Posts tagged ‘visa’

May 5, 2016

Visa Student & Visa Turis Australia

Sekali apply, dua jenis visa sekaligus kami proses. Student visa untuk saya dan tourist visa untuk suami. Kenapa nggak pakai dependent visa untuk suami, khan suami juga bisa ditanggung oleh LPDP? Karena untuk apply dependent visa, ada asuransi yang harus dibayar dan jumlahnya ngga sedikit. Bisa ribuan dolar lho selisih antara asuransi single dengan family.

Proses aplikasi visa Australia relatif mudah, apalagi dibandingkan dengan aplikasi visa Amerika ataupun Schengen. Sama sekali tidak perlu wawancara! Berikut ini berkas yang harus disiapkan.

Student Visa (untuk awardee LPDP)

  1. Form 157A yang bisa di-download di website. Sebelumnya jangan lupa diisi, kalau ada bagian yang tidak tahu, kosongkan saja
  2. Paspor asli (hanya ditunjukkan saja, tidak diambil)
  3. Fotokopi semua halaman paspor yang ada isinya, mulai dari data diri, visa, stempel imigrasi, alamat sampai dengan bukti pernah lapor diri di kedutaan Indonesia di luar negeri
  4. Fotokopi akte kelahiran
  5. Fotokopi ijasah dan transkrip S1
  6. Fotokopi KTP & Kartu Keluarga
  7. LoA (Letter of Acceptance)
  8. CoE (Confirmation of Enrolment)
  9. Letter of Sponsorship dari LPDP
  10. Letter of Guarantee dari LPDP
  11. Foto ukuran foto paspor
  12. Fotokopi buku nikah
  13. Fotokopi sertifikat IELTS atau TOEFL iBT
  14. Uang tunai 6 juta rupiah

Karena saya mengajukan visa sendiri, tanpa suami sebagai dependent, ternyata  detail mengenai suami justru tidak dibutuhkan sama sekali. Padahal saya sudah menyiapkan dokumen suami secara lengkap mulai dari akte kelahiran, slip gaji, KTP dan KK. Ya sudah, disimpan saja untuk apply tourist visa.

Tourist Visa 

  1. Form 1419 yang bisa di-download di website. Diisi juga ya
  2. Paspor asli (hanya ditunjukkan saja, tidak diambil)
  3. Fotokopi semua halaman paspor yang ada isinya, mulai dari data diri, visa, stempel imigrasi, alamat sampai dengan bukti pernah lapor diri di kedutaan Indonesia di luar negeri
  4. Fotokopi akte kelahiran
  5. Surat keterangan bekerja yang ditandatangani atasan
  6. Fotokopi KTP & Kartu Keluarga
  7. Slip gaji (kami siapkan 2 bulan terakhir)
  8. Capture screen internet banking yang menunjukkan mutasi dan saldo akhir di bulan berjalan. Saya terlalu malas dan tidak punya waktu untuk datang langsung ke bank dan meminta rekening koran, hehehe
  9. SPT Pajak tahun 2015. Ini sebenarnya tidak diminta, tapi saya sertakan saja untuk menunjukkan bahwa suami punya penghasilan tetap di Indonesia
  10. CoE (Confirmation of Enrolment) saya untuk membuktikan bahwa suami akan mengunjungi saya sebagai student
  11. Foto ukuran foto paspor
  12. Fotokopi buku nikah
  13. Uang tunai 1.7 juta rupiah

Setelah semua dokumen siap, tinggal datang ke VFS yang berlokasi di Kuningan City lantai 2. Tidak perlu membuat janji temu sebelumnya, langsung datang saja. Lebih baik datang pukul 8.30 WIB tepat supaya dapat giliran pertama.

Dokumen dan pembayaran akan diperiksa oleh petugas untuk diteruskan ke Kedutaan. Selang dua hari setelah memasukkan aplikasi, ada e-mail masuk dari Kedutaan yang isinya mewajibkan saya untuk melakukan medical check up lengkap dengan data Rumah Sakit yang ditunjuk. Untuk Jakarta hanya ada 2 RS yaitu RS Premier Bintaro dan RS Premier Jatinegara.

Medical check-up bisa dilakukan di hari kerja atau di akhir pekan. Saya memilih untuk datang di hari Sabtu pagi. Test yang dilakukan meliputi rontgent, periksa fisik, urine dan check mata dengan total biaya 760 ribu rupiah dan menghabiskan waktu kurang lebih 1.5 jam.

FYI, medical check up ini hanya untuk aplikan student visa kok. Jadi untuk visa turis tidak harus check up.

Hanya dalam waktu 4 hari kerja saya kemudian mendapat e-mail dari Kedutaan Australia yang menyatakan visa kami di-approve. Visa suami bahkan punya durasi lebih lama dari saya, yaitu 3 tahun. Lumayan, jadi selama saya sekolah dia tidak perlu repot-repot apply visa lagi  😀

O iya, sebagai informasi tambahan, visa Australia sekarang sudah tidak berbentuk stiker yang kemudian ditempelkan di lembaran paspor kita (itulah sebabnya paspor asli sudah tidak ditahan saat apply visa), melainkan sudah electronic-based. Ini sekaligus menjadi kabar baik dan kabar buruk bagi beberapa orang, terutama yang gemar mengoleksi stiker visa di buku paspor 🙂

Tags:
July 4, 2012

(lagi lagi) Visa

Saya belum pernah ke luar negeri sama sekali, baik dalam rangka bisnis maupun bersenang-senang. Bahkan sekedar ke Singapura dan Malaysia saja belum. Paspor pertama saya baru dibuat Februari 2012 lalu. Sejak dulu saya ingin kalau ke luar negeri harus ke tempat yang bersalju. Ya, saya ingin merasakan secara langsung bagaimana menyentuh salju, bagaimana rasanya mengenakan pakaian musim dingin. Jadi jangan heran kalau saya sangat sangat bersemangat menunggu keberangkatan yang akan datang.

Pun saya rasa saya harus bersyukur dengan disetujuinya aplikasi visa saya.

here we go

Tags: ,
June 26, 2012

Visa (is) Approved!!

Pengajuan Visa F-1 dan F-2 saya dan suami sudah disetujui, Alhamdulillah 🙂 Berbekal tulisan teman saya ini saya jadi punya bayangan apa saja langkah yang diperlukan. Selisih 2 tahun dari pengalaman Arga ternyata ada sedikit perubahan.

Saya tiba di Kedutaan Amerika Serikat pukul 6.40. Di sana sudah berderet antrian lumayan panjang. Antrian ini sepertinya ditujukan untuk mengusir orang-orang yang belum punya jadwal wawancara. Saya dan suami hanya ditanya punya jadwal wawancara jam berapa, dan diminta menunjukkan paspor. Setelah itu si petugas mencoret nama kami dari daftar yang dia pegang.

Selama berbaris kami diberi baki untuk meletakkan semua barang elektronik mulai dari MP3 player, iPad, kamera, charger, USB, kunci mobil dengan remote, token bank dan headset. Selain itu benda semacam gunting kuku, silet dan pistol pun dilarang dibawa ke dalam. Seluruh benda elektronik dan senjata didaftar dan kami diberi kartu bukti penitipan barang. Oya, di sini juga semua makanan dan minuman harus dibuang. Tidak boleh dibawa masuk ke dalam.

Antrian kedua adalah antrian verifikasi kelengkapan dokumen. Ada 4 atau 5 loket yang menunggu kita. Kalau aplikasi visa diajukan sekeluarga, sebaiknya maju bersamaan. Di sini ditanya beberapa hal yang mungkin luput diisi selama mendaftar online. Suami saya ditanya nama dan lokasi SMP serta tahun berapa bersekolah di sana. Saya sendiri tidak ditanya apa-apa. Yang harus disiapkan adalah paspor terakhir dan yang lama (kalau ada); satu lembarfoto 5 x 5, form I-20 asli (harus sudah ditandatangani), bukti bayar SEVIS fee, bukti bayar  visa application fee dan lembar DS-160

Selesai verfikasi dokumen, kami diberikan kartu bertuliskan nomor kelompok serta panduan apa yang akan dijalani berikutnya. Beruntung saya dan suami datang berdua. Bayangkan kalau datang sendiri. No Blackberry. No iPad. No handphone. Mungkin sebaiknya bawa buku biasa (bukan e-book reader, maksudnya) supaya tidak bosan. Untung juga di sana bertemu teman seangkatan suami (Hardani, Aju & istri serta Andreas & istri).

Setelah duduk menunggu cukup lama, akhirnya kelompok kami dipanggil (saya dapat kelompok no 18). Loket yang harus kami datangi adalah loket sidik jari. Jangan kuatir, di sini dipandu oleh mas mas petugas kedutaan. Selain loket sidik jari ada lagi loket kasir. Apabila belum membayar bisa bayar di sini.

Nunggu lagi.. nunggu lagi… Berikutnya tahapan yang menentukan apakah anda diberi kertas putih atau kuning atau bahkan merah :D. Saya dan suami diwawancara bersamaan (untuk memudahkan saja). Suami ditanya mau sekolah di mana, jurusan yang diambil apa, nanti gelar yang diperoleh apa, berapa lama di sana,  apakah biaya hidup istri ditanggung juga dan dia minta surat jaminan finansial. Kami sudah menyiapkan surat yang dimaksud (oh, thanks BRI) dan.. ya.. si pewawancara langsung beralih ke saya.

Mr. X:  “where did you married?”  <– kedengarannya “are you two married?” –> hal bodoh sebenernya, tapi memang itu yang saya dengar, LOL

Me:  “YES”

Mr. X: “WHAT?”

Suami: “Ng.. In Jakarta! Here!”

Oalah dia tadi nanya tempat meritnya toh (–“)

Mr. X:  “Can I see your marriage certificate?”

Me:  “Here it is!”

Jadi resmilah saya hanya mengucapkan dua kalimat. “YES!” dan “Here it is”.. Hahahaha.. Sampai sekarang suami masi meledek terus-terusan dan dia komplain kenapa saya hanya kebagian pertanyaan yang mudah-mudah. Hehe, bagianku khan memang menulis.

Setelah itu si bule mengembalikan surat jaminan finansial dan buku nikah kami, dan menyerahkan kertas putih yang berarti permohonan visa diterima.. YES!

Note yang perlu diingat:

Sopan n biasa saja. Petugas kedutaan baik-baik dan ramah. Kita senyum saja, mereka juga akan balas senyum. Asal jangan nyengir ga jelas ya.

Foto untuk yang mengenakan jilbab sebaiknya dengan telinga terlihat. Saya malas mengambil resiko disuruh balik lagi gara-gara foto tidak sesuai, jadi beginilah foto yang saya upload dan bawa. Kalau menyangka foto paspor adalah yang terjelek, maka anda salah! Foto Visa lebih jelek lagi!

Percuma bawa makanan, di penjagaan disuruh buang.

Bawa bahan bacaan ya. Buku atau koran. Percaya deh, bete nunggunya.

Tags: