Posts tagged ‘europe’

March 17, 2016

EuroTrip vs US Road Trip

Walaupun bukan perbandingan yang apple to apple karena jelas yang satu menjelajah beberapa negara sementara yang lainnya berkelana di dalam sebuah negara (yang luasnya bukan main), tapi ada beberapa hal yang bisa dibandingkan.

EUROTRIP

  1. EuroTrip memerlukan perencanaan yang lebih njelimet karena menggunakan transportasi umum seperti kereta atau pesawat. Kalau naik pesawat harus memperhitungkan waktu dan jarak tempuh dari/menuju bandara. Apalagi kalau naik maskapai murmer (yes RyanAir, I’m talking about you!) .
  2. Selama berada di sebuah kota kita harus cermat menghitung apakah lebih efisien beli one day ticket atau cukup beli tiket sekali perjalanan. Jangan sampai nafsu beli tiket terusan (ala-ala Dufan, pake tiket terusan) padahal kita cuma naik kereta 2 kali pulang pergi yang totalnya separuh dari one day ticket.
  3. Dengan harga yang kurang lebih sama (around 50-60 bucks), kamar hotel di negara-negara Eropa jauh lebih kecil ketimbang kamar hotel di Amrik.
  4. Selama di Eropa saya belum pernah ditawari orang asing untuk memotretkan kami. Yang ada malah saya yang masih terbawa kebiasaan selama di US, inisiatif menawarkan diri untuk memotret turis yang fotonya berganti-gantian.
  5. Jaga harta baik-baik. Post yang ini sudah cukup menjelaskan horor-nya berjalan-jalan di Barcelona.
  6. Eropa punya kereta malam yang nyaman dan layak untuk dicoba. Walaupun harganya tidak murah tapi sekali-sekali boleh deh menginap di ranjang kereta.

10178022_10152361050553934_4146718838078277217_n

US ROAD TRIP

  1. Karena kamar hotel benar-benar difungsikan sebagai tempat istirahat, jadi hotel yang dipilih juga bukan yang bertipe fancy. Kalo di US, favorit kami itu Motel 6. Nggak dapat Motel 6, Super 8 pun boleh lah. Kalau lagi hoki, bisa dapat Red Roof Inn atau Days Inn dengan harga diskon dan jatuhnya sama seperti Super 8.
  2. Road trippin’ means you can bring anything you want, literally! Demi menghemat makan, saya bawa rice cooker, beras, mangkok, sendok garpu dan kopi instan. Setiap pagi sebelum berangkat, saya masak nasi dan dimasukkan ke kotak bekal. Di tengah perjalanan kami mampir ke any grocery chain untuk beli salad, lauk dan buahSaya sampai hapal kalau di sekitar New York state kita bisa menemukan Wegmans. Di Arizona bisa mengandalkan Safeway sementara North Carolina punya Food Lion.
  3. Selama bawa mobil sendiri, tak perlu hitung-hitung soal tiket transportasi umum. Tapi harus pusing soal parkir, karena di beberapa kota yang padat seringkali susah cari parkir. Belum lagi kalau parkir di tempat yang bayarnya pakai koin. Sebentar-sebentar harus mengecek jam, jangan sampai jatah parkir kita habis kalau tidak mau kena surat tilang.
  4. US nggak punya tumbler Starbucks dengan nama kota atau negara (penting!). Jadi kalau mau beli kenang-kenangan terpaksa diganti mug.
  5.  Tiket kereta antar kota termasuk mahal. Saya belum pernah cek sendiri sih karena memang tidak pernah berniat jalan-jalan dengan kereta.
  6. Jangan khawatir nggak punya foto beramai-ramai atau berdua pasangan di Amrik. Selalu saja ada yang menawarkan “let me take picture of you two”  kalau melihat kita berganti-gantian memotret.
  7. Tidak pernah kecopetan atau nyaris kecopetan. Tapi gelandangan yang suka minta uang tetap ada sih di beberapa kota.

Sementara baru itu dulu yang keinget untuk ditulis. Nanti kalau ada tambahan lagi ditulis jadi bahan part 2 deh.

Advertisements
Tags: ,
August 17, 2015

Serba Pertama Kali di Munich, Jerman

Semua serba pertama di Munich. Pertama kali menginjak benua Eropa dan pegang Euro hasil tarik tunai di ATM bandara. Pertama kali datang ke negara yang bahasanya bukan Inggris. Pertama kali menginap di hostel, pertama kali mengikuti tur stadion bola dan pertama kali juga naik high speed train.

Kami mendarat di Frankfurt Airport pagi hari setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Dalam keadaan capek dan sedikit ngantuk, saya menurut saja di-guide oleh suami. He’s truly a walking compass.

Dia yang mencari arah, bertanya cara membeli tiket kereta sekaligus cara membaca itinerary yang tertera di tiket ke petugas (believe me, taking a train in Germany is more complicated than you think), ambil uang di ATM sampai dengan menyarankan saya untuk ngopi sejenak saat melihat kedai kopi favorit: Starbucks.

Untung saja saat itu petugas imigrasi di pos kedatangan sedang berbaik hati kepada kami. Tanpa dihujani banyak pertanyaan kami diijinkan memasuki Jerman.

Dari bandara kami memutuskan langsung menuju Munich menggunakan DB Bahn (kereta regional yang menghubungkan antar kota di Jerman). Bagaimana mendapatkan tiketnya? Cukup mudah: tiket dapat dibeli dari mesin serupa ATM yang banyak terdapat di bandara dengan menggunakan kartu debit/kredit yang dimiliki. OK, tiket sudah di tangan, tapi masalah selanjutnya muncul. Kereta DB Bahn yang mana yang akan membawa kami ke Munich, jam berapa, dari peron yang mana? Ternyata tidak ada keterangan apapun yang tertera di tiket yang dapat kami gunakan. Setelah bertanya ke information center, kami pun diajari cara membaca itinerary perjalanan kereta di Jerman yang menurut kami memang lain dari yang pernah kami alami sampai saat itu.

Bandara dan stasiun Frankfurt berada di satu kawasan sehingga tidak menyulitkan bagi pendatang seperti kami untuk berpindah sarana transportasi. Saat mencari jalur kereta yang benar, kami masih sedikit tak yakin. Kalau sampai salah naik kereta khan bisa panjang urusan, belum lagi badan sudah menuntut istirahat. Untung saja penduduk lokal ramah dan tanggap. Melihat kami yang kebingungan, seorang pemuda berpakaian rapih mendekati saya dan bertanya tujuan kami. Setelah kami tunjukkan tiket dan sebut tujuan kami, pemuda tersebut memberi

Frankfurt am Main Hauptbahnhof secara literal bisa diartikan sebagai stasiun besar kereta di kota Frankfurt. Di sana kami menyempatkan diri untuk sarapan dengan menu: Burger King!

Jadwal kami hari itu adalah beristirahat, jadi sesampainya di kota Munich kami langsung menuju ke hostel yang sudah dipesan online: Smart Stay Hostel Munich City. Alasan utama memilih hostel adalah kepraktisannya. Lokasi hostel ini sangat dekat dari stasiun U Bahn, yang sangat kami andalkan untuk berkeliling Munich.

smart stay

Bisa dilihat sendiri di peta, seberapa dekat jarak hostel ke stasiun tersebut. Maklum, sebagai pengguna angkutan umum dengan pinggang yang semakin menua harus memperkirakan jarak satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.

Munich. Bisa menebak nggak kira-kira apa alasan kami mengunjungi kota ini? Suami saya yang pencinta berat olah raga sepak bola mengajak saya untuk mendatangi markas salah satu klub bola terbesar di dunia, Allianz Arena milik kesebelasan FC Bayern. Ini pula yang menjadi jawaban suami saya saat sesi wawancara visa di Konsulat Jerman 2 bulan sebelumnya. Untung petugas visa bukan pecinta klub rival berat FC Bayern ya? Bisa-bisa permohonan visa kami tidak disetujui :p. Alasan lain adalah kami ingin mengunjungi Schloss Neuschwansteinn yang kabarnya juga mudah digapai melalui kota Munich, hanya 2 jam saja menggunakan kereta.

BMW World

Kami punya waktu tiga hari dua malam di Munich tapi bingung mau ke mana lagi selain ke Allianz Arena. Googling punya googling, ada satu tempat menarik yang bisa dikunjungi yaitu BMW Museum.

Di BMW Museum dipajang berbagai varian kendaraan bermotor baik mobil atau pun motor yang diproduksi oleh pabrikan yang memang berpusat di kota ini, dari jaman dulu hingga sekarang. Bahkan mobil Formula One yang dulu dikendarai oleh David Coulthard di kejuaraan balap mobil paling bergengsi sejagat pun ada di sini. Sebenarnya BMW Museum juga menawarkan paket tur untuk melihat-lihat secara langsung pabrikan dari dekat. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mengikuti jadwal tur yang ada setiap jam ini. Kami akhirnya hanya membeli tiket masuk museum, dan puas berfoto dengan mobil dan motor yang dipajang di sana saja.

Allianz Arena

Suami saya senang sekali karena ini pertama kalinya dia bisa menginjakkan kaki dan melihat secara langsung stadion di mana kesebelasan besar Eropa berlaga. Maklum, selama di Amrik, sepak bola bukan olah raga nomor satu di sana, sehingga harus puas menonton basket atau American Football ditayangkan di TV. Apalagi yang kami kunjungi adalah FC Bayern, yang saat itu baru saja mendapatkan quindruple (ini jelas info dari suami saya sih hehehe). Saya sendiri cuma manggut-manggut saja dijelaskan quindruple itu apa.

Ada dua aktivitas yang kami lakukan di Allianz Arena: mengikuti tur mengeliling Allianz Arena, stadion sepak bola yang juga menjadi home base 2 kesebelasan besar dari kota Munich, FC Bayern dan TSV 1860. Disediakan 2 jenis tur dengan pilihan bahasa Jerman atau pun bahasa Inggris.

Tur itu membawa kami mengunjungi tribun, kamar ganti, ruang media, dan fasilitas lainnya yang terdapat di Allianz Arena tersebut. Sayang karena saat itu sedang off season, rumput yang ada di lapangan sedang dicabut, hanya menyisakan tanah coklat di tengah lapangan.

Setelah tur selesai kami pun mengunjungi museum FC Bayern yang juga terdapat di Allianz Area, FC Bayern Erlebniswelt. Di sana segala macam memorabilia yang terkait dengan sejarah klub besar kebanggaan Bavaria dipajang. Suami saya terlihat sangat antusias melihat seluruh pernak-pernik bola yang ada di dalamnya, termasuk meminta untuk berfoto dengan 5 trofi quindruple yang baru saja didapatkan oleh FC Bayern.

Sepertinya kami jalan-jalan di musim yang kurang tepat karena beberapa kali terhalang oleh hujan, termasuk saat keluar dari stadion. Untung saja tidak sampai mengganggu itinerary keseluruhan dan yang paling disyukuri adalah hari-hari selanjutnya hujan turun bukan di saat kami beraktivitas di luar ruangan.

…. Bersambung

Tags:
August 7, 2015

City Night Line – Comfortline Sleeper Cars

Hal yang paling ingin saya lakukan kalau menginjak benua Eropa adalah mencoba menginap di kereta malamnya. Maklum, di Indonesia khan tidak ada kereta yang menyediakan bilik kamar buat tidur. Sebenarnya di Amtrak juga ada sleeper train tapi kalau di Amerika sepertinya lebih seru kalau sewa mobil (ini statement asli ngguaya.. wong yang nyetir juga sebenernya suami kok :p)

Tetapi yang namanya rencana tuh ternyata tidak selalu mudah diwujudkan, termasuk plan untuk mencoba naik kereta malam ini. Berbagai hal yang jadi pertimbangan adalah itinerary, jadwal kereta dan yang paling penting adalah budget. Jelas, wong ternyata tarif tiketnya melebih harga sewa hotel semalam, hiks

 photo 20140528_131409_LLS_zpsx61bcsga.jpg

Tapi jalan-jalan ke Eropa merupakan kesempatan yang bakal jarang buat kami, jadi ya sudahlah pasrah saja dengan harga yang harus dibayar tersebut. Setelah melihat dan mencocokkan jadwal, akhirnya diputuskanlah City Night Line yang bisa diintip di website ini. Kami sengaja memilih kamar dengan 2 tempat tidur supaya lebih privat. Untuk kelas, cukup yang kelas 2 sajalah. Toh kalau dilihat dari gambar sepertinya sudah cukup nyaman buat kami yang nggak neko-neko ini.

Petualangan ini dimulai dari Munchen Hbf (pukul 22:50) menuju Utrecht Centraal (pukul 09.22). Wah kalau diingat lagi ini perjalanan yang sempat diwarnai deg-deg-an karena di hari yang sama itu jadwal kami di Fussen dan sekitarnya yang berjarak kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan.

Untungnya kami tidak sampai ketinggalan kereta walaupun waktu akhirnya sampai di Munchen Hbf sudah mepet sekali. Berbekal sushi raksasa dan 2 botol air putih yang dibeli di stasiun, kami pun masuk ke dalam kereta yang sudah menunggu. Pertama kali masuk langsung toleh kanan kiri, rasanya ingin lihat semua detil-detil yang ada di dalam kabin.

Buka pintu kabin dan langsung disambut oleh tempat tidur susun. Tanpa basa-basi saya langsung mengambil tempat di kasur bawah. Biar suami saja yang di atas, toh lebih mudah buat dia untuk naik tangga ke atas ketimbang saya, hehehe. Di tempat tidur bagian atas ada pelindung supaya penumpang tidak terjatuh saat tidur malam. Jadi jangan khawatir untuk memilih tempat tidur yang di atas ya.

 photo 20140528_132206_LLS_zpspa21nnvq.jpg

Di dalam kabin sudah disediakan dua botol air putih dan dua buah hanger untuk menggantung pakaian. Di atas masing-masing ranjang ada selimut dan sebuah bantal. Selain itu juga ada lampu sendiri-sendiri jadi kalau ada yang masih ingin membaca bisa menyalakan lampu tanpa mengganggu rekan sekamar.

 photo 20140528_132440_LLS_zps5qce4fp6.jpg

Persis di belakang pintu, tepatnya di sebelah kiri kita kalau baru masuk kabin, ada sebuah lemari yang ternyata berisi washtafel, handuk dan peralatan bebersih diri.
 photo 20140528_132556_LLS_zps2qdrdkig.jpgIntip bagian lorong yang tidak terlalu lebar.
 photo 20140528_133230_LLS_zpsoyge5bos.jpgBeginilah kalau barang sudah dibongkar di dalam kabin.. Lumayan sesak juga ya.
 photo 20140528_134618_LLS_zpsb6hjzy6e.jpg

Karena kami memilih kelas 2 jadi tidak ada kamar mandi di dalam kabin. Tetapi jangan khawatir, tiap gerbong punya 2 kamar mandi yang bisa dipakai bergantian. Kamar mandinya pun bukan hanya sekedar toilet, tapi benar-benar kamar mandi lengkap dengan shower air panas dan air dingin.

Bermalam di dalam kereta ternyata sama nyamannya dengan tidur di kamar hotel. Atau jangan-jangan juga karena faktor kecapekan kali ya jadi begitu badan menempel di kasur saya pun langsung terlelap tanpa terganggu oleh guncangan-guncangan.

Pagi-pagi, sekitar pukul 7, pintu kabin diketuk petugas yang mengantarkan sarapan. Wah, lumayan walaupun sarapannya ya ala bule yang berupa roti, susu dan sejenis snack lain. At least I successfully tick off my bucket list: traveling in sleeper train with husband 🙂

Tags: