Archive for ‘food’

November 17, 2017

Dimasakin Makan Malam

“I’ll cook for you. Come to my place then I’ll make curry with chili and cheese. And you can try wearing my dress also.”

Begitu jawaban Sonam, teman sekelas saya yang berasal dari Bhutan pas ngobrol di tengah-tengah break kelas. Iyah, fokus saya kalo ngobrol sama temen bangsa lain itu bukannya cuaca, politik atau hal-hal penting lainnya. Tapi saya lebih sering nanya

“Makanan apa yang khas dari tempatmu?” 

20171116_2014411.jpg

Sonam ini salah satu teman yang ajaib. Dia bisa aja tiba-tiba kirim message nanya

“Putri, suggest me some topic for Impact. I’m stuck without any topic.”

Atau

“Boleh liat contoh outline yang kamu ceritain kemarin?”

Atau yang bener-bener random kayak begini:

“Kamu tau nggak? Kamu itu orang yang menyenangkan. Aku seneng deh jadi temenmu.” To be honest I was speechless for a good five minutes reading this message.

Ternyata Sonam serius dengan kata-katanya. Bukan, bukan kalimat yang dia bilang kalo saya ini temen yang baik, karena saya tahu bener kalo pendapat Sonam ini keliru. Kalo yang itu sumpah deh sampe sekarang masih bingung apa yang bikin ini anak bilang begini.

Maksud saya adalah: Sonam serius dalam hal mau masakin makan malam! Rejekiiiiii… Alhamdulillah! Ternyata nggak cuma saya, Sonam juga ngajak Rissa, temen sesama Kelurahan MIS. Trus saya mendadak inget kalo Por, temen Thailand saya, satu saat pernah nyeletuk kalo dia pengen kenalan sama Sonam karena Por menganggap Bhutan itu negara yang menarik. Saya trus minta ijin ke Sonam, boleh nggak ngajak Por juga. Ternyata diiyakan oleh Sonam. Asiiiik

Sesuai janji, hari Kamis malam berangkatlah saya, Rissa dan Por ke apartemen Sonam. Si Por sempet nyeletuk “I feel guilty. I don’t know her. Is it okaaay?”

Terbukti khan ternyata kekhawatiran Por itu ngga perlu, soalnya begitu kenalan trus kita semua bisa langsung ngobrol puanjaaang lebar. Bahas apa? Ya apa lagi kalo bukan ngegosipin dosen, hahahaaha

Begitu sampe apartemennya, kita semua langsung disuguhi teh dengan susu. Katanya itu memang adat Bhutan di mana begitu tamu duduk, ga pake basa-basi nanya mau minum atau enggak, si tamu langsung dikasih teh.

Milk tea habis, bukan berarti jamuan habis. Dia bikinin minuman kedua: teh, susu, garam dan mentega.

IMG_E8175

Suja, minuman khas Bhutan yang terbuat dari teh, susu, butter dan garam.

MENTEGA DAN GARAM? DI TEH?

Yeaaa, I hear you. Turned out the taste was great! I love it!

Beberapa jam setelah ngobrol, Sonam ngajakin saya ke kamarnya buat: nyuruh saya milih kira alias baju Bhutan mana yang mau saya coba pakai. Demi makan malam kali ini saya juga sengaja pinjem kostum Bhinneka buat dipakai sama Sonam.. yang hasilnya kedombrongan banget buat dia, hahaahaha!

Por dan Rissa juga sukses dipaksa Sonam buat milih kira mana yang mau dipakai.

20171116_2014251.jpg

IMG_E8184

Hi! My name is Ashi!

Note: Ashi means princess.

IMG_E8198

Three Bhutanese girls and one Indonesian lady

Setelah puas foto sana sini, tibalah waktunya buat makan. Sonam serius dengan kata-katanya. Dia masak berbagai menu: beef rib with chili and spinach, carrot with cheese and chili, potato with cheese, dan spinach curry with chili and cheese. Gileeee ini sepenuh hati banget dia masak. Udah gitu enak-enak banget pula semuanya.

Trus yang bikin agak sungkan juga ya, sehabis makan ternyata kita semua ngga dibolehin cuci piring. Chimi, teman serumah Sonam, dan Sonam berdua yang cuciin piring kita. Aduuuuh, ini mereka kok baik-baik amat sih. Belum lagi pas saya, Rissa dan Por pamit pulang ternyata dianterin sampe ke halte tram sama Chimi dan Sonam.

Sebelum akhirnya turun dari tram duluan, Por dengan muka jahil seperti biasa trus nyengir sambil bilang “Putri! Thank you for inviting me! I’m happy!”

Me too, guys. Me too.

Advertisements
May 6, 2013

Espresso

Sudah lama saya ingin mencari mesin espresso untuk membuat latte atau cappucino sendiri di rumah. Tapi begitu melihat harganya kok sayang ya. Kemarin saya iseng-iseng cek di website Walmart dan ternyata kok espresso maker pas ada yang murah.  Nggak cuma tergiur sama harganya yang murah, saya cek review customer atas espresso maker itu, rata-rata bagus. Boleh juga dicoba nih :p

Siang ini saya membajak suami ke Walmart. Dibela-belain jalan kaki 4.1 mil alias 6.5 kilometer buat ngecek langsung ke Walmart. Kenapa kok ga naik bis aja? Soalnya saya merasa pas musim dingin kemarin ga gerak nih.. Mumpung sekarang hangat, cenderung terlalu hangat malah, dipaksain ke mana-mana jalan kaki sekalian olahraga.

Di Walmart saya langsung mengambil 1 unit espresso maker bermerek Mr. Coffee itu. Sebagai bahan utama untuk membuat espresso, saya masih harus mencari ground coffee alias bubuk kopi. Pas cari-cari ground espresso, saat itu di rak hanya ditemukan 1 kantong, lebih banyak yang whole bean coffee alias kopi yang masih berbentuk biji. Wah, rada susah juga ya kalo rely on ground coffee, jadi mikir apa sekalian beli grinder buat menggiling biji kopinya ya. Jadilah ambil whole bean coffee 1 kantong trus balik lagi ke area home appliances buat ambil grinder. Grinder-nya kebetulan juga murah.

Keuntungan lainnya dengan membeli whole bean coffee ketimbang ground coffee adalah bisa disimpan dengan waktu yang lebih lama (bisa sampai 2 minggu setelah dibuka ketimbang hanya 4-6 hari apabila menyimpan ground coffee).

Begitu sampai rumah, langsung donk dicobain dua-duanya. Pertama-tama baca buku petunjuk dulu. Maklum masih awam banget, blas ngga pernah bikin espresso. Tahunya pas sudah jadi. Setelah itu dicoba menggiling kopi perdana. Tak sampai semenit, asiiik, berhasil tuh!

grinder

grinder

Setelah sukses dapat espresso bubuk trus ke langkah selanjutnya. Brew it!

sebelum espresso-nya keluar

sebelum espresso-nya keluar

Sempat deg-deg-an setelah menekan tombol brew kok ga ada apa-apa. Beberapa menit kemudian..

horee.. espresso-nya mulai keluar

horee.. espresso-nya mulai keluar

Yay! Espresso pertama-ku berhasil! Sudah selesai? Tentu belum. Saya berencana membuat cappucino jadi harus buat steam milk-nya. Setelah steam milk jadi tinggal dituang ke atas espresso yang tadi dibuat lalu diberi caramel sauce.. Hmm, I think I can say goodbye to Starbucks 🙂

Tags:
February 27, 2013

Dinosaur Bar-B-Que

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Syracuse sebenarnya saya sudah membaca tentang restoran ini di TripAdvisor dan Yelp. Nah kebetulan kami sedang merayakan satu tahun pernikahan, jadilah saya dan suami menyempatkan diri makan siang di sini.

Dinosaur

that famous (in Syracuse) steak house

me

cek the menu

Menu yang kami pesan datang dalam porsi yang luar biasa besar.. Kalau menurut menu sih 14 oz alias 396 gram. Ajegile, steak di Ranch Kitchen Jakarta yang 300 gram saja sudah membuat kepayahan..

Suami memesan New York Steak Strip dengan side dish macaroni salad dan fresh cut fries. Itu masih ditambah 2 corn breads. Saya sendiri memesan West Texas Rib Eye dengan side dish mac and cheese dan real mashed potato with gravy. Dua-duanya porsi raksasaaaa!

steak

porsi raksasa

Masalah rasa, sejauh ini steak ter-enak yang pernah saya coba. Holycow Steak, Gandy Steak, Ranch Kitchen, semua lewat dibandingkan steak yang ini. Sayang porsinya terlalu besar untuk perut orang Asia. Lihat saja ekspresi suami saya sebelum dan sesudah makan 😀

before

sebelum

Dan ini sesudah

after

after

Tags:
August 30, 2012

Indocafe Coffeemix

I ran out of Indocafe Coffeemix I brought from Indonesia. This is my last piece. Hope that mix of these can be a delicious substitute of my favorite coffee

Tags: