Archive for ‘living in OZ’

October 20, 2017

Random

Pernah nggak sih ngalamin hal yang mungkin sebenernya nggak penting tapi kalo diinget-inget bikin senang? Kebetulan saya punya cerita sederhana. Jadi ceritanya pas lagi jalan-jalan, kebetulan saya lihat sekelompok (sepertinya) exchange students dan leader-nya yang lagi foto bareng. Saya narik kesimpulan begitu karena group mahasiswa itu kelihatan random banget, ada bule, India, Chinese, Melayu.. Pokoknya mix deh. Trus si leader-nya lah yang lagi motretin mereka.

Refleks, saya bilang “I can help taking picture of you all..”

Eh trus tanpa disangka si ibu leader-nya malah bilang “No.. no.. beautiful. I want to take YOUR picture.”

Bengong donk saya. Bingung, ini maksudnya gimana. Tambah kagok pas dia ngarahin kamera HP-nya trus njepret saya. Habis itu dia nunjukkin hasil fotonya sambil ketawa-ketawa

“Nih lihat, bagus khan? Kamu mau? Berapa nomer HP-mu? Kukirim sekarang.”

Sayanya tambah bingung, tapi trus saya kasih aja no HP. Ternyata beneran lho dikirim sama dia.

photo6291821210115352572

Hasilnya juga ga jelek-jelek amat. Note: ngga jelek amat ini berarti saya ngga keliatan gendud, hahahaha.

Trus pada akhirnya apakah saya motretin mereka? Enggak. Si ibu leader trus bilang terima kasih dan saya pun melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Tapi tetep deh, kalo inget kejadian itu, apalagi lihat fotonya lagi trus saya jadi bingung tapi sekaligus seneng juga. Totally random. 

Advertisements
October 18, 2017

Wanita Inspiring – Interview Kedua

 

20171018_163712Dear Putri,

I would prefer to talk to you directly/or by skype if possible. How about Wed around 4pm, however I need to go at 5pm. We can also skype if it’s more convenient for you.

Regards, 

Wenny

Demikian kira-kira e-mail dari wanita inspiring satu ini sewaktu saya bolak-balik menawarkan jadwal wawancara.

Sosok yang saya incar kali ini adalah Wenny Rahayu, Head of School Engineering and Mathematical Science di La Trobe University.

Jadwal pertama yang saya ajukan ditolak karena beliau ada training. Trus WR menawarkan beberapa pilihan hari dan jam, kok ya pas banget saya kuliah jadi terpaksa saya tolak. Saya hampir nyerah dan menawarkan tanya jawab lewat e-mail saja, yang ternyata ditolak juga sama beliau karena maunya ketemu langsung.

Jadwal baru yang beliau ajukan, Rabu sore kali ini sebenernya juga ga longgar-longgar amat. Malamnya ada dua deadline menanti untuk di-submit. Hadeuuuh. Tapi berhubung WR-nya udah sengaja mau meluangkan waktu, saya jadi ga enak khan. Walaupun ditawari lewat Skype, akhirnya saya memutuskan buat datang langsung saja. Kebetulan juga pengen ketemu sama orangnya, lumayan buat nambah kenalan. So.. Off we went to La Trobe University, one hour from Melbourne city. 

Saya sampai di lokasi sekitar 30 menit sebelum janji temu. Berhubung sempat kesasar waktu cari ruangan, akhirnya WR jemput saya di suatu titik. Pertama ketemu aja beliau udah nyambut dengan ramah banget. Sukak!

Di awal wawancara saya sengaja bilang kalo udah cari latar belakang tentang dirinya dan juga ngaku kalo saya mahasiswa di bidang yang sama. Seperti yang bisa ditebak, responnya positif banget, apalagi pas cerita tentang proyek yang sedang ditangani. Bisa nebak ngga tentang apa?

Big Data! *langsung iri*

WR, yang selama wawancara selalu saya panggil dengan nama depan tanpa embel-embel Miss atau Mrs atau Ibu, semangat sekali cerita tentang dua proyek terbarunya: big data analysis in airline service dan yang satu lagi predictive analysis to estimate hardware maintenance.

Sosoknya yang langsing dan mungil ini ternyata menyimpan kemampuan luar biasa. Waktu ditanya tentang pengalaman berkesan selama mengajar, katanya di awal karier beliau dulu sempat dikomentari oleh atasannya

“Wenny! I think you have to bring bodyguard!” Iya, saking badannya kecil mungil sementara murid yang diajar berjumlah 400 (!) mahasiswa bule yang gede-gede gitu. Tenggelam sih kayaknya.. Hahaha..

Berhubung WR sudah bilang di awal kalo harus pergi jam 5, akhirnya saya sangat memperkirakan waktu wawancara. Begitu pertanyaan-pertanyaan krusial diajukan dan dijawab, saya langsung menutup sesi wawancara dan minta ijin untuk mengambil foto beliau.

Trus minta selfie juga ga? Oh jelas donk.. Hahahaha…

img_7555

Btw.. Beliau sempat bilang kalau akan jadi pembicara di sebuah konferensi di ITB, awal November mendatang. Barangkali ada yang berminat datang, nih link-nya:

5th International Conference on Instrumentation, Communication, Information Technology, and Biomedical Engineering 2017

October 15, 2017

Perth – Day 2

DCIM100GOPROGOPR1159.

Hari kedua: hari road trip! Udah lama ngga road trip, ga heran trus saya excited. Berhubung malam sebelumnya udah cukup tidur, hari ini kami bisa bangun pagi. Bayangin, jam 8 kudu sudah siap di rental mobil. Berhubung hari itu hari Minggu, rental hanya buka dari jam 8 s/d 10 pagi. Untung aja letaknya hanya sekitar 2 blok dari hotel, jadi cuma perlu jalan kaki sekitar 10 menitan lah.

Tujuan kami hari itu, sesuai dengan itinerary yang disusun sebelumnya kebetulan ada 2 lokasi. Pertama adalah Wave Rock, sesuai amanat dari kakanda suami ( ( K A K A N D A ) ). Terus kedua, sekalian menyambangi Helena National Park yang lokasinya nggak jauh dari akses jalan menuju ke Wave Rock.

Setelah urusan rental mobil kelar, ga lama kemudian kami sudah di tengah perjalanan menuju Wave Rock. Menurut Google Maps sih perjalanan itu bisa ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Walaupun secara umum road trip di WA hampir sama saja dengan road trip di negara bagian lain di Aussie, tapi ada sesuatu yang berbeda di sini.

Sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih 300 kilometer, kami hanya mendapati beberapa kota kecil. Jangankan kota, pom bensin aja jarang. Kalo ga salah inget malah cuma ada 3 atau 4 kota yang saat itu kami lewati. Makanya, perencanaan isi bensin, makan, snack, logistik lain, sampai dengan urusan toilet harus dirancang lebih hati-hati. Bisa aja kota berikutnya masih berjarak 70-100 kilo lagi.

3 jam 15 menit kemudian kami sampai di Wave Rock. Di sini pengunjung cukup membayar ongkos parkir mobil sebesar AUD 15 sebelum memasuki area bebatuan ini. Sepintas, kata suami saya, Wave Rock ini seperti miniatur Ayers Rock yang terkenal itu, dengan ukuran jauuuuh lebih kecil. Tingginya paling cuma sekitar 15 meter saja dengan bentuk dan kontur yang mirip gelombang laut itu. Kayaknya itu deh yang bikin jadi unik.

Buat naik dan melihat puncaknya pun tidak perlu bersusah payah, cukup mendaki tebingnya saja yang terbilang cukup landai. Bahkan kayaknya ga lebih dari 45 derajat kok. Pose berfoto yang paling sering kali dilakukan turis saat di sini berpura-pura seperti sedang surfer, ada yang pura-pura naik surfboard atau yang lebih ekstrim bertelanjang dada berbaring telentang sambil bergaya ala ala surfer di pantai. Tapi yang pose biasa aja juga ada sih, termasuk saya hihihi…

photo6273531126245074883

Puas berfoto dan melihat-lihat visitor center yang berlokasi di sebelahnya, kami beranjak pulang dan menuju lokasi wisata kami berikutnya. Lihat di Google Maps, jaraknya mungkin hanya 1.5 jam dari Wave Rock. Tapi ternyata kejadian di Day 1 kemarin pun kejadian lagi di sini. Ini malah lebih parah, kami bahkan ga berhasil menemukan akses masuk menuju National Park nya. Ck, suami puas banget ngetawain struktur logika saya dalam menyusun itinerary kali ini.

Sampai kemudian suami mengajukan usul dadakan sebagai pengganti, gimana kalo menikmati sunset aja. Looking at the location, on the West side of Australia, he said that the view will be breathtaking. Suami mengusulkan dua lokasi: Fremantle atau Scarborough. Berhubung Fremantle tidak pernah tersebut di brosur-brosur punya obyek wisata pantai berlokasi indah, akhirnya kami pun berangkat ke Scarborough.

Pas jam 5.30 kami sampai di Scarborough, akhirnya bisa juga dapat parkir gratisan. Nyari parkir waktu itu termasuk susah, soalnya kebetulan lagi rame. Kami pun berjalan menyusuri pantai dan menemukan The Pit. The Pit ini semacam tempat orang bisa berdansa-dansi di sore hari sambil menikmati pemandangan sunset. Banyak orang yang melantai di sana, dan seiring dengan diputarnya lagu mereka pun berganti-ganti baik gaya maupun pasangan dansa. Saat pulang, saya baru tahu kalo untuk bisa berdansa harus registrasi dan dapat gelang khusus, untung saya ga jadi maksa suami supaya ikutan turun. Padahal rencananya udah mo narik dia ke bawah buat nari Saman (ya kaliiii).

photo6273531126245074884

Saat matahari tenggelam, kami pun mencari tempat makan malam, dan beranjak pulang menuju ke hotel. What a lovely day…

October 12, 2017

Interview Pertama

Heyyyaaa…. Masih lanjut cerita tentang OZIP Magazine, ini tentang tugas kedua saya. Buat tema edisi mendatang kami harus mewawancarai beberapa sosok wanita Indonesia di Melbourne. Dari beberapa pilihan nama yang disodorkan untuk diwawancarai, saya memilih seseorang yang kebetulan saya kenal. Sosok ini, sebut saja Sarah (nama sengaja diganti). Please note, ini saya yang kenal.. Beliaunya mah ga kenal saya.

Sarah adalah dosen senior di jurusan saya: Master of Information Systems. Malah kebetulan semester ini saya mengambil mata kuliah yang beliau ajar. Awalnya agak ragu juga sih, kuatir kalo habis ketemu Sarah trus beliau jadi ngeh saya. Malu kalo ternyata nilai ujian saya ancur. Tapi pas saya cerita gini ke Ica, dia malah nyemangatin.

“Harusnya itu malah jadi motivasi, mba. Jangan dijadiin beban.” Okelah, Ca.

Beberapa kali balas-balasan e-mail dengan Sarah, nada jawabannya selalu ramah dan terbuka. Akhirnya kita sepakat janjian ketemuan di kantornya. Kebetulan di komunikasi awal kali ini saya sengaja nggak kasih tahu bahwa saya sebenernya mahasiswanya. Walopun akhirnya ya ketahuan juga sih, wong sapaan pertama Sarah: “Kuliah di mana?” Kayaknya sih karena Sarah familiar dengan muka saya.

Singkat cerita, wawancara berjalan dengan sangat lancar, Alhamdulillah. Sarah, seperti yang tergambar lewat bahasanya di e-mail ternyata memang sosok yang baik dan lembut. Sombong, itu jelas bukan bagian dari dirinya. Wong rencana wawancara yang berjalan sekitar 20 menit atau maksimal 30 menit deh, malah jadi satu jam lebih. Pembicaraan kami berlangsung ngalor ngidul ke mana-mana, menyenangkan deh.

photo6264914313747736511

Di akhir wawancara, saya sempat beberapa kali ambil foto Sarah. Trus pas terakhir, saya beranikan diri buat ngajak selfie. Eh beliau mau! Hahahaha.. Norak dikit, maaf ya.

Belum berakhir sampai di situ, besoknya saya malah terima e-mail ucapan terima kasih dari Sarah, “thank you for interesting conversation yesterday.” Ini saya jadi malu banget. Harusnya saya yang kirim e-mail ucapan terima kasih, kok malah jadi yang dikirimi? Aduh, ampuuun.. Bener-bener harus banyak belajar nih.