Hoarding Disorder

Dulu saya termasuk hoarder, sebutan untuk si penimbun. Banyak benda yang saya simpan atas nama kenangan. Catatan jaman kuliah, materi kelas dari dosen, soal-soal kuis sampai dengan draft skripsi saya simpan. Tiket nonton bioskop pertama terselip rapi di agenda saya. Minutes meeting di rapat pertama yang saya ikuti masih ada di lemari. Buku yang tak akan pernah saya baca ulang sengaja saya taruh di lemari khusus. Sampai dengan pada suatu saat saya merasa kok kamar sumpek sekali. Banyak barang!

20150816_172436_zpsnwlcjirp

rumah mungil saya

Setelah menikah saya tinggal di sebuah kamar kontrakan yang mungil sampai beberapa tahun kemudian saya kembali tinggal di hunian super duper imut. Di sinilah saya sadar untuk selektif dalam menyimpan barang. Iseng, saya cari tahu soal kebiasaan ini yang ternyata kalau sangat parah bisa sampai dikategorikan kelainan: hoarding disorder. Kelainan ini biasanya disebabkan oleh ketakutan berlebihan atas suatu benda yang dianggap berharga atau karena nilai kenangan benda tersebut.

Benda yang ditumpuk oleh hoarder biasanya macam-macam, bisa koran, majalah, kertas, dus, foto sampai perabotan. Ciri-ciri yang sudah mulai mengkhawatirkan:

  • Enggan membuang benda, apapun itu. Kalau mau menyingkirkan sesuatu rasanya gimana, gitu.
  • Benda yang dikumpulkan ditaruh, tapi kemudian lupa ada di mana. Nah lho!
  • Merasa eman-eman terhadap benda yang dimiliki. Rasanya semua punya kenangan di baliknya.
  • Bawaannya curiga kalau ada yang pegang-pegang bahkan kadang sampai ada yang obsessive banget. Sedikit-sedikit periksa tempat sampah, khawatir jangan-jangan ada yang tidak sengaja terbuang.
  • Lama kelamaan barang yang ditumpuk jadi menggunung. Pada beberapa kasus bahkan sampai mengakibatkan pemilik rumahnya susah berjalan saking banyaknya benda yang disimpan.

Menikah, pindah ke Amerika, tinggal di apartemen Kalibata City dan pada akhirnya sekarang mendarat di Melbourne, saya selalu tinggal di tempat mini. Mau tidak mau harus pintar-pintar menyusun barang dan juga memutuskan apa saja yang mau disimpan dan apa yang disingkirkan.

Cara yang saya terapkan:

  1. Seleksi berdasarkan expiry date. Berlaku untuk makanan kering, bumbu dapur, obat-obatan dan juga kosmetik.
  2. Jelek? Simpan di laci atau buang. Hal ini bisa diaplikasikan untuk pajangan, tumpukan kertas, buku bahkan sampai bumbu dapur.
  3. Tidak pernah dipakai selama setahun terakhir? Sumbangkan saja. Diterapkan untuk pakaian, terutama kalau kondisi badan berubah entah karena makin kurus (halah, maunya) atau sebaliknya, baju sudah tidak muat.
  4. Beli sepatu agak mahal. Hitung berapa kira-kira harga sepatu itu per pemakaian. Contohnya: saya sengaja pilih sepatu Skechers yang harganya 600 ribu rupiah tapi bisa saya pakai setiap hari. Literally. Saya pakai sepatu ini ke kantor, ke mall bahkan sampai ke Melbourne juga saya pakai tiap hari ke kampus. Berapa harga per pemakaian? 600.000: 365 = 1.643. Murah ya!
  5. Masih kaitannya dengan poin 5, untuk jenis alas kaki lain saya menetapkan batasan masing-masing hanya 1 pasang. Saat ini ada 1 sepatu jalan, 1 sepatu resmi, 1 sandal kondangan, 1 sepatu olahraga dan 1 sandal jepit. Total: 5 alas kaki. Ini berlaku di Indonesia. Kalau di sini saya malah hanya punya 1 sepatu Skechers untuk sehari-hari dan 1 sandal jepit untuk di kamar mandi.
  6. Baju pergi saya maksimal hanya 12 lembar atasan. Jadi harap maklum kalau sehari-hari saya seperti tidak ganti karena itu-itu saja yang dipakai, hehehe. Toh yang penting baju yang dipakai selalu bersih.
  7. Pindah ke apartemen atau rumah yang ukurannya mini. Tempat tinggal saya saking kecilnya, semua harus serba compact dan fungsional. Bayangkan, apartemen saya di Kalibata menggabungkan 4 fungsi ruang jadi 1: ruang tamu + ruang keluarga + dapur + ruang makan. Kalau perabotan dan furniture tidak ditata cermat, bisa dibayangkan khan hasilnya seperti apa.
  8. Punya benda kenangan dari almarhum keluarga boleh, tapi usahakan yang bentuknya kecil dan mudah disimpan. Saya hanya menyimpan giwang pemberian Mama dan korek api gas milik Papa. Benda-benda lain seperti baju, mayoritas sudah diberikan ke beberapa orang.
  9. Beli makan take-away dari Solaria? Buang saja kotaknya. Bentuknya memang bagus, sayang untuk dibuang dan mungkin ada alasan tak mau mencemari lingkungan. Tapi kalau setiap kotak makan restoran  disimpan, lama-lama dapur berubah jadi tempat penyimpanan kotak makan.

Semua langkah itu biasanya saya lakukan ulang setiap sebulan sekali. Kadang tanpa saya sadari, masih ada saja sisa kebiasaan sayang-sayang barang yang tertinggal. Begitu sudah sebulan dan terasa gerah baru merasa kok sumpek ya. Kalau sudah begini berarti sudah saatnya untuk melakukan sortir ulang benda-benda yang mungkin sudah waktunya pindah kepemilikan, hehehe.

Advertisements

8 Comments to “Hoarding Disorder”

  1. No 5&6 yg masih susah. Kurangin trus masukin lagi 😌

  2. mba itu foto rumah di Melb apa Jkt? kereeeen 🙂
    ini juga masih PR akuuu terutama 5, 6, sama 9 maklumlahh ada wadah bagus2 suka sayang kalo dibuang hihihi

  3. Mbaaak, rumahnya lucu!

  4. Nice mak. Buat evaluasiku juga.

  5. baru tahu sebutan penimbun kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: