Posts tagged ‘father’

September 5, 2015

Selamat Jalan, Papa..

… selamat berjumpa kembali dengan Mama..

Papa pernah berkata bahwa keinginan beliau adalah pergi dengan tenang, cepat, tanpa sakit dan tidak menyusahkan orang lain, terutama anak-anaknya. Alhamdulillah, saya harus bersyukur bahwa keinginan beliau dikabulkan walaupun hal ini menyisakan shock bagi saya dan adik-adik.

Sabtu, 15 Agustus 2015 saya upload foto berikut di Facebook

papa

Seminggu kemudian saya kembali share foto tersebut

papa2

Sesuai dengan yang saya tulis di Facebook, saya sekeluarga baru saja berkunjung ke rumah adik Papa di Bandung untuk menjenguk Om yang sakit. Kunjungan ke Bandung itu memang diusulkan oleh Papa. Selama perjalanan tersebut Papa terlihat biasa saja. Tetapi belakangan kalau saya ingat-ingat lagi, Papa memang banyak bercerita soal masa kecil saya, hal yang hampir tidak pernah beliau lakukan sebelumnya.

Sabtu, 22 Agustus 2015 pagi, saya menganggap hari itu akan berjalan seperti biasa. Paginya bahkan saya sempat mengirim progress update project yang saya handle di kantor dan sempat posting blog segala. Pukul 11.20 saya ditelepon adik untuk segera datang ke Rumah Sakit.

Long story short, Papa meninggal karena serangan jantung. Beliau jatuh saat sedang duduk di meja makan dan segera dibawa ke Rumah Sakit sekitar pukul 11 WIB. Saat itu beliau masih sadar sepenuhnya, bahkan berkomunikasi sendiri dengan dokter untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Menurut dokter tiba-tiba Papa kelelahan dan langsung dibaringkan di IGD untuk mendapat tindakan.

Pukul 12.20 WIB beliau tiada

Seumur hidup saya, Papa tidak pernah dirawat di Rumah Sakit. Tidak pernah sakit berat. Tidak pernah operasi, bahkan operasi ringan sekalipun. Tidak pernah butuh bantuan orang lain untuk beraktivitas. Saya shock berat saat tiba di RS dan melihat kondisi beliau yang sedang menerima tindakan. Masker oksigen di wajahnya, dokter dan perawat di sekelilingnya sedang mengoperasikan alat kejut jantung… dan yang tidak saya lupa adalah bunyi datar di alat monitor jantung. Sampai saat ini adegan tersebut masih terputar di ingatan saya, seakan saya adalah penonton yang tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi kekagetan saya belum seberapa dibanding adik bungsu saya. Kukuh, adik saya itu kebetulan sedang liburan semester dan berencana ikut kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Sebelum ke Kediri dia mampir ke rumah saudara di Tulungagung. Dia berangkat Jum’at siang dan sampai di Tulungagung pada Sabtu Subuh. Sabtu pagi itu dia masih bercanda dengan Papa di telepon. Siapa sangka Sabtu siangnya Papa meninggal dunia.

Di antara kami empat bersaudara mungkin yang paling terpukul adalah Kukuh. Bukan hanya karena ia anak bungsu yang 9 tahun lalu kehilangan Mama di usia 11 tahun, tapi juga karena faktor kedekatannya dengan Papa. Bisa saya bilang, ia anak kesayangan Papa. Saking sayangnya, istilah orang Jawa, Kukuh itu ditilapno oleh Papa.

Ya, Papa berpulang sesuai dengan keinginannya. Teman-teman beliau bahkan berkata bahwa mereka iri pada Papa. Mereka sendiri pun ingin seperti itu, berangkat dengan cepat dan sama sekali tidak menyusahkan.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un… Selamat jalan, Papa.. Selamat berkumpul kembali bersama Mama.

Bagi teman-teman yang membaca posting blog ini, saya mohon doa untuk beliau semoga diberikan tempat terbaik di sisiNya dan diampuni segala kekeliruannya. Terima kasih ya 🙂

Advertisements
Tags:
June 16, 2012

True, It’s In the Genes

My brother told me to check photo he sent later. I waited for a while then there it was.. It was a capture of Kompas, Indonesian daily newspaper. What was the urgency? Why should I take a look to that picture? Aha! That was my father’s letter to Suara Pembaca.

Hours later one of my cousins asked me via Blackberry Messenger

Her : “Hey, mbak! What did your father write about?”

Me : “Ugh, that’s sort of complaint letter. He questioning why his daughter did not pass the central bank selection process”

30 second later.. Before she’s taking it seriously I replied.

Me : “No! Joking! Actually he asked about the central bank policy for issuing the newly designed Rupiahs banknotes for denomination 50K and 100K without any information to public (via newspaper). His question was a little bit technical, actually, haha!”

No, I’m not going to talk about the question. I had such an epiphany, we did share the same gene (I’m his daughter, so you are not surprised, eh?). If I have a certain opinion about someone(thing), I could think about it many times. Time goes by and I could not stop thinking about it, I’ll ponder to get that idea done. Hey, I’m a doer! So does my father. I can imagine he hold the new 50K rupiahs then demand an answer about that banknote, why this one does has the identical design as before? What’s value added? Is this banknote worth the renewal design? How about the cost? He kept thinking about that then made decision to write a letter. One thing I know for sure: I inherited my father’s ‘no doubt’ action.

Tags: