Archive for ‘family’

February 26, 2017

Dispute Pedekate

Siang ini pas lagi sibuk-sibuknya beraktivitas tiba-tiba suami saya kirim message di Telegram, ngingetin kalo hari ini hari ulang tahun pernikahan ke-5. Ga kerasa kok tiba-tiba udah lima tahun aja ya. Rasanya baru kemarin masih jadi cewek single yang di-PDKT-in.

Ngobrolin soal pedekate ini sebenarnya terjadi dispute antara kami berdua soal gimana sih kejadian sebenarnya. Kejadiannya kurang lebih gini:

 photo 4C4C5CEE-EE82-4B00-A833-BE69CECAD1B6_zpsnee2kjmf.jpg

Bukan iPod saya. Pokoknya iPod yang begini ini deh yang jadi bahan awal obrolan

Suami saya entah gimana awalnya ujug-ujug nanya soal iPod. Kebetulan di antara temen-temen waktu itu, masih jarang yang punya iPod jadi waktu itu dia nanya soal belinya di mana, garansinya gimana trus asik ga kalo punya iPod. Obrolan lanjut ngalor ngidul dan sampai pada titik suami cerita kalau dia merasa masih ada yang ga beres dengan kesehatannya dan pengen check up jantung di RSJP Harapan Kita.

Cerita versi saya dan suami masih sama nih sampai di sini. Perbedaannya ada di penggalan berikut.

Versi saya

Suami: “Aku dapat jadwal periksa di Harapan Kita nih Sabtu pagi. Mau nemenin ga?”

Saya: “Boleh deh” Toh saat itu juga saya lagi ga ada kerjaan.

Versi suami

Suami: “Aku dapat jadwal periksa di Harapan Kita nih Sabtu pagi.”

Saya: Mau aku temenin ga?”

Suami: “Hmmm… gapapa?

Lhaaaaaa… Satu kejadian aja bisa dua versi begitu 😂. Sampai sekarang tidak ada kata sepakat tentang hal ini. Dari saya: “Ga mungkinlah aku nawarin buat nemenin wong dulu aku takut sama kamu. Ekspresimu datar mulu. Medheni.” Note: medheni itu artinya menyeramkan.

Sedangkan dia berkilah kaya gini: “Ga mungkin aku ngajak cewek yang baru kenal jalan ke Rumah Sakit. Lagian emang ada ya yang ngajak kencan cewek ketemu dokter? 😓  Plus kamu kan pelupa. Ga inget yang begitu-begituan. Ulang tahun pernikahan aja lupa, apalagi yang udah lewat hampir 8 tahun”. Tentu saja, sambil ketawa-tawa usil.

Apapun kejadian yang sebenarnya, kunjungan ke Rumah Sakit hari itu berujung ke tanggal ini lima tahun yang lalu, sampai ke sekarang dan semoga terus lanjut ke tahun-tahun berikutnya. Looking forward to spending the rest of my life with you, having a blissful marriage with you! Happy 5th anniversary!

September 5, 2015

Selamat Jalan, Papa..

… selamat berjumpa kembali dengan Mama..

Papa pernah berkata bahwa keinginan beliau adalah pergi dengan tenang, cepat, tanpa sakit dan tidak menyusahkan orang lain, terutama anak-anaknya. Alhamdulillah, saya harus bersyukur bahwa keinginan beliau dikabulkan walaupun hal ini menyisakan shock bagi saya dan adik-adik.

Sabtu, 15 Agustus 2015 saya upload foto berikut di Facebook

papa

Seminggu kemudian saya kembali share foto tersebut

papa2

Sesuai dengan yang saya tulis di Facebook, saya sekeluarga baru saja berkunjung ke rumah adik Papa di Bandung untuk menjenguk Om yang sakit. Kunjungan ke Bandung itu memang diusulkan oleh Papa. Selama perjalanan tersebut Papa terlihat biasa saja. Tetapi belakangan kalau saya ingat-ingat lagi, Papa memang banyak bercerita soal masa kecil saya, hal yang hampir tidak pernah beliau lakukan sebelumnya.

Sabtu, 22 Agustus 2015 pagi, saya menganggap hari itu akan berjalan seperti biasa. Paginya bahkan saya sempat mengirim progress update project yang saya handle di kantor dan sempat posting blog segala. Pukul 11.20 saya ditelepon adik untuk segera datang ke Rumah Sakit.

Long story short, Papa meninggal karena serangan jantung. Beliau jatuh saat sedang duduk di meja makan dan segera dibawa ke Rumah Sakit sekitar pukul 11 WIB. Saat itu beliau masih sadar sepenuhnya, bahkan berkomunikasi sendiri dengan dokter untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Menurut dokter tiba-tiba Papa kelelahan dan langsung dibaringkan di IGD untuk mendapat tindakan.

Pukul 12.20 WIB beliau tiada

Seumur hidup saya, Papa tidak pernah dirawat di Rumah Sakit. Tidak pernah sakit berat. Tidak pernah operasi, bahkan operasi ringan sekalipun. Tidak pernah butuh bantuan orang lain untuk beraktivitas. Saya shock berat saat tiba di RS dan melihat kondisi beliau yang sedang menerima tindakan. Masker oksigen di wajahnya, dokter dan perawat di sekelilingnya sedang mengoperasikan alat kejut jantung… dan yang tidak saya lupa adalah bunyi datar di alat monitor jantung. Sampai saat ini adegan tersebut masih terputar di ingatan saya, seakan saya adalah penonton yang tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi kekagetan saya belum seberapa dibanding adik bungsu saya. Kukuh, adik saya itu kebetulan sedang liburan semester dan berencana ikut kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Sebelum ke Kediri dia mampir ke rumah saudara di Tulungagung. Dia berangkat Jum’at siang dan sampai di Tulungagung pada Sabtu Subuh. Sabtu pagi itu dia masih bercanda dengan Papa di telepon. Siapa sangka Sabtu siangnya Papa meninggal dunia.

Di antara kami empat bersaudara mungkin yang paling terpukul adalah Kukuh. Bukan hanya karena ia anak bungsu yang 9 tahun lalu kehilangan Mama di usia 11 tahun, tapi juga karena faktor kedekatannya dengan Papa. Bisa saya bilang, ia anak kesayangan Papa. Saking sayangnya, istilah orang Jawa, Kukuh itu ditilapno oleh Papa.

Ya, Papa berpulang sesuai dengan keinginannya. Teman-teman beliau bahkan berkata bahwa mereka iri pada Papa. Mereka sendiri pun ingin seperti itu, berangkat dengan cepat dan sama sekali tidak menyusahkan.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un… Selamat jalan, Papa.. Selamat berkumpul kembali bersama Mama.

Bagi teman-teman yang membaca posting blog ini, saya mohon doa untuk beliau semoga diberikan tempat terbaik di sisiNya dan diampuni segala kekeliruannya. Terima kasih ya 🙂

Tags:
October 16, 2012

Your Favorite Childhood Games

Reading this post reminds me about my childhood. I and my brothers usually went play outside. There are numerous games that we enjoyed. Many of which you likely played during your own childhood :D. What game did you play the most then? Mine are:

  1. Tak Benteng. This is a defend and attack game. Players are divided into two groups then they have to defend their own specific symbol (usually a tree or a pole) from being invaded by opponent group. But you have to make sure none touch you or you’ll get arrested then.
  2. Karet. Player has to put their best effort to pass rubber strap hold by two person.
  3. Jamuran. This is a very silly game, but I really really loved this one! It’s difficult to explain how this game works. Anyone care to help?
  4. Gobag Sodor. Similar as tak benteng, gobag sodor is a defend and attack game. This is a crazy and extremely exhausted game. Point of this game is blocking opponent and escape from the rectangular area (yes, we draw the line in the ground). Rules of this is one group being keeper and another as attacker. The defender group have to move in certain line and try as hard as possible to frighten away attacker from entering that area specified before.
  5. Chess. Having three brothers and no sister urged me to play such a masculine games.
  6. Spica & Sega. What else I can say? Our friends played that kind of video games, so did we.

kids are playing karet

Tags:
August 15, 2012

Lucunya Suamiku

Sambil benerin kabel laptop yang menggulung kriting tak karuan suamiku nggerutu

“Aku bisa bayangkan hidupmu tanpaku. Kabel laptopmu tetep mbundet ga karuan!”

……

Tags: