnya pas sdh dewasa melihat org lain bisa ko ngiri banget. Bedanya N1ng masih bisa ikutan klub klo saya sih sdh berlanjut malasnya hahaha.. Paling ntar pengen ngembleng anakku aja utk ikut 1-2 kursus seni walaupun nantinya nih bocah ga suka pasti pas dewasa dia ngerti kan yaa 😀 .

  2. Mbak, Mama saya juga hobby menari. Terutama tari2 traditional Jawa dan Bali. Sayang saya ga bisa menari. Hahaha. ..
    Baca tulisan ini, jd ingat teman dekat saya dari Peru… dia nyari club tari di Leuven, krn dy butuh menari sbg relaksasi… menari adalah bagian kehidupan bagi warga Amerika Selatan.

  3. mantap ini lanjutannya yang kemarin ya..hobby jenengan ternyata menari2 ya
    keren dan berprestasi hehe

  4. salut mbaaa!! kalo aku orgnya kaku, boro-boro nari…ikut senam aerobic aja suka gak sinkron gerakannya :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: