Tentang Ngatur Uang

“Gimana ceritanya kok bisa uangmu ludes begitu. Padahal gaji kita sama..”

Gitu kata suami waktu pas masih pacaran dulu. Jelas dia tau berapa uang yang saya terima per bulannya, wong dulu kita sekantor. Tapi yaa ternyata nominal pemasukan yang sama ngga jamin jumlah tabungan juga sama *keluh*.

Darurat, mungkin istilah yang tepat buat nggambarin keuangan saya waktu mo nikah. Ga parah-parah banget sebenernya, tapi dibandingin sama tabungan (yang waktu itu masih calon) suami, pundi-pundi saya itu bagaikan celengan ayam. Bisa ditebak, ngga usah pake rundingan dulu, masalah uang dan pencatatannya di-handle oleh suami. Khan katanya “serahkan suatu masalah pada ahlinya”. Ya ga? Ya ga?

Transaksi Harian. Jauh sebelum nikah, suami udah punya metode rapi buat nyatet every single cash in/cash out. Begitu ada saya, bukannya jadi lebih sederhana karena ada yang bantuin nyatet, dia malah tambah pusing. Pencatatan yang dia lakukan jadi ketambahan transaksi kecil-kecil semacam: jajan di Indomaret, beli cokelat di warung, beli gorengan pinggir jalan, yang gitu-gitu deh. Beda banget pas sebelum nikah, di mana pencatatan suami isinya cuma yang penting-penting semacam makan siang, makan malam, beli bensin.

Yakin deh kalo suami baca ini pasti saya trus disembur “Ya pantes aja uangmu habis. Wong isinya jajan.”
 photo photo_2017-06-23_22-42-41_zpsx1e0m2xf.jpg

Investasi. Nah ini dia nih alasan utama saya bikin blog post ini. Beberapa hari yang lalu Cici, teman kantor lama dulu, nanya-nanya tips seputar investasi. Tiba-tiba dia WA langsung ngeberondong pertanyaan “Masih beli reksadana ga? Belinya lewat apa? Ooo sekarang beli saham? Caranya gimana? Milih saham apa yang mau dibeli gimana?”

Sebenernya sih yang bisa dan ngerti jawabin soal ini ya suami saya. Berhubung dia orangnya males, jadi akhirnya saya nulis soal pengelolaan investasi ini sejauh yang saya tahu. Setelah draft tulisan jadi, saya kasih ke suami buat dicek udah bener apa belum. Hasil yang di-post kali ini udah lolos check dan re-check dari suami. Jadi ketahuan deh kalo saya ngga tau apa-apa soal ngelola keuangan rumah tangga.. Hahaha.

Ditanya soal investasi, bisa dibilang saya dan suami nerapin prinsip ngga naruh semua telur dalam satu keranjang jadi ada yang berupa aset bergerak, ada juga yang tidak bergerak. Tapi di sini yang bakal dibahas cuma dua macam aja: reksadana dan saham.

  1. Reksadana. As a childless couple, our investment mainly focus on retirement planning. Jadi mungkin ngga bisa disamakan dengan yang punya anak dan berencana mau siapin dana kuliah anak. Makanya jenis investasi yang diambil ya terbilang cukup agresif: reksadana saham. Walaupun benernya sejak sebagian besar rekening reksadana dicairin, kami cuma punya DPLK sebagai satu-satunya reksadana saham saat ini. Dulu kami sempat bobok celengan reksadana buat renovasi apartemen Kalibata. Suami saya berpendapat bahwa investasi reksadana saham sebenarnya sama aja dengan investasi di saham langsung. Satu-satunya yang tersisa sekarang ya cuma DPLK BRI atas nama saya. Punya ini saat masih single dulu, pas mulai udah sadar kalo perlu memaksa diri buat investasi dan mengingat ada fasilitas autodebetnya tiap bulan dari rekening tabungan jadilah langsung buka akun DPLK deh.
  2. Saham. Ini juga dikelola sama suami saya, menggunakan layanan sekuritas dari Mirae. Kenapa menggunakan layanan dari sekuritas ini? Karena pada saat suami mulai tertarik investasi saham medio 2007-2008 itu, cuma sekuritas inilah yang menyediakan fasilitas brokerless dan menyediakan aplikasi desktop yang bisa dipakai buat langsung terjun investasi saham (dulu masih dengan nama e-Trading). Sekarang sih hampir semua sekuritas sudah brokerless dan punya layanan aplikasi mobile buat beli atau jual saham jadi bisa dipilih-pilih, macam Mandiri, IPOT, dan lain-lainnya. Mungkin ada lagi pertanyaan “Milih sahamnya gimana? Berdasarkan apa?” Kalo kita berdua sih (jiah.. kita berdua. wong benernya yang beli juga suami, saya mah ga ikutan) sepakat kalo tujuannya khan buat investing, not trading, lebih suka milih saham-saham blue chip jadi pilihan tempat investasi. Metode suami saat berinvestasi biasanya begini: dia akan menghitung dulu sisa saving dari bulan lalu itu berapa. Hasilnya kemudian dibagi dengan jumlah minggu sampai gajian bulan berikutnya. Nominal akhir yang didapat kemudian dibelikan setiap minggunya saham blue chip yang lagi dia pengen saat itu, sembarang aja, tergantung insting. Adakalanya juga si kalo dia pas nemuin saham yang dipunya ternyata sudah untung sampai margin tertentu (biasanya 35-50%) terus dijual buat nambahin modal beli-beli lagi. Tergantung apa? Lagi-lagi tergantung insting hihihi.
    Tambahannya lagi, karena sekarang semua deposit yang dipakai untuk investasi saham harus disimpan dalam rekening investor, maka setiap rupiah yang belum kepakai juga akan dapat bunga selayaknya kalo disimpan di tabungan biasa. Lumayan juga kan?

Trus sejauh ini gimana hasilnya? Namanya juga investasi ya, kadang emang harus tutup mata pas lihat ternyata pertumbuhannya negatif. Tapi so far sih memuaskan, asal jangan semua ditaruh di tempat yang resiko tinggi kayak reksadana dan saham. Buat jaga-jaga, kami masih tetep nyimpen dalam bentuk lain yang lebih konservatif kok.

Sekarang sih suami ngga bisa nyela-nyela saya lagi. Soalnya tiap dia mo nyindir trus saya berkelit: “Uang suami adalah uang istri. Uang istri ya uang istri.”

Habis itu dia nginyem.

Advertisements

2 Comments to “Tentang Ngatur Uang”

  1. Eling Giant-nya Doraemon: “Punyaaaamuu (mainanmu) ya punyaku jugaaa…. punyaaakuu? Ya punyaku sendiriiii….” btw aku jg sejak bbrp thn terakhir kok jd ga tlalu pinter ngatur doku. Makanya suamipun bela2in beli aplikasi YNAB buat ngatur budget keuangan keluarga, at least duit yg kupegang sendiri.

  2. Hahaa dimana2 kayk gt ya. Duit istri yah duit sendiri ajaaaa bebas dipake utk apapun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: