September 22, 2016

9 Perbandingan Unimelb vs SU

Kali ini saya ingin cerita sedikit mengenai perbandingan kampus saya dan suami: University of Melbourne (Unimelb) vs Syracuse University (SU). Hal yang dibandingkan cukup random mulai dari mata kuliah, perpustakaan, vending machine sampai kuota printing.

  1. Mata kuliah. Saya dan suami mengambil jurusan yang sama jadi mata kuliah yang ditawarkan di kedua program ya kurang lebih juga sama. Ada Project Management, ICT Infrastructure, Consulting, Governance dan masih banyak lagi. Buat yang kepo, silakan klik link Unimelb dan SU ini untuk tahu kami belajar apa saja. Tapi ya, walaupun sudah ada gambaran mengenai kuliah, terus terang saya agak tertatih-tatih buat bisa catch-up. Belum lagi assignment dan group work yang segambreng itu. Lah terus malah curcol.
  2. Internet quota. Saya lumayan kaget saat tahu kalau di Unimelb ada internet kuota maksimal 1 GB per minggu. Kuota ini akan di-reset setiap hari Minggu. Sependek ingatan saya, SU tidak ada membatasi kuota buat internetan. Hmmm.
  3. Printing quota. Fasilitas printer di kedua kampus tidak disediakan gratis. Saya lupa persisnya berapa biaya print di SU, yang jelas SU agak murah hati di sini karena setiap mahasiswa baru diberi saldo awal 20 dolar buat nge-print, yang sudah termasuk dalam cakupan tuition fee. Sementara mahasiswa Unimelb? Nil!
  4. Keran air minum. Amerika pada umumnya dan SU pada khususnya cenderung royal dalam menyediakan fasilitas air minum, mulai dari di dalam gedung, perpustakaan, sampai di dekat ruang kuliah. Sementara di Unimelb keran air terbatas dan beberapa titik agak tersembunyi.
  5. Harga makanan kecil di vending machine. Cemilan di Amerika murah! Permen, cokelat, cola, semua masih bisa dibayar di bawah 3 dolar, sementara di Unimelb lebih mahal. Ada sisi positifnya sih, saya jadi males jajan di vending machine.
  6. Aturan perpustakaan. Wah, perpustakaan di Unimelb lebih strict. Food is restricted, only no smell and no greasy ones allowed. Sementara dulu di SU, biasanya saya malah membekali suami dengan mie goreng. Tahu sendiri khan kalau mie goreng dibuka pasti aromanya ke mana-mana.
  7. Citation. SU menganut APA citation sementara Unimelb mengadopsi Harvard style. Awalnya agak susah juga membiasakan diri dengan Harvard citation, karena saya sudah terbiasa dengan APA.
  8. Mayoritas murid. Teman suami saya dulu kebanyakan datang dari India sementara teman saya mayoritas Chinese. Ada satu hal lucu yang saya alami. Sewaktu saya bertanya ke teman satu group “Ayo, siapa yang mau presentasi nih?” Mereka otomatis menatap saya. “Your English is better than us.” kata salah satu teman. Suami saya hanya berkomentar simple. “Yang kayak gitu nggak bakal kejadian kalo temenmu India. Mereka malah berlomba-lomba pengen tampil presentasi soalnya buat diri mereka sendiri juga, latihan untuk wawancara kerja.”
  9. Turnitin. Kedua kampus kami sama-sama memanfaatkan fasilitas Turnitin untuk mendeteksi plagiarism. Jadi setiap pengumpulan tugas kami harus upload tugas ke tombol Turnitin yang disediakan di Blackboard. Sejauh ini lecturer saya tidak ada yang mengijinkan mahasiswa tahu berapa persen similarity tugas yang di-submit. Berbeda dengan di kampus suami dulu, di mana setiap kali mahasiswa upload tugas langsung muncul persentasenya. Saya belum tahu sih apakah semua lecturer seperti itu atau hanya lecturer yang saat ini saya ambil yang memilih kebijakan ini. Saya sendiri cukup yakin dengan level authenticity hasil kerja saya jadi tidak terlalu khawatir. Tapi khan kadang penasaran juga, berapa persen sih kemiripan kerjaan saya dengan hasil karya orang lain.

Kira-kira itu sih yang bisa saya ingat. Mungkin seiring berjalannya waktu nanti saya bisa menambahkan poin-poin lain untuk jadi bahan blog posting berikutnya😀

September 17, 2016

Tentang Kesepian

Post kali ini agak mellow, jenis blog post yang jarang saya buat di sini. Terinspirasi dari perbincangan dengan teman-teman Saman sambil makan malam yang agak terlambat semalam. Masing-masing bercerita soal pengalamannya di bulan-bulan pertama di Melbourne. Namanya juga pindah ke tempat baru, tanpa teman, suasana asing, pasti ada yang terasa kurang pada awalnya.

Saya jadi mengingat-ingat masa yang sama buat saya beberapa bulan yang lalu. Saat itu kondisi saya agak berbeda. Tahun 2012 saya pernah tercerabut sesaat dari comfort zone pindah ke suasana baru yang ternyata tidak kalah comfort-nya. Bedanya saat itu saya tidak sendiri karena konteksnya menemani suami yang sekolah ke Amerika. Ya jelas saja nyaman wong dulu itu bukan saya yang sekolah jadi everyday is holiday😀.

Sewaktu di Amerika saya sangat terbantu sekali dengan adanya suami jadi rasa kesepian tidak pernah ada. Rasanya kalau butuh apapun, ada hal yang mengganjal soal apa saja selalu ada suami yang siap menanggapi kadang dengan serius, kadang juga ya gitu deh.

Saat terasing atas keinginan sendiri untuk kedua kalinya, jujur saja rasanya sedikit gamang. Begitu melepas suami di bandara rasanya kok hati terasa kosong mendadak dan kesepian. Saya merasakan hal itu sampai beberapa hari kemudian, sampai-sampai saya berusaha tiap hari keluar seharian dan baru akan masuk apartemen kalau sudah capek supaya bisa langsung tidur dan tidak merasa sepi.

Kondisi apartemen yang masih belum ada wifi juga tidak membantu sama sekali. Komunikasi dengan suami hanya terjalin lewat Telegram, tanpa bisa video call. Limitasi kuota internet di handphone membuat saya harus mencari wifi gratis kalau mau video call.

Tapi semua itu terbantu dengan adanya Sanggar Bhinneka, klub tari yang saya ikuti saat ini. Teman saya berkomentar bahwa keputusan untuk langsung join di minggu kedua saya menjejakkan kaki di Melbourne besar pengaruhnya pada mental health condition sebagai mahasiswa baru karena di sini saya bertemu teman baru dan langsung sibuk secara fisik.

photo680071495836346789_zpsl4olqe4v

Hal-hal yang suami saya khawatirkan memang betul terjadi sih. Dia khawatir saya akan kesulitan membaca peta dan menentukan arah saat mencapai tujuan baru. Alhamdulillah sampai sekarang kadang saya masih nyasar. Harusnya naik tram ke arah Barat, saya malah ke Timur. Harusnya pas turun tram saya ke kanan, ini malah belok ke kiri. Ya yang begitu-begitu deh. Untunglah selama ini tidak pernah sampai jadi masalah besar.

Teman-teman saya pokoknya sangat menekankan pentingnya langsung punya kesibukan begitu sampai di tempat baru, karena kemungkinan untuk menghadapi masalah kesepian atau merasa sendiri itu cukup besar.

Sebagai penutup, bagi yang ingin mengintip seperti apa sih latihan Saman itu, silakan klik video di bawah ini ya.

 

September 12, 2016

Welcome Dinner Project – Melbourne

Bertandang ke rumah penduduk asli Australia, membawa makanan favorit kita dan sekaligus berkenalan dengan sesama pendatang baru dari negara lain sambil mencicipi hidangan asli mereka, jelas merupakan ide yang tidak bisa saya tolak.

14241416_1729138010682853_2219896756224115790_o_zps3kyo6tcc

Berawal dari sebuah sesi di perpustakaan kota yang saya ikuti bersama sesama teman PK-53, kami baru tahu kalau ada sebuah organisasi yang memungkinkan semua hal di atas terwujud. Welcome Dinner Project, sesuai dengan namanya memang membawa misi untuk menyambut para pendatang baru ke benua ini.

Website komunitas ini menyebutkan langkah apa saja yang harus diikuti untuk bisa hadir dalam dinner bareng, yang dalam case kali ini berupa lunch, bukan dinner. Welcome Lunch yang kami hadiri diadakan di Coburg, kira-kira 20-25 menit naik tram dari Melbourne CBD. Saya dan Sofie, si teman PK-53, berangkat bareng Rio, housemate Sofie yang ternyata juga mendaftar untuk acara yang sama.

Malam sebelum berangkat kami bertiga masak bareng, heboh gitu deh di dapur rumah Sofie dan Rio. Rendang, rujak dan perkedel jagung jadi perwakilan Indonesia dari kami bertiga. 14205929_1729137954016192_8224382746903562588_o_zpsjduw6ysm

Sesampai di lokasi, kami disambut ramah oleh fasilitator acara. Tiap orang diberi stiker untuk menuliskan nama dan minat masing-masing. Well, tidak terlalu lama kemudian kami pun sibuk ngobrol sana-sini.

Setelah pembukaan sedikit, kami berkumpul mengelilingi meja makan dan diminta untuk memperkenalkan masakan yang terhidang di meja. Saya sih cuma sedikit cerita kalau biasanya rendang ini disajikan dalam perayaan tahunan di Indonesia, Idul Fitri. Setiap ada yang cerita tentang masakannya saya menyimak hati-hati, jangan sampai ada yang sebaiknya tidak saya makan. Untunglah mayoritas membawa salad dengan beragam jenis dan dessert jadi cukup amanlah buat saya.

f19a4b9b-bd8e-48d4-8cf9-8a28b0e0c896_zpsdwkt5wlt

Tamu yang hadir berasal dari bermacam negara, jadi tidak heran juga kalau makanannya bermacam-macam. Negara yang saya ingat hanya Australia, Taiwan, India, dan Swedia. Selain Indonesia, tentunya.

Perkenalan selesai, berikutnya saatnya: makan!

Mau lihat penampakan di piring saya? Surprisingly, beragam jenis makanan ini bisa tertata cantik lho.

d631821b-ff4d-4aef-a472-14ddddb66fb1_zpsyk7jhguw

Rasanya wow.. Enak banget! Siapa sangka kalau nasi merah dan sayuran bisa terasa yummy. Belum lagi salad-salad-an yang selain sehat juga ternyata nyam banget.

Foto di bawah ini sepertinya diambil waktu saya masuk ronde kedua ambil makanan.

14352400_1729137960682858_7914844073550334787_o_zpshiyr1b38

Setelah kenyang dengan berpiring-piring makanan, masing-masing pengunjung diberi callout paper dan diminta untuk menulis apa yang dirasakan saat itu, boleh ditulis dalam bahasa apa saja. Saya jelas menulis: SENANG! Selesai menulis, semua menceritakan alasan dari kata yang ditulis itu. Hmm, mungkin harusnya saya menulis KENYANG SENANG ya, hahaha!

14322718_1729137844016203_9147579515371776201_n_zpsyyapbffz

Foto diambil dari halaman facebook Welcome Dinner Project Victoria di link ini.

August 19, 2016

First Performance with Saman Bhinneka

13938270_10206613988738612_4612156951179892857_o_zpsoba7njbo

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-71 dari Melbourne! Tujuh belas Agustus tahun ini istimewa buat saya karena untuk pertama kalinya ikut tampil menari Saman di Melbourne.

Jadi ceritanya saya, Ica dan Evelynd dari PK-53 memang sudah ikut latihan Saman untuk penutupan PK pada Januari lalu. Kebetulan kami semua sama-sama kuliah di Melbourne. Makanya begitu sampai di sini Evelynd langsung mengajak saya dan Ica untuk gabung ke group Whatsapp Bhinneka, sebuah sanggar tari di Melbourne.

Begitu tergabung dalam group Whatsapp, kami ditawari untuk ikut tampil dalam perayaan tujuh belasan. Jelas ini kesempatan yang tidak boleh ditolak, apalagi kebetulan di hari dan jam itu sedang tidak ada kuliah. Jadilah saya sudah langsung ikut latihan Saman di minggu kedua mendarat.

Latihan demi latihan dijalani dengan hasil paha, lutut dan telapak tangan saya sampai biru lebam kayak habis kena gebug. Setiap kali habis latihan saya susah payah naik tangga di apartemen. Menuruni tangga perpustakaan kampus saja saya harus melangkah satu-satu sambil berpegangan sandaran tangga. Haduh, inilah hasilnya kalau tidak pernah olahraga dan jarang minum susu.

Di hari H, 17 Agustus siang kami seluruh tim penari lengkap dengan penabuh gendang dan penyanyi ramai-ramai menuju lokasi pertunjukan di Federation Square. Fed Square ini merupakan public space yang terletak di seberang Flinders Station dan tram station. Rame? Banget!

Kalau penasaran mau lihat video pertunjukannya, klik link ini ya!

13996109_10206613959417879_4278924309594746017_o_zps0tuizzp3807d801f-6708-4b76-863c-2136ee57cf6f_zpspxfoftqfb6324e35-56a7-475f-b01b-78cab93ac464_zps8tbzbdo60804fa87-af2e-4287-a986-98af1d884a4b_zpspdabsz3rd593db92-3efa-43ef-937e-99bd3c54cee7_zpsxsfbdhhu799000a0-22c0-4ad1-a54b-35ee0ec023c2_zpscqygfp28

Bagi yang tinggal di Melbourne dan ingin ikut bergabung dalam Sanggar Bhinneka bisa cek halaman Facebook Bhinneka . Jangan khawatir bagi yang belum pernah menari Saman sebelumnya. Pasti diajari step by step kok. Yuk!

Photo credit: Evelynd and Bhinneka team