Archive for November, 2016

November 29, 2016

Sri Lankan Night

“Kamu mau nari lagi? Aku kok jadi bingung ya sama jadwalmu.. Seminggu nari berapa kali sih?” itu kata suami saya waktu saya kecentilan kirim foto selfie dengan kostum tari Piring (lagi).

 photo b56fca27-3400-4126-8cdc-d90abe7dc5ea_zpspcjz5os0.jpg

Iya, Bhinneka lagi laris dengan 4 tawaran tampil di minggu yang sama. Setiap kali ada tawaran manggung, mbak Miranda sebagai penanggung jawab Bhinneka selalu buka lowongan untuk diisi oleh para peminat. Entah kenapa, performance hari Sabtu malam hanya diisi dua orang, padahal tari Piring itu bagusnya ditarikan dengan jumlah ganjil. Jadilah saya mengajukan diri untuk mengisi posisi di tengah-tengah. Nambah pengalaman deh jadinya 😀

Lokasi tari kali ini ada di Oakleigh, kota kecil berjarak sekitar 35 menit perjalanan dengan kereta dari Melbourne. Berhubung saya tuh jarang keluar rumah, jadi seneng-seneng aja kalau ada kesempatan nari di luar kota begini. Bisa naik kereta sambil tengak-tengok keluar jendela, trus begitu sampai di stasiun tujuan juga bisa jalan sambil lihat-lihat kota.

Acara tempat Bhinneka perform kali ini semacam malam keakraban Sri Lanka gitu deh. Dibuka dengan tari tradisional mereka, dilanjut dengan tari Piring dari Bhinneka dan satu tarian lagi yang saya lupa dari mana. Lokasi acara ini kecil tapi menarik, lengkap dengan bola lampu disko. Kebayang ga sih tari Minang dengan lampu dugem gitu? Ya kurang lebih seperti foto di bawah ini lah.

 photo IMG_3030_zpswxbjndep.jpg

Selama performance berlangsung saya nyaris kena wardrobe malfunction gara-gara tanduk di kepala kena tangan sendiri, huhuhu.. Jadi sepertiga sesi menari sudah kurang fokus gara-gara khawatir “duh, tandukku aman ga nih”. Alhamdulillah sih masih terpasang dengan manisnya di kepala.

Selesai nari, saatnya foto-foto doooonk, hehehe.

 photo IMG_3026_zpspujrqhw1.jpg

Advertisements
November 28, 2016

Tari Piring di AASC Farewell 2016

Perkenalkan, ini ada cewek Jawa yang menyamar jadi gadis Minang 😀

 photo IMG_2963_zpsc5lcarr2.jpg

Jum’at sore, 25 November 2016 lalu Bhinneka diundang untuk mengisi acara farewell AAS (Australia Award Scholarship) di University of Melbourne. Untuk latihannya sendiri memakan waktu kurang lebih 6 minggu, mulai dari belum exam, saat exam sampai exam selesai tuh latihannya, lumayan lama ya. Iya, pertama kalinya saya perform tari Minang di depan umum, pake piring pula.

 photo IMG_2967_zpsn3xorltu.jpg

Persiapan untuk tari Piring jauh lebih rumit ketimbang tari Saman karena kostumnya saja sudah lebih rame, mulai dari kain yang dililit, baju atasan yang penuh pernak-pernik, bib emas yang rawan nyangkut, sampai dengan tanduk yang rentan tersenggol tangan sendiri.

Total waktu yang dibutuhkan untuk persiapan 6 penari mulai dari make up muka, lilit kain, pakai baju dan pasang tanduk mungkin sekitar 3 jam. Kemarin kami hanya punya waktu 2 jam dan itu rasanya masih ada yang kurang sreg.

Special thanks nih untuk Lia yang bela-belain datang untuk bantu kami dandan dengan alasan “iya soalnya semua yang nari hari ini khan baru pertama kali nari Piring jadi belum tahu gimana pakai kostumnya.”  Memang bener banget sih, semua butuh bantuan karena clueless pas lihat kostumnya itu harus digimanain 😀

 photo IMG_2971_zpsgzxn388v.jpg

 photo IMG_2972_zpsq8vadqos.jpg

Berhubung semua penari saat itu first timer, jadilah setelah perform (yang Alhamdulillah sukses) masih pada norak foto-foto di mana-mana, hihihi.
 photo IMG_2978_zpsvsquymgj.jpg

 photo IMG_2979_zpssls7vugk.jpg

Jadi gimana kesannya setelah perform? Seneng abis! Apalagi setelah lihat video-nya yang ternyata cantik. Ini asli sedikit ge-er sih, mohon dimaklumi ya 😀

November 22, 2016

Hari Tari

Pagi: tari Saman. Sore: tari Piring. Cocok khan kalau saya sebut tema hari Senin kemarin sebagai hari tari 😀

10c2f7b4-46c5-4211-8c15-0339e4aa2aab_zpsu2ohtjtd

Sanggar Bhinneka Melbourne, organisasi yang saya ikuti, kebetulan cukup laris ditanggap untuk manggung. Kadang untuk perform biasa, kadang juga workshop. Bedanya perform biasa dengan workshop: kalau perform, kita hanya tampil menari sekali lalu sudah. Workshop beda lagi, biasanya diadakan di sekolah-sekolah, bisa Primary atau Secondary school.

Urutan workshop: diawali dengan penampilan Saman dari tim Bhinneka, sedikit penjelasan mengenai Indonesia, kebudayaan Indonesia, tari Saman dan sesi tanya jawab, disambung dengan mengajarkan gerakan-gerakan sederhana dan ditutup dengan performance dari anak-anak sekolah berdasarkan gerakan yang sudah diajarkan. Itu untuk satu sesi yang waktunya berkisar antara 30-50 menit. Kadang beberapa undangan workshop meminta kami untuk mengajar lebih dari satu sesi, bahkan pernah sampai 8 sesi! Pulang-pulang badan saya terasa rontok semua.

Hari Senin kemarin kebetulan ada undangan workshop lagi di Mercy College, sebuah sekolah Katolik khusus perempuan. Berdasarkan pengalaman dari beberapa workshop, biasanya murid perempuan lebih antusias kalau melihat kami tampil. Kali ini pun demikian, selama tim Bhinneka tampil, wajah mereka terlihat serius. Sayang saat itu saya tidak bisa ikut sesi mengajar karena pusing gara-gara masuk angin.

Workshop berlangsung dari pukul 9.30 – 11.30, workshop tersingkat yang pernah saya ikuti. Setelah makan siang, istirahat dan ngopi-ngopi sebentar, sorenya saya ketemuan lagi dengan tim Bhinneka untuk… latihan Tari Piring!

Ini pertama kalinya saya bakal perform tari Piring, jadi cukup semangat dan agak nervous. Gerakan tari Piring yang terlihat tidak menguras energi itu pada kenyataannya cukup bikin ngos-ngos-an lho. Belum lagi konsentrasi untuk menjaga piring tetap stabil, mengingat urutan gerakan tari, melakukan gerak tari yang harus tegas tapi tetap anggun. Beda banget dengan Saman yang penuh pukul-pukul badan :D.

Saya kebagian perform tari Piring di acara Australia Award Scholarship (AAS), hari Jum’at 25 November sore mendatang dan acara SriLankan Night hari Sabtu, 26 November malam.

Wish me luck!

November 19, 2016

Unimelb Exam

Apa sih menariknya ujian kok sampai dijadikan bahan blog post segala. Pertama: terakhir kali saya menjalani ujian akhir semester itu sekitar 13 tahun yang lalu. Alasan kedua: ini adalah exam pertama saya di sini. Ketiga: yang namanya exam procedure di sini ternyata beda banget dengan di Syracuse University, tempat suami saya sekolah dulu. Lalu yang terakhir dan paling penting: saya lagi kosong ide untuk di-post jadi ya udahlah ya ini aja yang ditulis.

Beberapa minggu lalu saya mendapat notifikasi bahwa jadwal ujian sudah bisa dilihat di akun masing-masing. Sampai dengan saat itu saya masih mengira yang namanya ujian akan dilangsungkan di teater tempat saya kuliah sehari-hari.

img_2424

Begitu saya cek ke akun saya, hmmm.. ada yang mencurigakan nih.

photo680071495836347057

Kok saya nggak kenal ‘Building Name’-nya ya? Trus kenapa di setiap mata kuliah ada kolom ‘Seat No’? Mencurigakan. Kalau ujiannya di teater apa bisa dikasih nomor? Mulai googling-lah saya. Lalu ketemu gambar di bawah ini.

capture3

Astaga, ini serius ujiannya di ruangan begini? Makin terkonfirmasi setelah ada yang gambar di bawah ini, yang menurut caption fotonya adalah suasana dalam ruangan ujian di tahun 1983 vs 2016.

Ternyata lokasi ujian berada di Royal Exhibition Building, semacam JCC-nya Jakarta yang biasa disewa kalau ada acara khusus. REB ini merupakan bagian dari Melbourne museum jadi interiornya artistik, walaupun keindahannya tidak bisa dinikmati selama ujian. Wong lagi nervous mau ujian, mana sempat tengak-tengok ngeliatin ukiran tiang, misalnya.

capture

Berasa kayak EBTANAS atau UMPTN nggak sih? Ngomong-ngomong, dengan menyebut-nyebut ‘EBTANAS’ dan ‘UMPTN’ sebenarnya saya membuka aib umur 😀

Jadi ini dia rangkuman perbedaan ujian di Unimelb versus SU:

  1. Lokasi ujian bukan di ruang kuliah. Nggak ada tuh yang namanya ruang kelas sehari-hari dijadikan tempat ujian. Sementara di SU, ujian dilakukan di ruang kelas, duduknya bebas dan bahkan kadang tidak terlalu diawasi.
  2. Ada nomor kursi khusus.
  3. Seluruh mahasiswa berbagai jurusan dan tingkat dicampur jadi satu. Sebelah kanan dan kirimu bisa saja anak undergrad yang sedang ujian open book, sementara dirimu closed book. *melirik iri*
  4. Waktu! Waktu! Waktu! 15 menit pertama adalah reading time di mana megang pulpen pun diharamkan. Saya kena tegur lho cuma gara-gara pegang pulpen selama reading time. Begitu ujian selesai pun pulpen mendadak jadi benda terlarang. SEMUA alat tulis tidak boleh berada dalam genggaman.
  5. Tidak boleh bawa tas atau tempat pensil ke dalam ruangan. Lho terus pensil ditaruh di mana? Peralatan tulis menulis dan keperluan lain harus dimasukkan dalam plastik dan diletakkan di atas meja. Bahkan jam tangan juga tidak boleh dipakai di tangan, harus dimasukkan ke dalam plastik. Saya sih waktu itu pakai ziplock. Iya, ziplock yang buat wadah makanan itu selama ujian berubah fungsi jadi tempat pensil. Sementara kalau bawa tas harus diletakkan di trunk yang disediakan di luar ruang ujian.

Riweuh ya. Saya kurang tahu sih bagaimana prosedur ujian di universitas lain di Australia. Setiap saya komplain soal kenapa ujian di kampus saya dan kampus suami kok sangat berbeda, tanggapannya santai: “ya jelas ajalah wong kampusmu masuk 50 besar gitu.”

Note: foto diambil dari akun Instagram Unimelb.