October 9, 2017

Perth – Day 1

Setelah jalan-jalan ke Canberra, saya sengaja main ke Perth. Di. Minggu. Yang. Sama.

Bedanya kalo Canberra saya ngebajak temen-temen kuliah, nah kalo yang ke Perth ini saya nodong suami buat traktir pengeluaran selama di Perth. Trus emangnya suami mau? Ya jelas mau wong emang udah pas waktunya buat ketemuan. Iya, selama LDR ini khan memang kita udah sama-sama nentuin kalo minimal tiga bulan sekali harus ketemu. Bisa di Melbourne, atau kalo mau juga di kota lain, kayak di Sydney, Gold Coast, atau kayak kali ini: di Perth.

Seperti biasa, suami berangkat Jum’at malam dan mendarat Sabtu pagi. Saya sendiri berangkat Sabtu pagi dan mendarat satu jam setelah pesawat suami mendarat. Berhubung penerbangan internasional jauh lebih ribet, pas saya nyampe bandara ternyata suami juga baru kelar dengan urusan imigrasi dan custom clearance.

Dari terminal kedatangan T1 internasional, suami sengaja nyari bis transfer antar terminal buat jemput saya di T3. Perth ternyata nyaman juga, ada jalur bis kota yang melayani trayek city ke bandara. Ngga pake ribet, habis ketemu suami trus kami lanjut ke kota cukup dengan sekali naik bis.

Sejak dari Melbourne saya udah pesen hotel Ibis yang terletak di Perth CBD. Sengaja pilih Ibis soalnya lokasinya dekat dari tempat rental mobil dan pusat kuliner, trus yang terpenting harganya juga ga terlalu mahal. Begitu sampai city, setelah check in kami langsung jalan kaki menuju Tuck Shop Cafe, kafe yang ada di ranking 2 restoran di TripAdvisor buat makan siang. Di sini saya pesen flat white dan smoke cod, potato and leek. Makanannya uenak banget. Kalo flat white-nya, uhm.. Saya lebih suka kopi di Melbourne sih.

Jadwal kami hari itu simple, cuma ke Blue Boat House, Kings Park dan University of Western Australia. Pertimbangan saya, hari itu pasti kami berdua sama-sama capek jadi kalopun mau langsung digeber road trip ke luar kota udah ga mungkin.

Blue Boat House

Nama asli rumah biru ini sebenernya Crawley Edge Boatshed. Berlokasi kurang lebih 5 kilometer dari city, kami sengaja jalan kaki buat ke sini. Hitung-hitung olahraga, walopun trus sepanjang jalan trus saya sukses mengganyang sebungkus (atau dua bungkus?) KitKat. Ini mah jadinya malah surplus kalori, bukan memangkas habis kalori, hihihi. Bonusnya, sekalian nengok 3 obyek wisata yang biasanya ada di brosur-brosur tour guide di situ: (1) mengamati The Bell Tower, (2) melewati Elizabeth Quay, kawasan waterfront yang ditata cantik dan (3) menyusuri Swan River, sungai yang melintasi Perth layaknya Yarra River di Melbourne.

22140762_10212969285920161_7995688201127655236_n

Rumah biru yang konon kabarnya dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu ini emang kelihatan mencolok karena hanya satu-satunya. Jelas, rumah ini bukan rumah tinggal, melainkan berfungsi sebagai titik tempat singgah. Waktu saya ke sini untungnya ga terlalu banyak pengunjung yang pengen foto di sini jadi kami nggak terlalu lama antri.

Kings Park

Waktu bikin itinerary kali ini sebenernya saya mengerahkan ke-sok-tahu-an saya. Berbekal ngintip Google Maps, saya lihat Blue Boat House ini deket banget dari Kings Park. Trus pede banget saya naruh rencana buat ke Kings Park habis dari Blue Boat House. Hasilnya? Saya diketawain habis-habisan sama suami saya gara-gara membuat kami melewati jalan yang tidak lazim. Maklum, berhubung yang punya paket internet khan saya, jadi tanggung jawab ngarahin jalan ya saya. Mana sebelumnya saya agak nyombong pula, pake bilang “kemarin aku jalan-jalan di Canberra ngga pake nyasar lho!” 

Jadi ceritanya, di Google Maps saya sempat liat kalo Kings Park letaknya (seperti) bersebelahan dengan Blue Boat House, cuma ternyata akses masuknya ada di sisi yang berlawanan. Iya sih yang sekarang ini juga ga nyasar, cuma ya ga gitu juga kali mo masuk ke Kings Park jadi kudu lewat akses belakang, melewati jalan setapak nan menanjak (maklum, Kings Park emang agak berbukit-bukit) plus dikelilingi semak-semak perdu di antah berantah gitu. Suami saya bolak-balik bilang “Deket sih deket.. Tapiii…” 

Screen Shot 2017-10-10 at 8.25.38 AM

ilustrasi jalan saat itu, Kings Park sebelahan dengan Blue Boat House, tapi ternyata akses masuk yang proper yang dilingkari merah 😦

Balik lagi cerita tentang Kings Park, ini adalah sebuah area terbuka yang letaknya ngga jauh dari pusat kota Perth. Semacam Central Park di New York atau Royal Botanical Garden di Melbourne. Seperti Central Park juga, di Kings Park ini terbagi beberapa area mulai dari amphitheater, kolam, panggung pertunjukan, monumen perjuangan sampai dengan glass arched bridge. Dari sini kita juga bisa melihat landscape kota Perth dari kejauhan.

Selama duduk-duduk di sana saya ngeliatin tingkah polah anak-anak kecil yang lagi main. Lucu, ada yang nyolong sendal kakaknya trus dikejar sampe dapat, ada yang ujug-ujug guling-guling di rumput, menganggap dirinya udah kayak bola yang nggelinding ke bawah. Ada juga anak kecil yang asik nendang sandal jepitnya sendiri. Habis dapat, trus ditendang, trus dapat, ditendang lagi. Gitu terus, asik mainan sendiri. Emang ya, anak kecil itu paling tahu gimana cara bahagia dengan caranya sendiri.

Untung aja saya nggak terlalu ambi menentukan tempat tujuan jalan di hari pertama ini. Soalnya ga lama setelah sampai Kings Park trus saya cuma bisa nggeletak tiduran di rumput. Akhirnya bener aja khan, University of Western Australia jadi ngga sempet kita kunjungi gara-gara saya udah capek duluan.

22154274_10212960517300951_6099377819137180478_n

Setelah puas tidur-tiduran di rumput, akhirnya kita trus mutusin jalan balik lagi buat makan malam trus lanjut ke hotel. Seneng? Ya jelas seneng lah, besok pagi siap buat jalan lagi: road trip ke National Park. Yay!

Advertisements
October 3, 2017

Aquiescence and ReelOzInd!

Untitled

Seperti yang ditulis di blog post yang ini, saya akhirnya langsung bertugas buat datang ke acara festival film pendek yang diadakan oleh ReelOzInd! Merupakan acara yang kedua kalinya digelar, tahun ini ReelOzInd! mengajukan water alias air sebagai tema utama.

Awalnya saya sempat ragu juga sih, wong bukan pemerhati film. Nonton di bioskop aja jarang-jarang, ini kok disuruh ngeliput festival film pendek. Demi apaaaa! Berhubung yang namanya tugas, mau ga mau dijalanin donk ya. Sekalian nambah pengalaman juga.

Saya ke sini ditemenin Teto, fotografer yang bertugas buat jepret-jepret selama acara. Untung banget ada Teto yang memang lebih lama bertugas di Ozip ketimbang saya. Jadi dia juga yang kasih tahu “Biasanya begini, Kak.” atau “Biasanya gitu, Kak.”

Sebelum datang ke acara, jelas saya harus cari tahu dikit donk ya tentang apa yang mau ditulis, termasuk juga PIC acara tersebut, JP. Keterangan lebih lanjut mengenai JP bisa dicek di sini. Yang jelas pas baca profil singkat beliau terus terang saya keder duluan. Sepertinya JP jauh lebih mengenal Indonesia ketimbang saya. Uh oh.

Balik lagi ke festival filmnya, saya datang pas acara belum dimulai jadi sempat memperkenalkan diri ke JP. Ngga banyak nanya sih, cuma kasih tahu siapa saya, terus bilang terima kasih soalnya udah dikasi kesempatan buat datang. She said “Enjoy!” 

Turn out I really enjoyed the event.

Konon kata JP di kata sambutannya, “ReelOzInd bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman di antara warga Australia dan Indonesia yang bisa dikemukakan melalui film. Film adalah sebuah media kreatif yang memungkinkan kita untuk berbagi cerita sekaligus membangun hubungan yang lebih baik.”

Malam itu total ada 13 film pendek yang diputar dengan cerita yang beragam. Bahasa pengantarnya juga macam-macam, Indonesia dan Inggris. Malah ada yang pakai bahasa Jawa segala. Saya cukup kagum juga melihat ada karya anak SMA yang ditampilkan. Cool!

Trus yang mana film favorit saya? Salah satunya adalah Aquiescence, karya mahasiswa Binus School of Design. Film ini berkisah tentang sebuah pohon yang menjadi saksi perubahan jaman, mulai dari ekosistem hijau sampai dunia yang penuh polusi dan perang. Menariknya, dalam film ini ada sosok gadis yang mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa selalu hadir dalam keseharian sang pohon. Sweet banget deh.

Dugaan saya, Aquiescence ini diambil dari kata acquiesce. I think the creator wanted to relate acquiesce with aqua or water. Acquiesce essentially means “to comply quietly”. It should not surprise you to learn that it is ultimately derived from the Latin verb quiescere, meaning “to be quiet.” 

Tuh, ternyata dari datang ke acara ini aja ada banyak hal baru yang saya pelajari. Tugas liputan saya untuk edisi berikutnya ga kalah menantang: Blues Music Festival. Lagi-lagi… Demi apaaaaa!

September 28, 2017

Satu Hari di Canberra

“Ke Canberra? Ngapain?”  

“Emang ada apa di sana?”  

“Mahal ga?” 

“My friend told me that Canberra is very quiet”

Gitu deh rata-rata respon yang saya dapat pas berburu korban buat nemenin jalan ke Canberra. Akhirnya sih tetep, berhasil menarik makhluk random yang tiga-tiganya sebenernya ngga saling beririsan di dunia nyata. Di antara mereka ada sih yang satu kelas, tapi sebelum trip ke Canberra ini mereka nggak kenal sama sekali.

Trus setelah berhasil narik korban, perjalanan lancar-lancar aja? Oh tentu tidak. Kami kehabisan tiket bis! Haduuuh, ternyata jurusan Melbourne-Canberra itu bukan rute gendut, jadi pilihan yang ada cuma bis Greyhound, kereta atau pesawat. Opsi terakhir langsung coret. Mahal! Kereta juga ga saya minati karena: ribet! Soalnya kalo naik kereta tuh kita harus turun di stasiun mana gitu trus ganti naik bis. Alamak, udahlah assignment sehari-hari bikin pusing, janganlah naik kereta ke Canberra juga bikin mumet.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Alhasil satu-satunya pilihan ya naik bis Greyhound yang.. tiketnya habis. Saya udah sedih duluan aja tuh, takut akhirnya ga jadi berangkat. Untungnyaaaa.. Trus pas saya pake taktik akhirnya bisa juga berangkat. Taktik gimana? Khan tiket yang habis itu kalo buat perjalanan untuk empat orang sekaligus. Sementara si Greyhound ini punya dua jam keberangkatan: siang dan malam. Saya coba pecah dua, jadi dua orang berangkat siang dan dua lagi berangkat malam. Eh bisa. Dan temen-temen saya juga orangnya pasrahan, mereka mau-mau aja dengan pilihan seperti itu. Okaaay, berangkatlah kita ke Canberra dengan ‘sendiri-sendiri’.

Tim kami ada empat: saya, Por, Ica, dan Rissa. Ica dan Rissa berangkat duluan di siang hari sementara saya dan Por berangkat jam 10 malam dan sampai Canberra jam 6 pagi. Sengaja saya pilih berangkat malam, supaya ngga perlu ngeluarin uang buat hotel karena kita berempat bakal pulang ke Melbourne keesokan malamnya. Saya sadar sih pilihan ini ada resiko bakalan capek banget, tapi saya bersedia ambil konsekuensinya. Untung Por juga mau-mau aja.

Rencana ini sempet jadi nyebelin karena pas nyampe Canberra trus kita berdua cengok. Gila, ini kota sepi banget! Syracuse aja masih lebih mendingan ketimbang Canberra, eh ngga dink. Sama kali ya hehehehe..

Australian National University

Pas masih di Melbourne saya sempet ngusulin ke Por “We have to visit Australian National University!” yang direspon sama dia dengan muka aneh. “Whatt? You wanna go to campus! Come on!” 

Tapi pada akhirnya begitu sampai di sana, melihat kita ga punya pilihan lain selain tolah-toleh berdua, akhirnya Por mau juga diajak ke kampus ANU. Random, kita berdua menyasarkan diri di dalam area kampus ANU, malah masuk ke perpustakaannya segala. Lagi-lagi Por menganggap saya aneh gara-gara saya ajak cari library. Gimana lagi, kompetitip jhe. Saya pengen ngebandingin Baillieu library sama Chifley library kepunyaan ANU. Mana yang lebih saya suka? Jelas Baillieu lah. Hahahaha!

photo6220033726570670071

Secara keseluruhan, kampus ANU ternyata asik juga. Sejuk, area terbuka dan gedungnya terpisah jauh satu sama lain. Mengingatkan saya akan kampus Universitas Indonesia. Oya, ANU dan Unimelb ini seringnya saingan satu sama lain buat memperebutkan tempat sebagai ‘number one university in Australia’. Kebetulan saat ini Unimelb sih yang menang, walopun harus mengorbankan mahasiswa-mahasiswanya melalui tekanan assignment. Eh jadi curhat 😀

Floriade

photo6220033726570670047Ini dia nih alasan utama saya pengen ke Canberra! Gratis! Apapun yang gratis biasanya bikin saya tertarik. Walopun secara teknis ya ga gratis sih, wong ada pengeluaran ekstra buat tiket Greyhound. Tapi gapapa lah.

Floriade adalah festival bunga dan seni yang digelar tahunan sejak tahun 1988 di Canberra. Kata Floriade sendiri berasal dari kata Latin floriat, yang artinya mendesain dengan bunga. Tahun ini Floriade dibuka dari 16 September sampai 15 October 2017. Di sini juga pada akhirnya saya dan Por berkumpul sama Ica dan Rissa. Random talks and chitchat begins…

SAMSUNG CAMERA PICTURES

I hope that Por won’t regret her decision traveling with us, crazy Indonesians. Por (yang sweater hitam bertopi) ini adalah satu-satunya temen non Indonesia dalam perjalanan kali ini. Thai with Indonesian face, sometimes people mistaken her with Indonesian. Pernah satu saat Por diajak nyerocos dalam bahasa Indonesia oleh lecturer Unimelb yang berasal dari Indonesia, hahahaha.

Random walk

Canberra hari itu terik. Tapi berhubung kami berempat budget traveler alias maunya yang murah-murah aja jadi kita ke mana-mana jalan kaki.

photo6220033726570670048

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

photo6220033726570670070

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patissez Cafe

Pas lagi ngecek web Floriade ternyata ada cafe yang disarankan untuk dikunjungi: Patissez Cafe yang terkenal dengan Frekshake, milkshake yang disajikan dengan tingkat lebay tiada tara.

Jiper dengan porsinya yang kayaknya bikin eneg, tapi saya juga penasaran pengen nyoba. Pas kita cek langsung ke lokasi, ternyata ada porsi baby shake. Haaa.. Ini aja deh dicobain, soalnya kayaknya oke.

photo6220033726570670066

Beneran pas ternyata, ga terlalu gede dan ga terlalu mungil. Rasanya juga enak, walopun ini lidah saya ngga bisa dijadiin tolok ukur ya. Suami saya suka komentar, katanya saya nggak bisa ngerasain rasa selain enak dan enak banget. Entah laper entah emang doyan makan.

Tidur di Mall

Ini aktivitas yang bener-bener di luar agenda. Siapa coba yang bakal masukin tidur di mall dalam itinerary jalan-jalan? Tapi beneran, habis seharian jalan kaki ke mana-mana, panas terik, trus kena milkshake dingin, belum lagi habis makan Thai food yang enak (tuh khan, kata-kata saya di paragraf di atas udah langsung terbukti), kita berempat udah low bat.

Lucunya, walopun siang hari panas gitu ternyata pas malam duingin banget. Jadi pas ngga sengaja nemu ada mall, kita berempat masuk buat menghangatkan diri. Awalnya Por nggak mau hanya duduk-duduk aja. “I think I will wander around.” Eh trus balik-balik dia bilang “I found chair and sofa above. We can sleep there.” Lha! Malah dia yang ngajakin tidur. Oke lah, akhirnya saya bilang ke Rissa dan Por buat duluan aja ke atas, saya mau nungguin Ica yang mandi (!) di toilet mall. See? I‘m serious when I mentioned that we’re crazy Indonesians. 

Begitu Ica balik dari toilet dengan muka fresh, saya trus ngajakin dia ke lantai atas hanya buat menemukan Rissa dan Por udah hilang di alam mimpi, hahahaha. Molor kecapekan mereka! Ga mau kalah, saya juga akhirnya cari tempat yang nyaman dan.. tidur. Lumayan, kayaknya saya sempet tidur selama 1 atau 2 jam gitu.

Kita berempat trus diusir sama mas-mas cleaning service jam 9 malam, soalnya dia katanya mau bersih-bersih area tempat kita duduk. Okelah mas, kita ngalah.. Kita emang salah.

Beranjak dari tengah kota Canberra jam 9 malam, kita trus jalan kaki lagi menuju terminal buat nunggu jadwal bis pulang jam 11 malam. Okelah Canberra, thanks for being nice to us during this short trip. See you when I see you 😀

September 23, 2017

Direkrut

Semester ini bener-bener gila! Ini term ‘gila’ harus saya tulis pake bold dan italic. Malah kalo perlu font size-nya maksimal segede gaban. Beneran, ini saya serius sampai mikir ini ngga boleh begini terus. Harus nemuin jalan biar tetep sehat lahir batin. Dan ternyata jalan itu dikasih berupa: direkrut jadi jurnalis majalah! Alhamdulillah.

Jadi pas lagi di kelas Cross-cultural, saya ditanya temen

“Ada yang minta dicariin orang yang biasa nulis nih. Boleh ngga saya kasih nomermu ke dia?”

Saya iyain aja. Lagian, kenapa engga? Beberapa hari kemudian saya dikontak sama PIC majalah itu buat diminta kirim CV. Nama majalahnya OZIP, media yang fokusnya lebih ke komunitas Indonesia di Australia. Benernya udah lama sih denger nama OZIP ini, malah pas beberapa kali manggung bareng Bhinneka juga pernah diliput sama OZIP.

Balik lagi ke cerita CV, akhirnya saya utak-atik dokumen keramat ini dulu. Soalnya yang saya punya khan isinya detil kerjaan teknis. Utak-atik dikit, bikin CV baru, sekalian dipermanis pake beberapa karya yang pernah dimuat trus kirim deh.

Nah trus tiba-tiba hari Rabu, 20 September lalu saya diajakin makan siang bareng sama PIC majalahnya. Di sini ternyata ngga cuma makan siang, tapi juga saya dikenalin sama Editor OZIP, dikasi tau tugas dan tanggung jawab, trus juga udah langsung dikasih kerjaan. Pokoknya ini ternyata jadi rapat ga resmi.

Ozip

Rapat pertama ini ibaratnya kayak lagi pedekate gitu deh. Dua pihak saling lirik, saling pandang, trus menilai cocok apa enggak. Bedanya di sini ga jelas siapa yang nembak dan siapa yang nerima buat jadian, hahahaha.

Anyway, pokoknya saya terima deh itu tawarannya, sekali lagi, demi mengisi hari-hari saya biar isinya ga cuma assignment.. assignment.. dan assignment.  Saya juga udah nyadar dari dulu kalo nulis itu jadi terapi. Jadi ibaratnya ya sambil menyelam minum air. Belajar jadi jurnalis sekaligus nambah portofolio tulisan trus juga jadi terapi buat saya. Kurang apa lagi 😀

Udah ah. Ini masih mo lanjutin nugas. Another. Assignment. Bye!