September 4, 2017

Cross-cultural Management & Teamwork

Bingung ga kalo pertama kali ketemu orang, tahu-tahu tuh orang nyium pundak kita? Atau si orang itu ditanya apa aja jawabannya selalu “Yes! Yes! Yes!”. Atau orang itu very very touchy, dikit-dikit nepuk lengan, atau nyolek punggung tangan, atau apapun itu.. pokoknya selalu nyentuh kita.

Deskripsi di atas itu adalah salah satu roleplay yang dimainkan dalam mata kuliah Cross-cultural Management & Teamwork, mata kuliah elective yang saya ambil semester ini. Ceritanya ada sebuah kota yang lagi tertimpa musibah: jembatan kota mereka rubuh dan mereka butuh bantuan engineer buat ngebangun lagi.

Seisi kelas dibagi jadi dua: ada yang jadi penduduk kota D dan jadi engineer. Saya kebagian peran jadi penduduk D yang punya kebiasaan yang aneh kayak yang diceritain di awal post ini. Nyentrik khan? Pertama kali ketemu engineer, mereka terbengong-bengong dan ngga tau harus respons apa. Lama-kelamaan trus mereka ketawa, geli sendiri dan beberapa akhirnya ngikut juga njawab “Yes! Yes! Yes!”. 

Lesson learned dari aktivitas ini adalah gimana cara kita respon kalau ketemu orang yang kebiasaan dan tata cara berkomunikasinya beda sama kita. Menolak? Bingung? Menerima? Adaptasi pelan-pelan? Atau gimana?  Trus kalopun kitanya beradaptasi, sejauh mana mau mengadop kultur mereka?

Menarik khan?

Besoknya, kita masuk kelas lagi dan ngebahas teori-teori yang berkaitan dengan cross-cultural ini.  Format mata kuliah ini adalah intensive class: setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu dari jam 9 pagi sampe jam 16.30. Buat yang bekas kuli kantoran mah jam yang kayak gini ngga ada apa-apanya ya. I thought so, but no.. Totally wrong! In the end of the day I felt exhausted. Mungkin karena sepanjang hari harus fokus, ngomong, berpartisipasi, otak dipaksa kerja terus-terusan… Jadi setiap habis kelas rasanya badan kayak habis digebukin.

Balik lagi ke soal mata kuliah, materi yang diajarin menarik banget. Kurang lebih materinya soal globalisasi, culture, how to communicate and resolve problem, negosiasi, kolaborasi dan meeting. Trus juga assignment-nya mengenai kasus nyata trus kita disuruh menganalisa berdasarkan teori dan pengalaman yang pernah didapat selama kerja atau kuliah.

Untung aja kelas ini cuma terdiri dari 12 sesi di mana sehari ada 2 sesi: sesi pagi dan sesi siang. Total waktu yang dibutuhkan untuk 12 sesi itu sekitar dua pekan. Walopun cuma dua minggu, tugas-tugas berikutnya cukup banyak dan ngabisin waktu. Tapi paling enggak saya sekarang lega, cuma tersisa tiga kelas lagi semester ini. Yess!!

Advertisements
August 20, 2017

Busy August

OzCHI student 24 hour design challenge, Unimelb Open Day, intensive class during Friday, Saturday and Sunday.. All those three pretty much drain my energy, in positive way. 

Makanya saya menghilang dari manapun, sosial media (Facebook, Instagram, Twitter dan Path), ngilang juga dari latihan nari (hiks), trus ngilang juga dari WhatsApp Group. Kalo mau nyari, saya biasanya bertapa di perpus. Cuma kuliah dan mushala yang bisa menarik saya keluar dari perpustakaan.

OzCHI student 24 hour design challenge

photo6088926078878984176
Saya dan Yolanda. Foto diambil sekitar jam 4 pagi

Semester ini saya ambil mata kuliah yang namanya User Interaction Design yang ngebahas gimana sih sebenernya desain aplikasi yang ga cuma menarik tapi juga gampang digunakan user. Bu dosennya mendorong mahasiswa yang ambil mata kuliah ini buat ikutan kompetisi desain yang berlangsung selama 24 jam.

Saya diajak Yolanda, temen sesama LPDP yang kebetulan ambil kelas yang sama buat ikutan kompetisi ini. Trus kebetulan ada tiga anak Chinese yang mau-mau aja kita seret buat ngikut lomba. Jadilah tanggal 12 Agustus kemarin kita berlima begadang rame-rame di kampus buat ngerjain desain aplikasi ini.

photo6088926078878984177

Ki-ka: Cathy, Yolanda, Joyce, Jingjing dan saya

 

photo6111894103689111497

no further explanation needed

Hasilnya gimana? Baru akan diumumin sekitar Oktober nanti. Yang penting udah berhasil submit aja juga udah bikin lega. Nambah pengalaman baru 😀

Unimelb Open Day 2017

Di Australia sini udah jamak kalo kampus-kampus membuka diri buat umum, nyediain beragam informasi soal jurusan yang ada, mata kuliah apa aja, trus juga peluang dapat kerja setelah kuliah di sini. Jual diri, gitu istilah yang jadi guyonan saya dan beberapa teman. Di hari yang namanya Open Day itu, kampus literally membuka diri buat didatangi semua orang. Pengunjungnya bukan cuma dari Melbourne aja, tapi dari luar Victoria, bahkan ngga sedikit keluarga yang sengaja datang dari Cina buat dateng ke Unimelb. Gileee, niat banget ya.

Event raksasa ini jelas aja butuh banyak sumber daya manusia. Di sinilah para pemburu benda gratisan berkeliaran buat jadi sumber daya gratisan juga, alias jadi volunteer. Yeeeeaaa, I’m volunteering in this event for the sake of free university jacket! Hahahaha..

photo6111894103689111496

Seru juga sih jadi volunteer begini soalnya saya jadi banyak senyum, nyapa orang dan punya kenalan baru. Walopun saya kudu jungkir balik disambi kuliah intensif dan ngejar deadline assignment. 

photo6109578364697290702

Bareng Nina yang anak LPDP juga, MIS juga, dan sama-sama volunteering juga

 

photo6109578364697290696

With Laura, my chit chat partner during volunteering session

Intensive Class

Kelas intensif pertama saya! Judul mata kuliahnya: Cross Cultural Management and Teamwork. Sumpah ini kelas melelahkan banget, tapi juga fun fun and fun! Saya dikasih petuah sama temen kantor lama yang juga alumni MIS Unimelb. Dia bilang gini:

“Ambil kelas Cross Culture, Put. Mengenal budaya-budaya. Bakal tau kenapa orang Cina suka makan dulu baru ketemu. Orang Perancis suka motong pembicaraan. Orang Oz, orang Singapore, orang Indonesia, orang India..”

Wah, saya mah anaknya gampang dipengaruhi. Dikasitau begitu, semangat deh buat ambil walopun bisa dibilang saya sendirian. Habis ga ada anak MIS yang tertarik ambil mata kuliah ini. Ya udahlah ya, nekat aja daftar. Saking menariknya kelas ini, saya ngga mau bahas panjang lebar di post ini. Pengennya saya bikin blog post terpisah aja, walopun sambil mikirin kira-kira sempet ngga nih nulisnya. Let’s see 😀

July 28, 2017

Hated in the Nation

Merinding. Tenggorokan langsung kerasa ga enak buat nelen. Itu yang saya rasakan kalo inget Hated in the Nation, satu episode gila Black Mirror. Black Mirror ini adalah serial British yang sekarang bisa ditonton di Netflix.

Spoiler alert

Black-Mirror-3x06.2

Misalnya nih kita punya kemampuan buat mengenyahkan public enemy dari muka bumi dengan cara sesakit-sakitnya dan tempo sesingkat-singkatnya hanya dengan hashtag twitter, kira-kira kalian mau ambil kesempatan itu ga? Ini bener-bener simple, cuma ketik hashtag #deathto trus post ke social media, niscaya dalam 24 jam orang itu bakal menderita. Salah satu korban bahkan rela memotong tenggorokannya sendiri demi menghilangkan rasa sakit yang dialami.

Gimana engga, bayangkan ada seekor lebah yang masuk melalui telinga, langsung menyelinap mencari jalan ke pengatur pusat rasa sakit di otak dan bertengger di sana sampai si korban mati.

Ga ada resiko ditangkap polisi lho.

Mungkin bakal ada yang langsung mau dan membanjiri timeline dengan hasthtag itu. Terbukti dengan ternyata ada 300 ribuan orang yang memanfaatkan peluang ini buat membunuh orang yang ga mereka sukai. Sayangnya para pembunuh ini ngga tahu bahwa mereka juga akan mati dengan cara yang sama.

Sinting. Pardon my French, but this is the most disturbing and thought provoking Black Mirror’s episode. Sampai sekarang, walopun udah beberapa waktu berlalu, kalo inget cerita episode ini saya selalu ngerasa ngga enak.

Trus kenapa sampai dijadiin blog post? Simply because of class assignment! Salah satu mata kuliah yang saya ambil semester ini tuh namanya Impact of Digitisation, yang rinciannya bisa dicek di link ini. Sering kita singkat dengan sebutan Impact, subyek ini ngebahas soal efek teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.

Kerennya lagi, Black Mirror dijadiin salah satu rekomendasi dosen buat ditonton. Nih, lihat nih Subject Guideline Impact. Mungkin saking sintingnya cerita-cerita Black Mirror kali ya.

Black MirrorGara-gara ini juga saya selalu excited kalo mo kuliah Impact. Ini baru Week 1 aja saya udah semangat buat milih presentasi di Week 3(!), yang menurut beberapa teman termasuk nekat.. Hahahaha…

July 25, 2017

Melbourne. Setahun.

IMG_1457Ga kerasa bulan ini ternyata saya udah setahun di Melbourne. Gila, time does fly. Boleh diputer ulang lagi ngga? *Maunyaa …

Rasanya baru kemarin mendarat di Melbourne Tullamarine International Airport bareng suami. Baru kemarin saya antri buat daftar dapetin student card trus langsung saya foto berdampingan dengan student dependent card saya.

Selama setahun, apa aja yang udah saya alami? Diurut satu-satu aja kali ya.

Traveling

Obsesi pribadi saya: menginjakkan kaki di semua states dan territory Australia. Di sini ada 6 states: New South Wales (NSW), Queensland (QLD), South Australia (SA), Tasmania (TAS), Victoria (VIC) dan Western Australia (WA).

Selain state, ada lagi yang namanya  territory, yaitu Northern Territory (NT) dan Australian Capital Territory (ACT). Sejauh ini saya baru main ke NSW, QLD, SA, TAS dan VIC tentunya. Masih kurang WA, NT dan ACT.

DSCF2172

Granite Island, SA

Credit photo: Davian 

 

IMG_1905

Granite Island, SA

 

DSCF2166

Granite Island, SA

 

ARYJ9647

Brisbane, QLD

 

IMG_4388

Hobart, TAS

 

IMG_4308

Hobart, TAS

 

YDUS1864

Sydney, NSW

 

IMG_3180

Williamstown, VIC

Long-Distance-Marriage

Bagian ini nih yang paling ngga enak dalam kehidupan di Melbourne. Seandainya bisa, maunya sih saya juga ga pake LDR-an segala. Sampai sekarang kami sama-sama mengusahakan supaya bisa ketemuan langsung tiga bulan sekali. Walopun tiap ketemu ga pernah lama, hanya sekitar empat hari, tapi lumayan deh daripada ngga ketemu sama sekali.

Kira-kira kapan ya pintu ke mana saja-nya Doraemon beneran diciptakan. Jadi nggak akan ada lagi tuh yang namanya pejuang LDR.

Perpustakaan

GIHJ2233

Online group meeting

Tempat favorit saya, mana lagi kalo bukan di perpustakaan. Betah deh saya seharian ngendon di perpustakaan. Biar ga bosen, saya kadang pindah meja, pindah komputer, atau bahkan pindah perpustakaan sekalian. Enak kalo punya kampus yang perpusnya banyak, masing-masing spot bisa dicobain satu-satu.

Sssst.. Temen saya malah ada yang berhasil gaet cowok native buat jadi pacar gara-gara tiap hari ngendon di perpus. Buat yang jomblo, lumayan banget tuh, hihihi.

Refreshing

Apa lagi kalo bukan nari. Sesibuk apapun, sebanyak apapun assignment yang datang, kalo udah diajak latihan nari mah saya langsung hayuk aja.

q

IMG_5076

Kopi

Melbourne ini surganya kopi. Serius deh, kedai kopi enak bertebaran di mana-mana. Mau yang di sekitaran kampus, di tengah kota, suburb atau manapun pasti ada aja kopi yang nikmat. Favorit saya? Flat white di Market Lane, kalo lagi di CBD, atau flat white di House of Cards, kalo lagi di kampus

IMG_5156

House of Cards, salah satu coffee shop di Unimelb

Jadi kalo ditanya, nyesel nggak sekolah lagi? Jelas enggak. Terlalu banyak hal-hal bahagia ketimbang pengalaman yang bikin sengsara, walopun ngga bisa dipungkiri ya ada juga hal nggak enaknya sih. Tapi cerita-cerita sedih cukup dibagi ke suami aja, nggak perlu di-share, hehehe.