January 15, 2017

Mendadak Ngartis di Pekanbaru

Bukan, blog post ini bukan cerita tentang saya ditanggap nari Saman atau nari Piring di Pekanbaru. Tapi soal acara pernikahan spesial yang saya hadiri. 

Pernikahan yang bikin saya bela-belain terbang dari Melbourne ke Jakarta lalu lanjut ke Pekanbaru, siapa lagi kalau bukan acara besar adik kandung saya. Saya lega sekaligus senang waktu sang adik pada akhirnya berhasil mengakhiri masa galau atas kejombloannya. 

Jadi ceritanya saya ini empat bersaudara: saya, Sonny, Bagus dan Kukuh. Dari list namanya jelas kelihatan kalau saya paling cantik sendiri khan. Nih buktinya.
 photo 92DC23AF-43F4-48A3-9661-F55DC684D711_zps3ngj2fat.jpg
Sonny yang saat ini bekerja di Pekanbaru sudah menikah dan punya dua anak. Bagus dan Kukuh berdomisili di Jakarta, menempati rumah almarhum orangtua. 

Eh kok ya sewaktu saya di Melbourne trus Alhamdulillah Bagus berhasil dapat jodoh gadis Melayu yang tinggal di Pekanbaru. Tanpa basa-basi, Bagus dan sang calon istri langsung merencanakan pernikahan di bulan Januari ini. Untung juga ada Sonny yang memang tinggal di Pekanbaru jadi beberapa persiapan pernikahan Bagus dibantu oleh adik saya itu.

Singkat cerita, keluarga inti kami yang tinggal berempat akhirnya bisa berkumpul di Pekanbaru bersama keluarga besar almarhum orangtua kami.
 photo 7EB61BA4-FB84-4933-B573-F31E1F623B4D_zps7muy8inh.jpg
 photo 528C7B93-3034-422B-A4DD-7CA5880AFB29_zps1wungy2f.jpg
Ada cerita lucu yang berkaitan dengan keseharian saya yang malas dandan. Jadi biasanya untuk sehari-hari saya ini memang ga pernah pakai make up, bahkan bedak dan lipgloss saja engga. Ke kantor atau kuliah saya hanya pakai Olay Total Effect. Titik. Jadi penampilan saya ya memang gitu adanya.

Nah kali ini mau ga mau khan saya didandani, jadi jelas beda banget dengan keadaan sehari-hari. Hasil karya si Make Up Artist ternyata luar biasa. Sampai saya sendiri juga pangling kalau lihat fotonya. 
 photo 62FF6580-FAF1-4DF4-9476-5402D0D4C03F_zpsv9hi5v5l.jpgSalah satu sepupu komen heboh “Wiii.. Udah kayak artees” photo B9523EAA-25AF-444F-BB6E-33463044F9D3_zpsay8aewuj.jpgTrus tiba-tiba ada yang komentar di Facebook, kurang lebih gini “Mbak, ini cocok deh kalo dijadiin meme jangan remehin cewek pake jeans ke mana-mana. Sekalinya dia dandan.. Kelar idup lo”

Suami mendadak kumat isengnya. Dia cari foto yang paling mblawus di Facebook, digabung dengan foto dandan lalu dikasi tulisan iseng begini.
 photo F61F92D8-5483-4A80-AC7C-3AE09BD01F58_zpstukrbdbu.jpg
Dan saya cuma bisa geleng-geleng kepala

January 12, 2017

3 Kantong Penting untuk Traveling

Sebagai traveller ala-ala kayaknya saya belum pernah bikin blog post soal apa saja yang harus dibawa kalau traveling. Jadi ini dia benda-benda wajib bawa versi saya dan suami:

  1. Kantong Elektronik. Saya sebut begini karena isinya semua yang berhubungan dengan elektronik dan teman-temannya. Power bank, charger, kabel data, memory card, kamera sampai selfie stick.
  2. Kantong Obat. Standar lah ya, isinya obat maag, aspirin, plester dan obat alergi.
  3. Kantong Alat Kegantengan. Isinya sederhana kok, cuma sabun, shampo, sikat gigi, pasta gigi untuk kami berdua. Lalu ada deodoran dan body mist suami, deodoran dan cologne saya, sisir dan krim muka saya. Jadi jangan heran kalau suatu saat denger saya dan suami ngobrol absurd. Suami: “Sisirku mana?”  Saya: “Tuh, di tas alat kegantengan.”

Soal baju, biasanya saya membatasi masing-masing kami membawa maksimal 5 potong. Kalau masa liburan lebih lama dari lima hari berarti harus cari tempat laundry. Ini sampai masuk ke itinerary saya lho, jadi hari ke-sekian saya harus alokasi waktu sekitar setengah hari buat cuci dan mengeringkan baju.

Semua kantong penting di atas plus tumpukan baju harus muat dalam backpack. Sampai sekarang sih saya dan suami kalo ke mana-mana masih lebih suka bawa backpack, walaupun usia sudah tak muda lagi. 

Mungkin ada yang tahu apa hubungan antara backpack dan umur 😈?

January 3, 2017

Tahun Baru 2017 di Sydney

Kalau Tahun Baru 2013 dulu saya habiskan dengan menunggu ball drop di New York City lalu tahun 2014 di Los Angeles, kali ini saya dan suami kencan di.. Sydney! Konon kabarnya kembang api Sydney itu spektakuler dengan beragam pilihan tempat nonton, belum lagi kalau berhasil dapat background Opera House.. Wah!

Dengan iming-iming ini itu dari website Sydney New Year Eve, ditambah lagi kebetulan saya belum pernah ke Sydney akhirnya saya dan suami putuskan untuk tahun baruan di Sydney. Saya berangkat dari Melbourne tanggal 31 Desember pagi sementara suami berangkat tanggal 30 malam. Dua-duanya sampai tanggal 31 pagi, tapi suami tiba lebih siang. Berhubung sampai duluan, saya langsung ambil kereta menuju Sydney Central. Bayangan saya yang namanya Sydney Central itu sama seperti Melbourne Central yang rame dan banyak kafe-kafe lucu. Ternyata salah besar… Sydney Central ga ada apa-apa doonk.

Bete, saya naik kereta lagi menuju Circular Quay. Nah di sini deh baru rame, banyak pilihan makanan dan coffee shop. Suami yang sudah terlanjur turun di Central juga heran melihat Sydney Central yang beda banget dengan Melbourne Central. Dia akhirnya nyusul ke Circular Quay juga.

 photo 20161231_145227-01_zpsqtgvyug9.jpeg

Mulai deh petualangan hari pertama..

Day 1

Kami termasuk nekat sih sebenernya. Rencana mau nonton kembang api eh malah ga bawa persiapan makanan kek, air putih kek, permen atau kuaci kek. Blas ga ada. Kalah sama bule sebelah yang bawa kotak pendingin berisi bir.. Walopun kemudian birnya terpaksa dibuang sih karena ngga boleh bawa bir ke dalam.

Singkat cerita, di dalam area lokasi tujuan saya dan suami hepi-hepi aja kok. Jam 9 malam kembang api family mulai.. Wuah seru!
 photo 20161231_211221_LLS-01_zpsezapo0zj.jpeg

Habis kembang api jam 9, kami duduk manis nunggu kembang api jam 12 yang ternyata.. Keren abis! Please note.. below picture doesn’t do it justice.

 photo 20170101_001557_LLS_zpsapimrv1e.jpg

Day 2

 photo 452EA575-8A7E-4E27-B0BD-22AAC0365F5F_zpsun2ft5g3.jpg

Berhubung baru tidur jam 4 pagi, hari ini kami bangun siang. Belum lagi cuaca mendung yang bawaannya bikin gloomy. Kami sih tetep (lagi-lagi) nekat buat jalan. Jadwal hari itu disusun on the spot: Sydney Opera House, Bondi Beach dan balik lagi buat memotret Sydney Opera House di malam hari.

 photo 20170101_165708-01_zpsjn1jqnwn.jpeg

Ini juga agak mengecewakan soalnya Opera House walaupun cantik tapi ya udah begitu aja. Kita clueless habis itu mau ngapain lagi. Bondi beach juga so so aja. Saya justru lebih menikmati jalan kaki menyusuri pedestal walk Bondi beach-Coogee beach. Kalo di pantainya sendiri.. Ya gitu deh.

 photo 4DC9A15A-1AFD-4E85-AEF2-E4160C15A331_zpswdmgcgeh.jpg

 photo 20170101_184428_RichtoneHDR-01_zpsmtapx8m7.jpeg

 photo 20170101_215716_LLS-01_zps4p3z3yob.jpeg

Day 3

Hari ini kita sewa mobil, perginya bertiga dengan teman dari Indonesia yang kenalan di Syracuse. Jauh ya kenalannya, hahaha. Si teman ini, Tari, dulu juga sering jalan bareng saya dan suami di Amerika. Jadwal kami hari itu menuju Blue Mountains untuk menonton pertunjukan Aborigin di Waradah Aboriginal Culture dan main-main di Blue Mountains. Ini ternyata mengecewakan juga, hahahaha.. Liburan kali ini banyak zzzzz-nya deh. Yang bikin hepi pada akhirnya ya cuma ketemu suami. Kalo yang ini sih sudah pasti selalu hepi.

Kenapa saya kecewa, karena Blue Mountains yang digadang-gadang terlihat keren banget itu ternyata masih kalah cantik sama Ngarai Sianok. Belum lagi karena libur panjang jadi penuh banget. Mau ngapa-ngapain antri, di mana-mana penuh orang.

 photo 2A6CE74C-0A44-4A4B-AC34-23BD02AF00FC_zpshs97aknd.jpg

Day 4
 photo A101A3A3-5F19-4056-8DC6-4A4EF5DC1E04_zpszzzcmrnq.jpgHari ini saya jalan sendiri karena suami sudah pulang ke Jakarta. Acaranya: St. Mary Cathedral, Art Gallery of NSW, Royal Botanic Garden Sydney, Queen Victoria Building dan sekitaran city. Setelah mengantar suami ke bandara, saya lanjut naik kereta dan turun di stasiun Town Hall lalu muter-muter sendiri di sekitarnya. Satu-satunya yang berkesan buat saya adalah kedai kopi pinggir jalan yang terletak di Martin Place.

St. Mary Cathedral bagus buanget, sayang di bagian depan Cathedral sedang ada pembangunan jalan jadi kalau difoto justru tidak kelihatan bagus.

Setelah dari city, awalnya saya berencana mau jalan-jalan ke University of Sydney dan UNSW tapi trus tiba-tiba malas, hahahaha. Jadinya cuma main ke USyd yang Darlington campus saja. Itupun saya cuma tengak-tengok lalu balik lagi ke city. Nafsu jalan-jalan lenyap 😀

 photo 20170103_143443_zpsu1kzccry.jpg

 photo 20170103_144925_zpszkqmcgsp.jpg

Queen Victoria Building lumayan lah. Ini bangunan lama yang sangat terawat tapi interiornya mengingatkan saya pada Plaza Senayan jadi rasanya kurang istimewa. Bangunan lain di dekat QVB, Sydney Town Hall, saat itu sedang ada pembangunan jalan di bagian depannya jadi agak sulit mendapatkan foto gedung yang bagus.

Setelah jalan-jalan sendiri hampir seharian, ternyata saya masih jauh lebih suka pemandangan di Melbourne. Royal Botanic Garden Sydney walaupun bagus tapi masih kalah nyaman dan indah dibanding Royal Botanic Gardens Melbourne. Kalau di Melbourne saya senang tidur-tiduran di pinggir danaunya karena banyak pohon jadi teduh dan angin tetap sepoi-sepoi sementara pinggir Main Pond Sydney kebanyakan hanya bangku-bangku, jarang ada pohon sehingga cenderung panas.

Untuk transportasi, lagi-lagi saya lebih suka Melbourne. Bukan apa-apa, di Melbourne khan transportasi utamanya menggunakan tram yang akan berhenti di setiap halte. Moda transport utama Sydney adalah bus yang belum tentu berhenti di setiap halte. Buat pengunjung yang tidak familiar dengan halte bus, apalagi yang suka nyasar seperti saya, hal ini membingungkan. Oya, tarif transportasi umum di Sydney cenderung lebih mahal dari Melbourne.

Setelah jalan-jalan ke sana kemari, sisa hari ke-4 saya habiskan dengan duduk-duduk menunggu jam 7 sore di Hyde Park sambil minum segelas flat white dari Workshop Espresso. Tepat jam 7, Firefly bus yang saya tumpangi berangkat dari Sydney Central menuju Melbourne. Bye Sydney!

December 28, 2016

Proyek Mencari Istri

 photo Rosie_project_medium_zpsuwiz2dju.jpg

Udah anti sosial, seleranya ajaib, a little bit freak, ngga bisa basa-basi, having obsessive and repetitive behaviours, mau cari istri pula! Bayangkan Sheldon di the Big Bang Theory, kurang lebih seperti itulah gambaran mengenai Don Tilman, seorang profesor di kampus ternama yang berlokasi di Melbourne. Kenapa harus Melbourne hayoo… Ya karena sang pengarang, Graeme Simsion adalah alumni University of Melbourne.

Saya tuh orangnya suka pengenan, sukanya niru-niru. Salah satu orang yang pengen saya tiru adalah Bill Gates. Kenapa Bill Gates? Soalnya dia orangnya sibuk luar biasa, tapi masih sempat baca buku lho. Gila, kok bisa ya. Saya yang suka sok sibuk aja suka banyak alasan buat nggak baca buku atau ngga nge-blog.

Dua tahun lalu saya sudah ngintip review buku Rosie Project ini di blog-nya Bill Gates. Trus udah ancang-ancang juga buat beli dan langsung dibaca. Tapi yang namanya niat hanyalah niat belaka. Terlupakan sampai beberapa tahun kemudian sampai suatu hari saya lagi iseng belajar pakai bahan yang diberikan dosen, kok ada nama yang familiar. Graeme Simsion. Penasaran donk, saya coba googling dan ternyata pak Simsion itu salah satu alumni jurusan saya! Whew!

Bukan hanya itu, Graeme Simsion juga konsultan Information Systems di area data modeling. Makin kagetlah saya.. Aduh, kayaknya seru juga nih beralih bidang dari Information Systems ke novelis. Pengeeeen!!

Kembali lagi ke review buku, akhirnya libur semester ini saya beli juga buku pak Simsion yang langsung dilalap habis dalam 3 jam. Bukunya lucuuu!! Banyak joke cerdas nan sarkas tentang cara pandang si tokoh utama, interaksi sosial, konflik dan juga cara si tokoh menyelesaikan masalahnya.

Don Tillman is socially inept. He describes himself as the one who incompatible with women. He fails to acquire social skills, doesn’t know how to interact properly, he even assesses person based on their body mass index (BMI). Then one time, dang! He feels the need to find a wife. Not girlfriend, a wife! He began his own project: Wife Project, method to find the suitable woman based on questionnaire. I know, right.. It’s crazy!

Trus kuisionernya kayak apa, siapa saja yang mau ngisi, berhasil dapat istri sesuai kriteria nggak? Penting ini buat dibaca sendiri. Ngga rugi kok, walaupun genre-nya komedi romantis tapi diceritakan dengan cara smart dan ngga menye-menye. Cara nulis kayak gini nih yang saya mau 😀

Tags: