Archive for ‘australia trip’

October 15, 2017

Perth – Day 2

DCIM100GOPROGOPR1159.

Hari kedua: hari road trip! Udah lama ngga road trip, ga heran trus saya excited. Berhubung malam sebelumnya udah cukup tidur, hari ini kami bisa bangun pagi. Bayangin, jam 8 kudu sudah siap di rental mobil. Berhubung hari itu hari Minggu, rental hanya buka dari jam 8 s/d 10 pagi. Untung aja letaknya hanya sekitar 2 blok dari hotel, jadi cuma perlu jalan kaki sekitar 10 menitan lah.

Tujuan kami hari itu, sesuai dengan itinerary yang disusun sebelumnya kebetulan ada 2 lokasi. Pertama adalah Wave Rock, sesuai amanat dari kakanda suami ( ( K A K A N D A ) ). Terus kedua, sekalian menyambangi Helena National Park yang lokasinya nggak jauh dari akses jalan menuju ke Wave Rock.

Setelah urusan rental mobil kelar, ga lama kemudian kami sudah di tengah perjalanan menuju Wave Rock. Menurut Google Maps sih perjalanan itu bisa ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Walaupun secara umum road trip di WA hampir sama saja dengan road trip di negara bagian lain di Aussie, tapi ada sesuatu yang berbeda di sini.

Sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih 300 kilometer, kami hanya mendapati beberapa kota kecil. Jangankan kota, pom bensin aja jarang. Kalo ga salah inget malah cuma ada 3 atau 4 kota yang saat itu kami lewati. Makanya, perencanaan isi bensin, makan, snack, logistik lain, sampai dengan urusan toilet harus dirancang lebih hati-hati. Bisa aja kota berikutnya masih berjarak 70-100 kilo lagi.

3 jam 15 menit kemudian kami sampai di Wave Rock. Di sini pengunjung cukup membayar ongkos parkir mobil sebesar AUD 15 sebelum memasuki area bebatuan ini. Sepintas, kata suami saya, Wave Rock ini seperti miniatur Ayers Rock yang terkenal itu, dengan ukuran jauuuuh lebih kecil. Tingginya paling cuma sekitar 15 meter saja dengan bentuk dan kontur yang mirip gelombang laut itu. Kayaknya itu deh yang bikin jadi unik.

Buat naik dan melihat puncaknya pun tidak perlu bersusah payah, cukup mendaki tebingnya saja yang terbilang cukup landai. Bahkan kayaknya ga lebih dari 45 derajat kok. Pose berfoto yang paling sering kali dilakukan turis saat di sini berpura-pura seperti sedang surfer, ada yang pura-pura naik surfboard atau yang lebih ekstrim bertelanjang dada berbaring telentang sambil bergaya ala ala surfer di pantai. Tapi yang pose biasa aja juga ada sih, termasuk saya hihihi…

photo6273531126245074883

Puas berfoto dan melihat-lihat visitor center yang berlokasi di sebelahnya, kami beranjak pulang dan menuju lokasi wisata kami berikutnya. Lihat di Google Maps, jaraknya mungkin hanya 1.5 jam dari Wave Rock. Tapi ternyata kejadian di Day 1 kemarin pun kejadian lagi di sini. Ini malah lebih parah, kami bahkan ga berhasil menemukan akses masuk menuju National Park nya. Ck, suami puas banget ngetawain struktur logika saya dalam menyusun itinerary kali ini.

Sampai kemudian suami mengajukan usul dadakan sebagai pengganti, gimana kalo menikmati sunset aja. Looking at the location, on the West side of Australia, he said that the view will be breathtaking. Suami mengusulkan dua lokasi: Fremantle atau Scarborough. Berhubung Fremantle tidak pernah tersebut di brosur-brosur punya obyek wisata pantai berlokasi indah, akhirnya kami pun berangkat ke Scarborough.

Pas jam 5.30 kami sampai di Scarborough, akhirnya bisa juga dapat parkir gratisan. Nyari parkir waktu itu termasuk susah, soalnya kebetulan lagi rame. Kami pun berjalan menyusuri pantai dan menemukan The Pit. The Pit ini semacam tempat orang bisa berdansa-dansi di sore hari sambil menikmati pemandangan sunset. Banyak orang yang melantai di sana, dan seiring dengan diputarnya lagu mereka pun berganti-ganti baik gaya maupun pasangan dansa. Saat pulang, saya baru tahu kalo untuk bisa berdansa harus registrasi dan dapat gelang khusus, untung saya ga jadi maksa suami supaya ikutan turun. Padahal rencananya udah mo narik dia ke bawah buat nari Saman (ya kaliiii).

photo6273531126245074884

Saat matahari tenggelam, kami pun mencari tempat makan malam, dan beranjak pulang menuju ke hotel. What a lovely day…

Advertisements
October 9, 2017

Perth – Day 1

Setelah jalan-jalan ke Canberra, saya sengaja main ke Perth. Di. Minggu. Yang. Sama.

Bedanya kalo Canberra saya ngebajak temen-temen kuliah, nah kalo yang ke Perth ini saya nodong suami buat traktir pengeluaran selama di Perth. Trus emangnya suami mau? Ya jelas mau wong emang udah pas waktunya buat ketemuan. Iya, selama LDR ini khan memang kita udah sama-sama nentuin kalo minimal tiga bulan sekali harus ketemu. Bisa di Melbourne, atau kalo mau juga di kota lain, kayak di Sydney, Gold Coast, atau kayak kali ini: di Perth.

Seperti biasa, suami berangkat Jum’at malam dan mendarat Sabtu pagi. Saya sendiri berangkat Sabtu pagi dan mendarat satu jam setelah pesawat suami mendarat. Berhubung penerbangan internasional jauh lebih ribet, pas saya nyampe bandara ternyata suami juga baru kelar dengan urusan imigrasi dan custom clearance.

Dari terminal kedatangan T1 internasional, suami sengaja nyari bis transfer antar terminal buat jemput saya di T3. Perth ternyata nyaman juga, ada jalur bis kota yang melayani trayek city ke bandara. Ngga pake ribet, habis ketemu suami trus kami lanjut ke kota cukup dengan sekali naik bis.

Sejak dari Melbourne saya udah pesen hotel Ibis yang terletak di Perth CBD. Sengaja pilih Ibis soalnya lokasinya dekat dari tempat rental mobil dan pusat kuliner, trus yang terpenting harganya juga ga terlalu mahal. Begitu sampai city, setelah check in kami langsung jalan kaki menuju Tuck Shop Cafe, kafe yang ada di ranking 2 restoran di TripAdvisor buat makan siang. Di sini saya pesen flat white dan smoke cod, potato and leek. Makanannya uenak banget. Kalo flat white-nya, uhm.. Saya lebih suka kopi di Melbourne sih.

Jadwal kami hari itu simple, cuma ke Blue Boat House, Kings Park dan University of Western Australia. Pertimbangan saya, hari itu pasti kami berdua sama-sama capek jadi kalopun mau langsung digeber road trip ke luar kota udah ga mungkin.

Blue Boat House

Nama asli rumah biru ini sebenernya Crawley Edge Boatshed. Berlokasi kurang lebih 5 kilometer dari city, kami sengaja jalan kaki buat ke sini. Hitung-hitung olahraga, walopun trus sepanjang jalan trus saya sukses mengganyang sebungkus (atau dua bungkus?) KitKat. Ini mah jadinya malah surplus kalori, bukan memangkas habis kalori, hihihi. Bonusnya, sekalian nengok 3 obyek wisata yang biasanya ada di brosur-brosur tour guide di situ: (1) mengamati The Bell Tower, (2) melewati Elizabeth Quay, kawasan waterfront yang ditata cantik dan (3) menyusuri Swan River, sungai yang melintasi Perth layaknya Yarra River di Melbourne.

22140762_10212969285920161_7995688201127655236_n

Rumah biru yang konon kabarnya dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu ini emang kelihatan mencolok karena hanya satu-satunya. Jelas, rumah ini bukan rumah tinggal, melainkan berfungsi sebagai titik tempat singgah. Waktu saya ke sini untungnya ga terlalu banyak pengunjung yang pengen foto di sini jadi kami nggak terlalu lama antri.

Kings Park

Waktu bikin itinerary kali ini sebenernya saya mengerahkan ke-sok-tahu-an saya. Berbekal ngintip Google Maps, saya lihat Blue Boat House ini deket banget dari Kings Park. Trus pede banget saya naruh rencana buat ke Kings Park habis dari Blue Boat House. Hasilnya? Saya diketawain habis-habisan sama suami saya gara-gara membuat kami melewati jalan yang tidak lazim. Maklum, berhubung yang punya paket internet khan saya, jadi tanggung jawab ngarahin jalan ya saya. Mana sebelumnya saya agak nyombong pula, pake bilang “kemarin aku jalan-jalan di Canberra ngga pake nyasar lho!” 

Jadi ceritanya, di Google Maps saya sempat liat kalo Kings Park letaknya (seperti) bersebelahan dengan Blue Boat House, cuma ternyata akses masuknya ada di sisi yang berlawanan. Iya sih yang sekarang ini juga ga nyasar, cuma ya ga gitu juga kali mo masuk ke Kings Park jadi kudu lewat akses belakang, melewati jalan setapak nan menanjak (maklum, Kings Park emang agak berbukit-bukit) plus dikelilingi semak-semak perdu di antah berantah gitu. Suami saya bolak-balik bilang “Deket sih deket.. Tapiii…” 

Screen Shot 2017-10-10 at 8.25.38 AM

ilustrasi jalan saat itu, Kings Park sebelahan dengan Blue Boat House, tapi ternyata akses masuk yang proper yang dilingkari merah 😦

Balik lagi cerita tentang Kings Park, ini adalah sebuah area terbuka yang letaknya ngga jauh dari pusat kota Perth. Semacam Central Park di New York atau Royal Botanical Garden di Melbourne. Seperti Central Park juga, di Kings Park ini terbagi beberapa area mulai dari amphitheater, kolam, panggung pertunjukan, monumen perjuangan sampai dengan glass arched bridge. Dari sini kita juga bisa melihat landscape kota Perth dari kejauhan.

Selama duduk-duduk di sana saya ngeliatin tingkah polah anak-anak kecil yang lagi main. Lucu, ada yang nyolong sendal kakaknya trus dikejar sampe dapat, ada yang ujug-ujug guling-guling di rumput, menganggap dirinya udah kayak bola yang nggelinding ke bawah. Ada juga anak kecil yang asik nendang sandal jepitnya sendiri. Habis dapat, trus ditendang, trus dapat, ditendang lagi. Gitu terus, asik mainan sendiri. Emang ya, anak kecil itu paling tahu gimana cara bahagia dengan caranya sendiri.

Untung aja saya nggak terlalu ambi menentukan tempat tujuan jalan di hari pertama ini. Soalnya ga lama setelah sampai Kings Park trus saya cuma bisa nggeletak tiduran di rumput. Akhirnya bener aja khan, University of Western Australia jadi ngga sempet kita kunjungi gara-gara saya udah capek duluan.

22154274_10212960517300951_6099377819137180478_n

Setelah puas tidur-tiduran di rumput, akhirnya kita trus mutusin jalan balik lagi buat makan malam trus lanjut ke hotel. Seneng? Ya jelas seneng lah, besok pagi siap buat jalan lagi: road trip ke National Park. Yay!

September 28, 2017

Satu Hari di Canberra

“Ke Canberra? Ngapain?”  

“Emang ada apa di sana?”  

“Mahal ga?” 

“My friend told me that Canberra is very quiet”

Gitu deh rata-rata respon yang saya dapat pas berburu korban buat nemenin jalan ke Canberra. Akhirnya sih tetep, berhasil menarik makhluk random yang tiga-tiganya sebenernya ngga saling beririsan di dunia nyata. Di antara mereka ada sih yang satu kelas, tapi sebelum trip ke Canberra ini mereka nggak kenal sama sekali.

Trus setelah berhasil narik korban, perjalanan lancar-lancar aja? Oh tentu tidak. Kami kehabisan tiket bis! Haduuuh, ternyata jurusan Melbourne-Canberra itu bukan rute gendut, jadi pilihan yang ada cuma bis Greyhound, kereta atau pesawat. Opsi terakhir langsung coret. Mahal! Kereta juga ga saya minati karena: ribet! Soalnya kalo naik kereta tuh kita harus turun di stasiun mana gitu trus ganti naik bis. Alamak, udahlah assignment sehari-hari bikin pusing, janganlah naik kereta ke Canberra juga bikin mumet.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Alhasil satu-satunya pilihan ya naik bis Greyhound yang.. tiketnya habis. Saya udah sedih duluan aja tuh, takut akhirnya ga jadi berangkat. Untungnyaaaa.. Trus pas saya pake taktik akhirnya bisa juga berangkat. Taktik gimana? Khan tiket yang habis itu kalo buat perjalanan untuk empat orang sekaligus. Sementara si Greyhound ini punya dua jam keberangkatan: siang dan malam. Saya coba pecah dua, jadi dua orang berangkat siang dan dua lagi berangkat malam. Eh bisa. Dan temen-temen saya juga orangnya pasrahan, mereka mau-mau aja dengan pilihan seperti itu. Okaaay, berangkatlah kita ke Canberra dengan ‘sendiri-sendiri’.

Tim kami ada empat: saya, Por, Ica, dan Rissa. Ica dan Rissa berangkat duluan di siang hari sementara saya dan Por berangkat jam 10 malam dan sampai Canberra jam 6 pagi. Sengaja saya pilih berangkat malam, supaya ngga perlu ngeluarin uang buat hotel karena kita berempat bakal pulang ke Melbourne keesokan malamnya. Saya sadar sih pilihan ini ada resiko bakalan capek banget, tapi saya bersedia ambil konsekuensinya. Untung Por juga mau-mau aja.

Rencana ini sempet jadi nyebelin karena pas nyampe Canberra trus kita berdua cengok. Gila, ini kota sepi banget! Syracuse aja masih lebih mendingan ketimbang Canberra, eh ngga dink. Sama kali ya hehehehe..

Australian National University

Pas masih di Melbourne saya sempet ngusulin ke Por “We have to visit Australian National University!” yang direspon sama dia dengan muka aneh. “Whatt? You wanna go to campus! Come on!” 

Tapi pada akhirnya begitu sampai di sana, melihat kita ga punya pilihan lain selain tolah-toleh berdua, akhirnya Por mau juga diajak ke kampus ANU. Random, kita berdua menyasarkan diri di dalam area kampus ANU, malah masuk ke perpustakaannya segala. Lagi-lagi Por menganggap saya aneh gara-gara saya ajak cari library. Gimana lagi, kompetitip jhe. Saya pengen ngebandingin Baillieu library sama Chifley library kepunyaan ANU. Mana yang lebih saya suka? Jelas Baillieu lah. Hahahaha!

photo6220033726570670071

Secara keseluruhan, kampus ANU ternyata asik juga. Sejuk, area terbuka dan gedungnya terpisah jauh satu sama lain. Mengingatkan saya akan kampus Universitas Indonesia. Oya, ANU dan Unimelb ini seringnya saingan satu sama lain buat memperebutkan tempat sebagai ‘number one university in Australia’. Kebetulan saat ini Unimelb sih yang menang, walopun harus mengorbankan mahasiswa-mahasiswanya melalui tekanan assignment. Eh jadi curhat 😀

Floriade

photo6220033726570670047Ini dia nih alasan utama saya pengen ke Canberra! Gratis! Apapun yang gratis biasanya bikin saya tertarik. Walopun secara teknis ya ga gratis sih, wong ada pengeluaran ekstra buat tiket Greyhound. Tapi gapapa lah.

Floriade adalah festival bunga dan seni yang digelar tahunan sejak tahun 1988 di Canberra. Kata Floriade sendiri berasal dari kata Latin floriat, yang artinya mendesain dengan bunga. Tahun ini Floriade dibuka dari 16 September sampai 15 October 2017. Di sini juga pada akhirnya saya dan Por berkumpul sama Ica dan Rissa. Random talks and chitchat begins…

SAMSUNG CAMERA PICTURES

I hope that Por won’t regret her decision traveling with us, crazy Indonesians. Por (yang sweater hitam bertopi) ini adalah satu-satunya temen non Indonesia dalam perjalanan kali ini. Thai with Indonesian face, sometimes people mistaken her with Indonesian. Pernah satu saat Por diajak nyerocos dalam bahasa Indonesia oleh lecturer Unimelb yang berasal dari Indonesia, hahahaha.

Random walk

Canberra hari itu terik. Tapi berhubung kami berempat budget traveler alias maunya yang murah-murah aja jadi kita ke mana-mana jalan kaki.

photo6220033726570670048

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

photo6220033726570670070

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patissez Cafe

Pas lagi ngecek web Floriade ternyata ada cafe yang disarankan untuk dikunjungi: Patissez Cafe yang terkenal dengan Frekshake, milkshake yang disajikan dengan tingkat lebay tiada tara.

Jiper dengan porsinya yang kayaknya bikin eneg, tapi saya juga penasaran pengen nyoba. Pas kita cek langsung ke lokasi, ternyata ada porsi baby shake. Haaa.. Ini aja deh dicobain, soalnya kayaknya oke.

photo6220033726570670066

Beneran pas ternyata, ga terlalu gede dan ga terlalu mungil. Rasanya juga enak, walopun ini lidah saya ngga bisa dijadiin tolok ukur ya. Suami saya suka komentar, katanya saya nggak bisa ngerasain rasa selain enak dan enak banget. Entah laper entah emang doyan makan.

Tidur di Mall

Ini aktivitas yang bener-bener di luar agenda. Siapa coba yang bakal masukin tidur di mall dalam itinerary jalan-jalan? Tapi beneran, habis seharian jalan kaki ke mana-mana, panas terik, trus kena milkshake dingin, belum lagi habis makan Thai food yang enak (tuh khan, kata-kata saya di paragraf di atas udah langsung terbukti), kita berempat udah low bat.

Lucunya, walopun siang hari panas gitu ternyata pas malam duingin banget. Jadi pas ngga sengaja nemu ada mall, kita berempat masuk buat menghangatkan diri. Awalnya Por nggak mau hanya duduk-duduk aja. “I think I will wander around.” Eh trus balik-balik dia bilang “I found chair and sofa above. We can sleep there.” Lha! Malah dia yang ngajakin tidur. Oke lah, akhirnya saya bilang ke Rissa dan Por buat duluan aja ke atas, saya mau nungguin Ica yang mandi (!) di toilet mall. See? I‘m serious when I mentioned that we’re crazy Indonesians. 

Begitu Ica balik dari toilet dengan muka fresh, saya trus ngajakin dia ke lantai atas hanya buat menemukan Rissa dan Por udah hilang di alam mimpi, hahahaha. Molor kecapekan mereka! Ga mau kalah, saya juga akhirnya cari tempat yang nyaman dan.. tidur. Lumayan, kayaknya saya sempet tidur selama 1 atau 2 jam gitu.

Kita berempat trus diusir sama mas-mas cleaning service jam 9 malam, soalnya dia katanya mau bersih-bersih area tempat kita duduk. Okelah mas, kita ngalah.. Kita emang salah.

Beranjak dari tengah kota Canberra jam 9 malam, kita trus jalan kaki lagi menuju terminal buat nunggu jadwal bis pulang jam 11 malam. Okelah Canberra, thanks for being nice to us during this short trip. See you when I see you 😀

July 25, 2017

Melbourne. Setahun.

IMG_1457Ga kerasa bulan ini ternyata saya udah setahun di Melbourne. Gila, time does fly. Boleh diputer ulang lagi ngga? *Maunyaa …

Rasanya baru kemarin mendarat di Melbourne Tullamarine International Airport bareng suami. Baru kemarin saya antri buat daftar dapetin student card trus langsung saya foto berdampingan dengan student dependent card saya.

Selama setahun, apa aja yang udah saya alami? Diurut satu-satu aja kali ya.

Traveling

Obsesi pribadi saya: menginjakkan kaki di semua states dan territory Australia. Di sini ada 6 states: New South Wales (NSW), Queensland (QLD), South Australia (SA), Tasmania (TAS), Victoria (VIC) dan Western Australia (WA).

Selain state, ada lagi yang namanya  territory, yaitu Northern Territory (NT) dan Australian Capital Territory (ACT). Sejauh ini saya baru main ke NSW, QLD, SA, TAS dan VIC tentunya. Masih kurang WA, NT dan ACT.

DSCF2172

Granite Island, SA

Credit photo: Davian 

 

IMG_1905

Granite Island, SA

 

DSCF2166

Granite Island, SA

 

ARYJ9647

Brisbane, QLD

 

IMG_4388

Hobart, TAS

 

IMG_4308

Hobart, TAS

 

YDUS1864

Sydney, NSW

 

IMG_3180

Williamstown, VIC

Long-Distance-Marriage

Bagian ini nih yang paling ngga enak dalam kehidupan di Melbourne. Seandainya bisa, maunya sih saya juga ga pake LDR-an segala. Sampai sekarang kami sama-sama mengusahakan supaya bisa ketemuan langsung tiga bulan sekali. Walopun tiap ketemu ga pernah lama, hanya sekitar empat hari, tapi lumayan deh daripada ngga ketemu sama sekali.

Kira-kira kapan ya pintu ke mana saja-nya Doraemon beneran diciptakan. Jadi nggak akan ada lagi tuh yang namanya pejuang LDR.

Perpustakaan

GIHJ2233

Online group meeting

Tempat favorit saya, mana lagi kalo bukan di perpustakaan. Betah deh saya seharian ngendon di perpustakaan. Biar ga bosen, saya kadang pindah meja, pindah komputer, atau bahkan pindah perpustakaan sekalian. Enak kalo punya kampus yang perpusnya banyak, masing-masing spot bisa dicobain satu-satu.

Sssst.. Temen saya malah ada yang berhasil gaet cowok native buat jadi pacar gara-gara tiap hari ngendon di perpus. Buat yang jomblo, lumayan banget tuh, hihihi.

Refreshing

Apa lagi kalo bukan nari. Sesibuk apapun, sebanyak apapun assignment yang datang, kalo udah diajak latihan nari mah saya langsung hayuk aja.

q

IMG_5076

Kopi

Melbourne ini surganya kopi. Serius deh, kedai kopi enak bertebaran di mana-mana. Mau yang di sekitaran kampus, di tengah kota, suburb atau manapun pasti ada aja kopi yang nikmat. Favorit saya? Flat white di Market Lane, kalo lagi di CBD, atau flat white di House of Cards, kalo lagi di kampus

IMG_5156

House of Cards, salah satu coffee shop di Unimelb

Jadi kalo ditanya, nyesel nggak sekolah lagi? Jelas enggak. Terlalu banyak hal-hal bahagia ketimbang pengalaman yang bikin sengsara, walopun ngga bisa dipungkiri ya ada juga hal nggak enaknya sih. Tapi cerita-cerita sedih cukup dibagi ke suami aja, nggak perlu di-share, hehehe.